{"id":97832,"date":"2021-01-01T07:45:58","date_gmt":"2021-01-01T00:45:58","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=97832"},"modified":"2020-12-30T18:21:44","modified_gmt":"2020-12-30T11:21:44","slug":"bagi-saya-lamongan-adalah-bali-versi-lite","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bagi-saya-lamongan-adalah-bali-versi-lite\/","title":{"rendered":"Bagi Saya, Lamongan Adalah Bali Versi Lite"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa hari lalu saya bersama keluarga berkesempatan mengunjungi Bali. Ini menjadi kesan tersendiri karena merupakan pengalaman pertama saya. Saya sudah membayangkan betapa ciamik pulau ini. Mulai dari pantai, budaya, turis asing, sampai keramahan warga sekitar. Namun, alih-alih terkesima, saya justru merasa seperti pulang kampung hingga saya bis menyimpulkan bahwa Lamongan adalah Bali versi lite.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Iya, bagi saya, Bali lebih terasa seperti Lamongan, meski tentu saja tidak persis, namun sangat mirip. Mulai dari kondisi jalan yang sama-sama sempit dan jarang ada penerangan ketika malam, sampai suhu udara yang sama-sama panas. Setidaknya itu kesan pertama yang saya rasakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal mengejutkan lainnya adalah ketika saya sampai di Pantai Kuta. Bagi anak pesisir seperti saya, pantai adalah hal yang default. Mengunjungi Pantai Kuta malah mengingatkan saya dengan Pantai Kutang yang berada di daerah utara Lamongan. Iya, namanya memang pantai Kutang, saya tidak sedang bercanda. Jika tidak percaya, kunjungi saja pantai tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terlepas dari pelaku bom Bali yang merupakan orang Lamongan, memang ada beberapa kesamaan antara Bali dan Lamongan. Oleh karena itu bagi Anda yang ingin berkunjung ke Bali, tapi terkendala beberapa hal, sepertinya Lamongan adalah pilihan yang bagus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya, Lamongan adalah Bali dengan versi lite. Berikut saya paparkan beberapa kemiripan antara Lamongan dan Bali.<\/span><\/p>\n<h4><b>#1 Desa pancasila<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya dikagetkan ketika dibawa ke Puja Mandala di daerah Nusa Dua. Saya memang pengin diantarkan ke tempat ibadah karena hendak salat, namun tidak menyangka bakal dibawa ke tempat yang ada lima tempat ibadah agama berbeda di satu lokasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sana ada masjid, gereja katolik, vihara, gereja kristen, serta pura, yang dibangun secara berjajar dan memiliki satu tempat parkir bersama. Warbiyasah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kekagetan saya sebenarnya bukan karena melihat ada banyak tempat ibadah yang berada di satu lokasi, namun karena bentuk toleransi seperti itu juga ada di Bali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Lamongan sendiri juga ada tempat yang seperti itu, namanya Desa Pancasila. Tepatnya berada di Desa Balun, kecamatan Turi. Di sana juga ada tempat ibadah agama yang berbeda dalam satu lokasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di desa tersebut setidaknya ada 3 tempat ibadah, yaitu masjid, gereja, dan pura. Tidak hanya itu, di sana ketika ada perayaan ogoh-ogoh (perayaan umat Hindu), semua warga yang berbeda agama pun tetap hadir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begitu juga ketika umat Islam melaksanakan takbiran, masyarakat di sana mengaku tidak ada yang terganggu. Menurut keterangan warga sekitar, bahkan ada satu keluarga yang tinggal dan hidup di satu rumah dengan tiga agama yang berbeda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yah, meskipun jumlah tempat ibadahnya tidak sebanyak di Bali, namun pada dasarnya konsep toleransi yang diterjemahkan menjadi bangunan tempat ibadah beda agama juga ada di Lamongan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Artinya dalam hal kerukunan umat beragama, di Lamongan juga tidak mau kalah dengan Bali. Keduanya bisa disepakati sama-sama menjunjung tinggi toleransi dan kerukunan agama.<\/span><\/p>\n<h4><b>#2 Pantai Kutang<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang ada banyak pantai di Bali, namun yang paling fenomenal adalah Pantai Kuta. Pantai tersebut merupakan pantai yang sering sekali dikunjungi wisatawan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika boleh berkomentar, bagi sayaPantai Kuta tanpa turis asing hanyalah pantai yang biasa saja. Pasirnya tidak terlalu putih, pantainya juga tidak terlalu bersih. Jika diibaratkan mungkin seperti Jogja tanpa romantisme, bakal biasa saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mari bandingkan dengan Lamongan, di sana juga memiliki banyak pantai, namun yang paling fenomenal tentu saja Pantai Kutang. Sekali lagi, namanya memang Pantai Kutang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti namanya, konon pantai tersebut dinamai demikian karena dulu di sana banyak ditemui benda yang cukup tabu untuk dibahas secara gamblang, yaitu kutang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pantai tersebut tentu saja memiliki pasir yang tidak terlalu putih dan pantai yang tidak terlalu bersih. Iya, sama saja dengan Pantai Kuta.