{"id":98234,"date":"2021-01-08T06:21:40","date_gmt":"2021-01-07T23:21:40","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=98234"},"modified":"2021-01-07T20:24:39","modified_gmt":"2021-01-07T13:24:39","slug":"bukan-sekretaris-tapi-tugas-bendahara-adalah-yang-terberat-di-masa-sekolah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bukan-sekretaris-tapi-tugas-bendahara-adalah-yang-terberat-di-masa-sekolah\/","title":{"rendered":"Bukan Sekretaris, tapi Tugas Bendahara Adalah yang Terberat di Masa Sekolah"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa waktu lalu saya mengernyitkan dahi setelah membaca artikel dari <\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bagi-saya-menjadi-sekretaris-adalah-cobaan-terberat-di-masa-sekolah\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">Dyan Arfiana Ayu Puspita<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> yang\u00a0 menurutnya menjadi sekretaris adalah cobaan terberat semasa sekolah. Sebagai orang yang berpengalaman menjadi bendahara sewaktu masih berseragam putih abu-abu, saya jelas nggak setuju. Tugas bendahara jauh lebih berat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya menjadi sekretaris justru adalah jabatan paling mudah di kelas. Kerjanya itu minor sekali. Pun tanggung jawabnya. Apalagi di zaman serba digital seperti sekarang, sekretaris nggak perlu susah-susah nulis. Kerja sekretaris paling mentok cuma memfoto catatan guru di papan tulis atau slide ppt. Susahnya apa sih? Semua orang juga bisa kali. Malah menurut saya masih lebih berat petugas piket Senin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, bicara cobaan terberat, jelas ini urusan dan tugas bendahara. Jadi bendahara banyak godaanya, nggak bisa kalau cuma modal niat dan tekad. Bendahara nggak cukup mengandalkan hardskill nulis seperti sekretaris, tetapi perlu iman yang kuat juga. Ya memang sepintas bendahara bakal kelihatan punya banyak uang. Tetapi, jika kalian lemah iman sebaiknya jangan coba-coba jadi bendahara. Berikut cobaan terberat yang saya alami tatkala menjabat bendahara di masa sekolah.<\/span><\/p>\n<h4><b>#1 Menagih uang kas<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya ini adalah bagian paling nggak mengenakkan selama menjalankan tugas bendahara. Di kelas, saya bisa mengklasifikasikan teman-teman saya ketika membayar kas jadi tiga golongan. Pertama orang yang mudah waktu ditagih walau dia uang sakunya sedikit. Kedua, sultan kelas, tapi ketika disuruh bayar kas angel-angelan. Ketiga orang yang bayar kas sekali bayar di waktu jatuh tempo, misal di akhir semester.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai upaya mitigasi, saya harus mengingatkan teman-teman lewat grup WA hari sebelumnya supaya besok menyisihkan uangnya buat bayar kas kelas. Di sini skill content writer saya diuji, membuat pesan persuasif yang menarik, padahal saya bukan sekretaris. Selain itu tugas bendahara nggak cuma dituntut cermat menghitung uang kas, saya juga harus pintar akting saat menagih kas. Perlu mimik muka tertentu agar teman-teman iba membayar kas. Sungguh berat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan apa-apa, uang kas ini peranannya paling vital di kelas. Uang kas kelas ibarat APBN atau APBD yang setiap waktu harus ready stock. Sekretaris kalau mau nulis, mau ngeprint, atau fotokopi kan uangnya dari kas juga. Ujung-ujungnya kami bendahara ini jadi tulang punggung kalian tau!<\/span><\/p>\n<h4><b>#2 Menyusun pembukuan untuk satu semester<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai bendahara yang bertanggung jawab dan akuntabel, saya menyusun pembukuan untuk satu periode. Paling nggak untuk satu semester berjalan. Saya harus mencatat segala arus keuangan yang terjadi di kelas. Arus keuangan itu mencakup modal awal biasanya sokongan dari wali kelas, pemasukan dari uang kas, hingga pengeluaran buat beli peralatan piket, melayat, menengok teman atau guru yang sakit, dan membeli alat tulis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sungguh sangat banyak sekali transaksi keuangan yang terjadi. Apabila semua transaksi itu nggak dicatat bendahara, dampaknya bakal berpengaruh pada transparansi finansial kelas, bahkan bisa jadi menyebabkan masalah untuk periode kepengurusan kelas selanjutnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah mengapa saya sebagai bendahara sangat berhati-hati dalam pencatatan ini. Pembukuan sangat berguna untuk mengetahui distribusi keuangan. Lewat pembukuan, bendahara bisa melacak sumber uang, jumlahnya, serta ke mana dana tersebut dikeluarkan. Pencatatan ini pun harus dilakukan secara teratur agar nantinya ada pertanggungjawaban. Supaya saya juga nggak dikira nilep uang kas.<\/span><\/p>\n<h4><b>#3 Mengelola bukti atau nota seluruh transaksi keuangan di kelas<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini juga nggak kalah merepotkan. Untuk menjalankan tugas sebagai bendahara budiman, saya harus mengelola semua bukti transaksi keuangan kelas. Mengelola seperti menyimpan dengan baik seluruh bukti fisik dan jangan sampai bukti transaksi tersebut hilang atau rusak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukti transaksi ini jadi dokumen penting yang merekam adanya aktivitas keuangan di kelas. Misal waktu kerja bakti sekolah, kelas butuh kemoceng, sapu, beli pupuk tanaman, beli ikan, beli media tanam, hingga beli tiner buat membersihkan coretan tipe x di meja harus ada bukti transaksinya. Bukti transaksi umumnya berwujud nota.<\/span><\/p>\n<h4><b>#4 Ngalor-ngidul membawa banyak uang<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai bendahara, saya ini udah kayak ATM kelas berjalan. Ke sana kemari kudu bawa uang banyak. Bilamana ada pengeluaran dadakan di kelas, siswa-siswi nggak akan kelabakan. Jadi mereka tetap bisa tenang belajar. Sungguh mulia bukan tugas bendahara? Eh tapi andai kata dijambret gimana? Risikonya besar lho bos. Nah, itulah alasan kenapa tugas bendahara jadi cobaan terberat di masa sekolah. Bukti sudah berbicara.<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/membandingkan-alat-sandy-cheeks-dan-doraemon-manakah-yang-lebih-berguna\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"> Membandingkan Alat Sandy Cheeks dan Doraemon, Manakah yang Lebih Berguna? <\/a><\/b><b>dan tulisan\u00a0<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/fatony-royhan-darmawan\/\"><b>Fatony Royhan Darmawan<\/b><\/a><b>\u00a0lainnya.<\/b><\/p>\n<div>\n<div><span class=\"ctaText\">Baca Juga:<\/span>\u00a0\u00a0<span class=\"postTitle\">Tips Menyelamatkan Diri dari Bencana Banjir: Kebanjiran Undangan Nikah<\/span><\/div>\n<\/div>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>\u00a0ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dibandingkan sekretaris, tugas bendahara di masa sekolah jauh lebih berat.  Biarlah bukti-bukti penalaman saya yang berbicara.<\/p>\n","protected":false},"author":975,"featured_media":80760,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[2691,746],"class_list":["post-98234","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-bendahara-pelaksana","tag-masa-sma"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/98234","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/975"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=98234"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/98234\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/80760"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=98234"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=98234"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=98234"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}