{"id":98247,"date":"2021-01-08T06:23:07","date_gmt":"2021-01-07T23:23:07","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=98247"},"modified":"2021-01-07T21:22:09","modified_gmt":"2021-01-07T14:22:09","slug":"ritual-memutari-ring-road-jogja-wahana-pelepas-galau-ala-muda-mudi-setempat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ritual-memutari-ring-road-jogja-wahana-pelepas-galau-ala-muda-mudi-setempat\/","title":{"rendered":"Ritual Memutari Ring Road Jogja, Wahana Pelepas Galau ala Muda-mudi Setempat"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pasca patah hati, saya mencoba tradisi ala muda-mudi setempat ketika ambyar, yakni memutari Ring Road Jogja\u2014sebuah jalan arteri yang memeluk Kota Istimewa ini. Entah bagaimana ceritanya, muda-mudi Jogja seakan mufakat tanpa harus mengadakan rapat bahwa<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mubeng-ring-road-adalah-tradisi-kawula-muda-jogja-menghilangkan-kesedihan\/?fbclid=IwAR24y-sDzuPMZn9ZwD0eDrmjUUc-j0eCgLtd7g0jwYF1LtGlSs0q-2FYxOU\"> <span style=\"font-weight: 400;\">mubengi Ring Road<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> ialah mediator terbaik untuk melepas ambyar di dada.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya kira hanya konsep, ternyata hal ini memang benar apa adanya. Memutari Ring Road Jogja, bukan bermaksud meromantisasi ya, bisa dibilang area wisata bagi warga lokal. Lha gimana lagi, kata Pemerintah Kota Jogja kan warganya jangan plesiran ke area Tugu. Iya sih iya, di sana itu memang area untuk wisatawan. Kami paham kok, Pak dan Buk. Jadilah Ring Road Jogja sebagai pelepasan dendam kesumat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya mencoba tradisi kawula muda Jogja ini beberapa hari yang lalu. Saya galau skripsian dan pacar saya galau progres projekannya. Lantas saya menawari media yang-yangan sesuai protokol kesehatan, \u201cMuterin Ring Road Jogja, yuk? Katanya bisa melepas galau. Lak yo galau nggak musti perihal cinta, to?\u201d Setelah beberapa pertimbangan, dirinya menyetujui.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Helm, masker, hand sanitizer, dan pembatas sekat antara orang boncengan kami gunakan. Saya kok jadi mikir, ini orang yang-yangan kok bentuknya lebih mirip kayak ojek online lagi ngantar penumpang, ya? Tapi, nggak masalah. Apa salahnya dianggap ojek online? Semua profesi itu hormat tanpa sekat. Panjang umur kelas pekerja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kami memulai dari area Jalan Bantul. Lalu ke Barat ke arah Gamping. Sepanjang perjalanan saya berhati-hati walau jam sebelas malam, sepi nggak bisa diganggu gugat kedigdayaannya. Beberapa menit, kok galau saya nggak hilang, ya? Justru kepikiran bab 4 yang nggak beranjak ke mana-mana. Pacar saya pun sama saja, ia masih mikir tentang proyeknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepanjang perjalanan setelahnya, ketika roda-roda motor kami sudah menggelinding di area Gamping dan beringsut ke arah Utara, pacar saya nggak habis-habisnya merangsang insting ngegombal saya. Pitikih. Lagi stres mikirin skripsi je malah disuruh mikir. Katanya, \u201cMas, nek Bandung itu terbuat dari rindu, maka Pleret itu terbuat dari apa?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya kemekelen sebentar, seselo itu dirinya bertanya tentang daerah itu. Lantas saya jawab, \u201cPleret diciptakan Tuhan saat Ia sedang tegang.\u201d kata saya menciptakan keheningan sesaat. Beberapa super-second setelahnya, ia bertanya kenapa ketegangan dan saya menjawab, \u201cKarena njeblas dikit bakalan ketemu Tanjakan Cino Mati.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ia tertawa. Untung saja ia paham daerah Bantul. Tanjakan Cino Mati itu adalah sebuah tanjakan yang acapkali fotonya diposting di Info Cegatan Jogja. Entah itu rem blong atau mobil yang nggak kuat menanjak. Tanjakan itu menakutkan puol. Hampir menyerupai tanjakan di Rock Bottom-nya Spongebob.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Condongcatur menyapa kami. Galau saya belum hilang seutuhnya. Ia malah bilang begini, \u201cKalau ke sana (arah Magelang), itu rumahku, Mas.\u201d entah berapa kali ia membanggakan daerah asalnya itu. Daerah yang katanya dia, terbuat dari Borobudur, Artos, dan Agus Mulyadi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sakjane pengin bilang begini, \u201cMagelang itu Kota Sejuta Bunga, betapa kasihannya sekarang nama kota itu nggak bisa digunakan karena satu bunganya singgah di bumi Jogja.\u201d Namun, saya urungkan, bukan karena malu, tetapi hujan deras mengguyur kami ketika kami melewati Jembatan Layang Janti.