{"id":97878,"date":"2021-01-03T07:00:33","date_gmt":"2021-01-03T00:00:33","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=97878"},"modified":"2021-01-01T22:55:34","modified_gmt":"2021-01-01T15:55:34","slug":"acara-keluarga-artis-menjamur-tanda-pertelevisian-indonesia-sudah-kacau","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/acara-keluarga-artis-menjamur-tanda-pertelevisian-indonesia-sudah-kacau\/","title":{"rendered":"Acara Keluarga Artis Menjamur, Tanda Pertelevisian Indonesia Sudah Kacau"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada suatu malam saya berlatih olahraga jari, memencet tombol-tombol remot TV untuk mencari acara menarik. Namun, hasilnya nihil. Saya tidak menemukan acara yang mampu menarik perhatian saya. Bahkan NET TV hingga saat ini masih setia menayangkan drama Turki yang entah kapan selesainya. Saya sedikit menyayangkan penurunan kualitas stasiun TV tersebut, padahal di awal debutnya NET TV selalu menayangkan acara-acara berkualitas dan tidak recehan. Saya ingat sekali NET TV pernah menayangkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Korean Blockbuster<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> setiap malam minggu, di mana film-film Korea banyak ditayangkan di sana. Acara musik <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Breakout<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang dibawakan Boy William dan Sheryl Sheinafia juga merupakan salah satu acara yang saya rindukan. Tapi, acara keluarga artis kok makin banyak?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal tadi disebabkan rendahnya rating yang diperoleh sehingga pernah mencuat kabar NET TV terancam bangkrut. Padahal, acara-acara mereka merupakan angin segar bagi sebagian masyarakat yang tidak suka menonton sinetron atau acara penuh gimmick lainnya. Maklum, penonton televisi Indonesia kebanyakan rakyat kelas menengah, terutama menengah ke bawah. Semakin rendah pendapatan, semakin sering seseorang tersebut menonton TV. Sebaliknya, orang-orang kaya justru tidak ada waktu untuk menonton TV dan menghabiskan waktu santainya untuk berkumpul dengan keluarga. Setidaknya seperti ini asumsi singkat saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semakin hari acara yang mengekspos kehidupan keluarga artis menjamur di beberapa stasiun TV dan jujur itu membuat saya muak dan sebal. Apa pentingnya sih tahu kehidupan seseorang? Dimulai dari acara Raffi dan Nagita yang awalnya hanya meliput acara pernikahan megah mereka, eh keterusan deh sampai sekarang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemudian muncul acara keluarganya artis lain seperti Ruben Onsu, Baim dan Paula, dan yang terbaru adalah keluarga artis Sule. Templatenya gitu-gitu aja, kalau nggak bagi-bagi rezeki ke orang-orang di pinggir jalan ya mengekspos isi rumah gedongan masing-masing.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang sih, acara bagi-bagi rezeki tersebut jika kita menilik dari sisi positifnya jelas ada. Artis-artis tersebut mungkin ingin memotivasi kita agar rajin bersedekah. Namun, dari acara tersebut tentu saja mereka mendapatkan pundi-pundi rupiah dan jumlahnya lebih besar dari uang yang mereka sedekahkan ke orang-orang jalanan tersebut. Yah, semacam cashback tapi lebih dari 100%. Di sisi lain mereka telah membuktikan bahwa Tuhan akan melipatgandakan pemberian sedekah kita. Masya Allah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terlepas dari berpikiran positif di atas, saya lebih banyak berpikiran negatif terhadap acara-acara tersebut. Terkadang mereka menyelipkan gimmick dan terlalu dibuat-buat alias lebay sehingga lama-lama saya juga malas nontonnya. Apa bedanya coba sama sinetron? Hal-hal ini yang membuat saya lebih memilih nonton YouTube, tentunya dengan konten menambah wawasan bukan prank-prank-an, misalnya National Geographic, TED Talks, dan <\/span><a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/user\/mojokdotco\"><span style=\"font-weight: 400;\">PutCast Mojok<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, yang menjadi permasalahan adalah tidak semua rakyat negeri ini memiliki akses menonton tayangan-tayangan berkualitas. Tidak semua mampu memiliki akses internet memadai untuk sekadar nonton Youtube. Tidak semua mampu berlangganan Netflix, Viu, dan sejenisnya tiap bulan. Kebutuhan pokok seperti sandang, pangan, dan papan terpenuhi saja sudah bersyukur. Pada akhirnya acara TV adalah satu-satunya hiburan mereka. Kalaupun bisa mengakses YouTube, konten-konten macam Atta Gledek dan sebangsanya menjadi pilihan berdasarkan apa yang biasanya mereka tonton di TV.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebetulnya stasiun TV memang jeli dalam melihat peluang, mereka tahu persis kebanyakan penonton acara TV adalah rakyat kelas menengah ke bawah sehingga mereka membuat suatu konten dengan kekayaan sebagai komoditas utama. Siapa orang kaya yang mau diekspos kehidupannya? Tak lain tak bukan adalah selebriti. Peluang ini tentu memberi keuntungan bagi kedua pihak. Stasiun TV mendapatkan pundi-pundi dari rating acara yang tinggi dan si artis mendapatkan pekerjaan baru. Secara tidak langsung stasiun TV telah memberikan sebuah gambaran kehidupan ideal dan standar kebahagiaan bagi seorang manusia kepada rakyat kalangan menengah ke bawah, yaitu harta melimpah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau mau nekat sih, mestinya seluruh stasiun TV di Indonesia bekerja sama secara kompak untuk sedikit demi sedikit mereduksi tayangan tidak berkualitas dan tidak mendidik, mensubstitusikannya dengan acara-acara yang menambah wawasan di jam prime time. Ada banyak hal-hal di dunia ini yang bisa dikorek, toh dunia ini tidak hanya bicara soal kehidupan artis-artis bergelimang harta. Misalnya, stasiun TV dapat membuat acara kumpulan life hacks membuat catatan belajar, merapikan baju di lemari, menata rumah, memperbaiki alat-alat elektronik sendiri tanpa perlu memanggil tukang, dan sebagainya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Agak berat pasti, apalagi taruhannya rating. Perlahan sebagian masyarakat mulai meninggalkan TV karena kebanyakan dari mereka mungkin menganggap acara-acara berwawasan tersebut membosankan. Akan tetapi, suatu saat masyarakat akan kembali menonton TV karena itulah sarana hiburan mereka yang paling konvensional. Mau tidak mau mereka \u201cterpaksa\u201d menonton acara-acara mendidik tadi dan tadaaa! Akhirnya misi mencerdaskan kehidupan bangsa pun terlaksana sebab stasiun TV telah sedikit demi sedikit mengubah mindset masyarakat Indonesia. Ah, tapi angan ini terlalu optimistis.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-alasan-ini-membuktikan-bahwa-punya-pacar-sejurusan-ternyata-merepotkan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">4 Alasan Ini Membuktikan bahwa Punya Pacar Sejurusan Ternyata Merepotkan!<\/a><\/strong>\u00a0<strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/jasmine-nadiah-aurin\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Jasmine Nadiah Aurin<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kalau mau nekat, mestinya seluruh stasiun TV bekerja sama untuk mereduksi tayangan tidak mendidik yang mengekspos keluarga artis.<\/p>\n","protected":false},"author":838,"featured_media":70504,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[6461,1997],"class_list":["post-97878","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-keluarga-artis-indonesia","tag-program-televisi"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/97878","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/838"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=97878"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/97878\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/70504"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=97878"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=97878"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=97878"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}