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang membedakan hanyalah standar moral di daerah tersebut. Jika di Pantai Kuta Anda bebas berjemur dengan memakai kain tipis yang hemat bahan, di Pantai Kutang tidak demikian. Ada standar moral yang menolak pakaian seperti itu, meski tetap ada toleransi yang tidak berkerudung. Yah, sepantasnya saja lah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selebihnya sama saja. Anda sama-sama bebas untuk berjemur, salto, koprol, atau sekedar mencari kebutuhan konten saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin kebebasan tersebut adalah salah satu alasan Pantai Kuta banyak kedatangan wisatawan asing dan banyaknya wisatawan asing adalah alasan wisatawan lokal untuk berkunjung ke sana.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, di masa pandemi seperti sekarang, Pantai Kuta benar-benar menampakkan wajah berbeda. di sana hampir tidak ditemui turis asing yang berjemur dan bermesraan dengan panas matahari. Oleh karena itu jika Anda ingin mengunjungi pantai Kuta saat ini dengan alasan tersebut, maka bersiaplah untuk kecewa.<\/span><\/p>\n<h4><b>#3 Ketaatan beragama<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika berjalan-jalan di Bali, kita akan dibuat kagum dengan bangunan yang khas, yaitu banyaknya pura di sepanjang perjalanan. Sebab hampir tiap rumah pasti ada tempat ibadahnya maka saya pun bertanya pada masyarakat sekitar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut mereka, alasan kenapa banyak sekali pura di Bali adalah karena ada kewajiban orang Hindu untuk membuat tempat ibadah yang khusus untuk keluarga masing-masing dan karena orang Bali merupakan orang yang taat beragama maka tidak heran kalau banyak kita temui pura di sepanjang jalan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini agak mirip dengan Lamongan. Saya katakan \u201champir\u201d karena di Lamongan adalah mayoritas Islam yang taat, jadi bangunannya adalah masjid atau musala, bukan pura.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika Anda berkesempatan ke Lamongan, tentu saja Anda tidak akan terlalu kerepotan mencari tempat ibadah umat Islam karena hampir tiap tempat ada masjid atau musala. Bahkan tiap rumah juga menyediakan satu ruang khusus yang difungsikan sebagai tempat ibadah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak hanya itu, di Lamongan juga sangat mudah kita temui pondok pesantren dengan berbagai jenis aliran. Setidaknya saya menghitung ada lebih dari 20 pondok di Kecamatan Paciran saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terlepas dari kualitas religiusitasnya, paling tidak kuantitas tempat ibadah bisa merepresentasikan ketaatan agama yang ada di Bali maupun Lamongan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh sebab itu, sekali lagi saya tegaskan bahwa Lamongan adalah Bali dengan versi Lite. Oleh karena itu Anda memang tidak perlu repot-repot pergi ke Bali, mending Anda ke Lamongan saja, biar saya yang ke Bali. Whehehe.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mengenal-kata-umpatan-di-jogja-yang-nggak-ada-serem-seremnya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Mengenal Kata Umpatan Jogja yang Nggak Ada Serem-Seremnya<\/a>\u00a0dan<\/strong><strong>\u00a0tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/m-afiqul-adib\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">M. Afiqul Adib<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lamongan adalah Bali versi lite. Iya, setidaknya bagi saya. Meski tentu saja tidak persis, namun beberapa tempat cenderung mirip.<\/p>\n","protected":false},"author":580,"featured_media":2992,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[2916,7588],"class_list":["post-97832","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-pantai-bali","tag-traveling"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/97832","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/580"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=97832"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/97832\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2992"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=97832"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=97832"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=97832"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}