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kami berteduh di salah satu warung klontong tutup di bilangan Blok O kompleks TNI AU. Bersama dengan muda-mudi lain, ada mas dan mbak yang kebetulan sendirian. Wajah-wajah mereka lelah. Ternyata kami nggak sedang menjalani ritus galau ala muda-mudi Jogja sendirian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam lindungan teras sebuah toko, akhirnya kami bercerita, dapat apa saja selama memutari Ring Road Jogja. Hasilnya ya nihil, saya nggak dapat rasa lega, pun dirinya nggak merasakan ringan bebannya dari tuntutan proyekan. Lantas kami tertawa, kok ya bisa pekok banget muterin Ring Road Jogja yang begitu luas, mengitari pinggiran kota yang beririsan tipis dengan Bantul dan Sleman, buang-buang bensin, demi tujuan yang kelewat sia-sia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Ring Road Selatan, setelah kami memutuskan membelah gerimis, perut kami pun menyatakan tanda bela sungkawa atas keroncongannya cacing-cacing di perut saya. Di sekitar Terminal Giwangan, kami membeli mie Magelangan. Di sebuah gerobak kecil yang masih penuh mi-nya, saya bisa taksir si pedagang belum dapat pembeli dari sore. Coba jualan di area Tugu, Pak. Ah lupa, Tugu kan area wisata. Bukan tempat rakyat seperti kami.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ia bercerita bahwa di Magelang itu nggak ada yang namanya mi magelangan. Adanya <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/penulis\/agm\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">Agus Magelangan<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Ini kali kedua nama Mas Agus diucapkan. Saya nggak cemburu, tapi kalah tanding, lha saya kira hanya saya je fans Agus Mulyadi yang paling die-hard, jebul masih ada lagi yang lebih militan. Menyangkut pautkan semua yang berbau Magelang dengan sosok Agus Mulyadi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan santainya, saya nimpali, \u201cDi Jogja ya nggak ada itu namanya Gudeg Jogja. Adanya ya gudeg tok, nggak ada embel-embel nama kotanya.\u201d Dengan wajah paling ndlogok, ia hanya bilang, \u201cWeh iya juga, ya?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhirnya memutari Ring Road Jogja itu bukan perkara melepas galau berkepanjangan, namun tentang bagaimana caranya saja. Misal ngobrol seperti saya, ada juga yang menangis, atau membaca dan mengumpat sampah-sampah visual di setiap perempatan. Keselamatan adalah nomor satu. Pun dari situlah galau kemudian lepas, menjadi perasaan paling lega.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya hanya melihat lampu-lampu kota pinggiran Jogja yang mulai meremang. Pinggiran yang terlupakan, pinggiran yang dimarjinalkan. Bersama dirinya yang sedang makan mi magelangan, saya berbicara pelan di lampu petromak bakul mie dhokdhok yang berpendar. \u201cDik, aku kayaknya aku sudah nggak galau, deh.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLah, bagus dong. Terus masalahnya apa?\u201d tanyanya, nggak memperhatikan saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLha ya ini, galau hilang, masuk angin datang.\u201d lantas tersedak mi magelang adalah harga yang nggak bisa ditawar-tawar oleh salah satu kembang dari Kota Magelang.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/luang-prabang-adalah-kota-terbaik-di-asia-tenggara-untuk-tujuan-bulan-madu\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Luang Prabang Adalah Kota Terbaik di Asia Tenggara untuk Tujuan Bulan Madu <\/a><\/strong><strong>d<\/strong><strong>an tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/gusti-aditya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Gusti Aditya<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Memutari Ring Road Jogja, bisa dibilang jadi area wisata bagi warga lokal. Saya kira hanya konsep, ternyata hal ini memang benar apa adanya. <\/p>\n","protected":false},"author":130,"featured_media":3617,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[7588,10038],"class_list":["post-98247","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-traveling","tag-wisata-jogja"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/98247","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/130"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=98247"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/98247\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3617"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=98247"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=98247"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=98247"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}