{"id":97965,"date":"2021-01-02T08:06:56","date_gmt":"2021-01-02T01:06:56","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=97965"},"modified":"2021-01-02T08:58:46","modified_gmt":"2021-01-02T01:58:46","slug":"hal-yang-akan-terjadi-kalau-serial-midnight-diner-setting-nya-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/hal-yang-akan-terjadi-kalau-serial-midnight-diner-setting-nya-di-indonesia\/","title":{"rendered":"Hal yang Akan Terjadi Kalau Serial &#8216;Midnight Diner&#8217; Setting-nya di Indonesia"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Liburan akhir tahun akhirnya udah di depan mata, hal yang gue tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Ini adalah waktunya untuk bermalas-malasan dan melakukan semua hal yang nggak bisa gue lakukan pada hari biasa. Nah semenjak pandemi, gue udah punya kebiasaan baru buat nabung serial atau film yang bakal gue tonton pas liburan. Untuk memulai ritual pada liburan ini, gue memutuskan memilih <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Midnight Diner<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sebagai serial pertama untuk dinikmati.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Serial ini sebenernya udah terpendam cukup lumayan lama di watchlist Netflix gue. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Midnight Diner<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> udah bolak-balik seliweran di timeline Twitter karena udah di-review sama beberapa akun reviewer film yang membuat gue semakin penasaran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara singkat, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Midnight Diner <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">ini menceritakan seorang bapak yang biasa dipanggil Master oleh para pelanggannya dan membuka kedai makanan yang jam bukanya mulai pukul 12 malam sampai kira-kira pukul 7 pagi. Di kedai ini, Master cuma menyediakan 4 menu, yaitu tonjiru (sup sayur babi), sake, beer, sama sh\u014dch\u016b. Nah, yang bikin kedai ini unik adalah setiap pelanggan bisa request makanan yang mau dia pesan asalkan ada bahan bakunya dan nggak ribet cara masaknya. Serial ini plot cerita setiap episodenya berbeda, biasanya makanan yang dimasak sama Master adalah makanan kesukaan si pelanggan dan berkaitan sama cerita atau kenangan yang dipunyai si pelanggan tersebut.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Midnight Diner<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> memberikan kesan heartwarming buat para penontonnya dan cocok banget ditonton sambil santai karena nggak perlu mikir keras dan mudah dicerna. Tapi, pernah kepikiran nggak sih gimana jadinya kalo <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Midnight Diner<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ada di Indonesia? Berikut beberapa kemungkinan yang akan terjadi kalo misalkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Midnight Diner,<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> setting tempat dan ceritanya ada di Indonesia:<\/span><\/p>\n<h4><b>#1 Warmindo atau warung burjo<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Warmindo (warung Indomie) atau warung burjo (bubur kacang ijo) adalah tempat yang pertama kali langsung muncul di benak gue. Buat mahasiswa yang sekaligus merangkap menjadi anak kost pasti udah nggak asing dengan tempat ini. Tempat ini adalah penyelamat bagi sebagian besar anak kost karena harga makanannya pas dengan kantong dan cukup ngenyangin di perut. Warmindo atau warung burjo biasanya menjajakan bubur kacang ijo, Indomie dengan berbagai rasa, gorengan tahu tempe, dan minuman instan yang siap seduh. Dengan berkembangnya warmindo atau warung burjo ini, mereka juga jual nasi dan lauk pauk seperti yang biasanya dijual di warteg. Warmindo atau warung burjo ini bisa jadi setting yang pas untuk <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Midnight Diner <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">ala Indonesia. Penjaga warmindo juga punya skill masak yang nggak kalah jago sama Master, buktinya banyak pelanggan setia yang selalu balik lagi ke tempat ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin, plot cerita yang bisa diangkat kalau setting tempatnya di warmindo atau warung burjo, bisa aja cerita tentang balada mahasiswa yang nggak rampung-rampung ngerjain skripsinya, seseorang yang habis putus cinta ditinggal pujaan hati, atau cerita anak kost yang lagi pusing mikirin tunggakan sewa kost. Saking seringnya,banyak pelanggan yang suka ngajak ngobrol dan cerita ke penjaga warung yang kemudian si penjaga warung lama kelamaan terbiasa menjadi tempat tampungan cerita para pelanggannya.<\/span><\/p>\n<h4><b>#2 Warkop (warung kopi)<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain warmindo, tempat yang kira kira bakal pas untuk dijadikan setting tempat<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> Midnight Diner <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yaitu warkop. Meskipun namanya warkop, tempat ini nggak hanya menjual kopi, warkop juga menjajakan minuman seduh lainnya. Hampir mirip sih konsepnya sama warmindo, cuman warkop ini lebih ke spesialis minuman aja. Warkop emang bisa dijadikan tempat andalan buat nongkrong-nongkrong santai sambil melepas penat dari kegiatan yang sudah kita lakukan selama satu hari penuh. Banyak ditemukan warkop yang dijadikan basecamp oleh para driver ojol (ojek online).\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah karena inilah gue berpikir, warkop bisa dijadikan ide tempat yang cocok buat<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> Midnight Diner.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Apalagi, biasanya para driver ojol ini sering tukar cerita satu dengan lainnya tentang keluh kesah mereka dari yang senang sampai yang sedih selama ngebid (mencari penumpang). Sebab, berdasarkan pengalaman-pengalaman gue selama menggunakan ojek online, pada saat perjalanan para driver sering bercerita kepada gue dan pasti ada saja kisah yang menarik untuk didengar. Jadi, bakal ada banyak ide cerita seru dan cocok dengan genre yang diangkat oleh <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Midnight Diner<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yaitu, slice of life.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh karena serial ini cukup sukses di Jepang,<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> Midnight Diner<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> juga sudah di-<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">remake<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> di beberapa negara lainnya, seperti Tiongkok dan Korea. Dengan adanya beberapa kemungkinan kalau misalkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Midnight Diner<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dengan setting cerita di Indonesia inilah, bisa memberikan ide kepada para produser untuk me-<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">remake<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> serial <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Midnight Diner <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">ala kearifan lokal Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jika-plankton-memilih-jadi-pengusaha-bidang-teknologi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Jika Plankton Memilih Jadi Pengusaha Bidang Teknologi<\/a><\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh karena serial ini cukup sukses di Jepang, Midnight Diner juga seharusnya di-remake oleh produser di Indonesia dengan sentuhan lokal.<\/p>\n","protected":false},"author":1255,"featured_media":94153,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-97965","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/97965","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1255"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=97965"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/97965\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/94153"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=97965"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=97965"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=97965"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}