{"id":97885,"date":"2021-01-02T09:21:03","date_gmt":"2021-01-02T02:21:03","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=97885"},"modified":"2020-12-30T12:59:33","modified_gmt":"2020-12-30T05:59:33","slug":"rahasia-keabadian-lagu-kepompong-milik-sind3ntosca","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/rahasia-keabadian-lagu-kepompong-milik-sind3ntosca\/","title":{"rendered":"Rahasia Keabadian Lagu &#8216;Kepompong&#8217; Milik Sind3ntosca"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDulu kita sahabat, berteman bagai ulat, berharap jadi kupu-kupu.\u201d Tenang, ini bukan you sing you lose. Bukan pula tulisan tentang seberapa tua Anda. Tapi kalau nyanyi, Anda mungkin punya masa muda yang menggairahkan seperti saya. Kalimat tadi adalah penggalan lirik dari lagu &#8220;Kepompong&#8221;, hits yang menjadi legenda dan tak lekang oleh waktu yang dipopulerkan oleh Sind3ntosca.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Kepompong&#8221; sangat berjaya di tahun 2008-2009. Tahun di mana banyak lagu Indonesia berlirik simple dan mudah diingat. &#8220;Kepompong&#8221; hadir di tengah semaraknya lagu cinta yang membanjir waktu itu. Sebut saja ST 12 dengan &#8220;Cari Pacar Lagi&#8221;, Dewa dengan &#8220;Perempuan Paling Cantik di Negeriku Indonesia&#8221; (yang rasanya nggak begitu ngehits deh ini lagu), atau Kerispatih dengan lagu &#8220;Demi Cinta&#8221;. Saingan terberat &#8220;Kepompong&#8221; dalam hal keabadian di ingatan mungkin hanya pada lagu Dewi Lestari dengan &#8220;Malaikat Juga Tahu&#8221; dan Nidji dengan &#8220;Laskar Pelangi&#8221;.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sind3ntosca sendiri membuat lagu &#8220;Kepompong&#8221; pada 2001. Ya ampun, segitu lamanya menunggu karyanya dikenal banyak orang. Saya yang tulisannya ditolak Mojok setelah menunggu 7 hari saja, langsung baper dan menangis. Sind3ntosca sabar banget menunggu selama 7 tahun, omaigot. Kalau orang biasa mungkin udah males bikin karya, mutung aja, cari cara nyari duit yang lain daripada menunggu apresiasi dunia segitu lamanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fakta bahwa belum ada lagu Sind3ntosca yang menjadi hits setelah &#8220;Kepompong&#8221;, tak menyurutkannya dalam membuat karya. Update karyanya bisa diikuti di laman Facebook dan media sosial Sind3ntosca lainnya. Konsisten dengan musiknya yang unik dan gaya nyinden dengan dialek Sunda membuatnya terdengar Indonesia banget, tapi ya nggak keminggris. Tengok saja video dalam lagu &#8220;<\/span><a href=\"https:\/\/youtu.be\/qJhBUzCGKgw\"><span style=\"font-weight: 400;\">Linger<\/span><\/a>&#8220;<span style=\"font-weight: 400;\"> milik The Cranberries dan &#8220;<\/span><a href=\"https:\/\/youtu.be\/8mtANc6XNWY\"><span style=\"font-weight: 400;\">Across The Universe&#8221;<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> milik The Beatles.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bertahan di dunia musik, punya lagu yang melegenda, lantas apakah menjadikannya auto kaya? Menurut unggahannya sih tidak. Dulu, dengan royalti pertamanya, sudah pernah kebeli mobil BMW 318i second seharga tiga puluh enam juta rupiah. Beda banget dengan selebritis yang bisa koleksi mobil seharga miliaran rupiah. Saya menduga, kurang besarnya pendapatan Sind3ntosca karena sosoknya idealis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sind3ntosca tidak merokok dan menolak sponsor rokok. Begitulah salah satu bentuk idealismenya. Era 2000-an, saat semua panggung pentas seni disponsori oleh Djarum dan La Lights, tentu pilihan idealis tersebut membuatnya jadi anti mainstream bahkan aneh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, keberaniannya membuat penjenamaan pribadi yang antirokok, tidak minum alkohol, dan pokoknya \u201ctampak\u201d jadi anak baik-baik patut diacungi jempol. Jadi anak baik-baik kalau memang punya karya yang bagus dan diluncurkan dalam waktu yang tepat terbukti dapat menjadi legend. Meski risikonya berat juga. Lantaran citra baiknya, lebih banyak wanita yang merasa nyaman menjadi sahabat daripada tertarik menjadi pacar. Itu juga kata Sind3ntosca sendiri, ya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di era digital ini, siapa pun bisa mengikuti jejak Sind3ntosca yang pernah viral dan melegenda. Pembuat karya, baik itu dalam wujud musik, lukisan, pun tulisan kini punya ruang yang sangat luas untuk mempublish sendiri karya. Tak perlu menangis tujuh hari tujuh malam jika ditolak Terminal Mojok, media kesayangan kita ini. Meski saya yakin, nggak cuma saya yang penasaran, susah bener sih masuk Terminal. Publish mandiri aja, siapa tahu 7 tahun kemudian menjadi buku?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Geliat publikasi indie menjadi jalur yang cukup mudah untuk mempublikasikan karya. Tentu butuh konsistensi dalam berkarya dan berbagai usaha kaitannya untuk merawat hubungan baik (dan menguntungkan) dengan para lover maupun para hater. Yup, hater yang dipelihara akan membantu naiknya popularitas Anda, kok!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kembali ke Sind3ntosca, sosoknya di media sosial sangat ramah dan beberapa kali memposting topik sensitif yang memancing berdatangan lover maupun hater. Sekali waktu, serangan personal berupa ejekan tentang karya terkenalnya yang cuma satu diluncurkan oleh hater. Namun, justru dengan demikian, popularitasnya meningkat dan membuktikan berapa lekatnya &#8220;Kepompong&#8221; dengan Sind3ntosca.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menjenamakan diri ke publik tak pernah sia-sia untuk seorang yang butuh menjual karya. Demikian juga Sind3ntosca, akhirnya setelah mengalami kezaliman di masa lalu, 2021 nanti akan ada <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kepompong Reborn<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Menyusul <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Petualangan Sherina<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang juga Reborn. Akankah &#8220;Kepompong&#8221; masa depan akan kembali berada dalam memori kita sampai 20 tahun lagi? Entahlah, kita lihat saja nanti.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mari-bersepakat-terbang-bersamaku-adalah-lagu-kangen-band-yang-terbaik\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Mari Bersepakat \u2018Terbang Bersamaku\u2019 Adalah Lagu Kangen Band yang Terbaik<\/a> dan tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/butet-rachmawati-sailenta-marpaung\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><span data-sheets-value=\"{&quot;1&quot;:2,&quot;2&quot;:&quot;Butet Rachmawati Sailenta Marpaung&quot;}\" data-sheets-userformat=\"{&quot;2&quot;:513,&quot;3&quot;:{&quot;1&quot;:0},&quot;12&quot;:0}\">Butet Rachmawati Sailenta Marpaung <\/span><\/a>lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sind3ntosca sendiri membuat lagu &#8220;Kepompong&#8221; pada 2001 dan sangat berjaya di tahun 2008-2009. Segitu lamanya menunggu karyanya dikenal banyak orang.<\/p>\n","protected":false},"author":1139,"featured_media":98161,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[9947,1682],"class_list":["post-97885","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-kepompong","tag-sind3ntosca"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/97885","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1139"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=97885"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/97885\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/98161"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=97885"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=97885"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=97885"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}