{"id":97728,"date":"2020-12-29T06:04:00","date_gmt":"2020-12-28T23:04:00","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=97728"},"modified":"2020-12-29T05:15:49","modified_gmt":"2020-12-28T22:15:49","slug":"selain-makoto-shinkai-ini-sutradara-anime-naik-daun-yang-perlu-kalian-tonton-karyanya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/selain-makoto-shinkai-ini-sutradara-anime-naik-daun-yang-perlu-kalian-tonton-karyanya\/","title":{"rendered":"Selain Makoto Shinkai, Ini Sutradara Anime Naik Daun yang Perlu Kalian Tonton Karyanya"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhir 2016, film anime <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Your Name<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> berhasil menempatkan dirinya sebagai film anime dan film Jepang dengan penjualan tiket terbanyak sepanjang masa di seluruh dunia. Di lain pihak, nama sutradara anime <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Your Name<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, Makoto Shinkai berhasil naik ke kancah dunia dan menjadi salah satu nama paling dikenal dari industri anime saat ini. Bahkan beberapa media luar negeri seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Guardian <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">sampai memanggilnya Hayao Miyazaki baru. Tidak mengejutkan jika film terbarunya, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Weathering with You<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, sukses secara komersial di 140 negara pada 2019.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, Makoto Shinkai bukan cuma satu-satunya nama yang naik daun dalam industri anime di era modern.\u00a0 Dalam sepuluh tahun terakhir, ada beberapa nama berhasil masuk ke dalam sorotan pecinta animasi Jepang. Mereka masing-masing punya ciri khas dan latar belakang berbeda satu sama lain. Jika memang ingin tahu, nama mana yang karyanya paling ditunggu oleh otaku seluruh dunia saat ini, simak mereka di bawah ini.<\/span><\/p>\n<h4><b>Sayo Yamamoto<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menjadi perempuan di industri anime itu sulit. Buktinya, kita bisa melihat jumlah sutradara anime perempuan berbanding terbalik dengan jumlah mangaka perempuan yang karyanya diadaptasi menjadi anime. Maka nama Sayo Yamamoto menjadi anomali karena berhasil menyutradarai bukan cuma satu, tapi tiga serial anime dengan tiga studio berbeda. Namun tidak mengejutkan jika sejak debut pertamanya sebagai sutradara <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Michiko to Hatchin<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, butuh waktu empat tahun untuk Yamamoto menjadi sutradara utama lagi di anime <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Lupin the Third, The Woman Called Fujiko Mine.<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semuanya berubah saat Yamamoto ikut Japan Animator Expo 2015 dibawah sutradara legendaris Hideaki Anno. Lewat animasi pendek tentang ice skating, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Endless Night<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, nama Yamamoto naik daun sebagai salah satu sebagai pendatang muda di industri anime. Setelah empat tahun tidak mendapat kesempatan sebagai sutradara serial TV, kesempatan akhirnya datang setelah proyek personalnya, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Yuri On Ice<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> diterima oleh MAPPA . Anime yang\u00a0 sempat populer di tahun 2016, ternyata adalah mimpi pribadi Yamamoto untuk membuat serial anime tentang ice skating, olahraga favoritnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain ice skating, salah satu trademark<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">paling unik dari anime karya Yamamoto adalah keberagaman penampilan karakternya. Nggak ada yang namanya karakter dengan pakaian sama atau gaya rambut gak berubah untuk ratusan episode. Bahkan dalam satu episode, satu karakter bisa ganti pakaian beberapa kali. Ini membuktikan bahwa bukan hanya Yamamoto punya kemampuan untuk menyutradarai anime, tapi ciri khas dan passion yang tentu tidak kalah dari rekan-rekan prianya di industri.<\/span><\/p>\n<h4><b>Naoko Yamada<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sutradara perempuan di industri anime itu jarang, tapi bukan suatu keanehan di studio panutan semua orang a.k.a Kyoto Animation. Terkenal akan sistem regenerasi animatornya dan memiliki rasio animator perempuan dengan pria yang lebih tinggi dari studio lainnya, tidak mengagetkan jika sutradara anime perempuan paling terkenal, Naoko Yamada, berasal dari studio ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memulai karirnya sebagai sutradara episode di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Clannad<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Nichijou<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, debut pertama Yamada muncul saat dia diberi kepercayaan menyutradarai serial anime <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">K-ON<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">! pada 2010. Selanjutnya Yamada ikut dalam proyek film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Tamako Love Story<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">K-On Movie<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sebelum akhirnya menjadi sutradara dari film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">A Silent Voice<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rilis pada 2017, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">A Silent Voice<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sukses secara komersial baik di Jepang maupun kancah internasional. Walaupun adaptasi dari manga, Yamada berhasil memberikan sentuhan uniknya tersendiri, yaitu leg shot. Latar belakangnya sebagai anggota klub fotografi saat kuliah membuat sinematografi dari banyak anime Yamada terasa seperti film live action sungguhan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Daripada hanya berfokus kepada close up shot di muka karakternya, Yamada memilih memfokuskan animasinya pada kaki karakter. Menurutnya, jika mata adalah jendela diri seseorang maka kaki adalah jendela lainnya. Kita bisa menilai sifat dan ekspresi karakter dalam anime Yamada hanya dengan melihat cara kaki berjalan, bergerak, berdiri, dan gemetar tanpa perlu melihat wajah mereka. Trademark ini dapat dilihat di banyak karya Yamada lainnya dari episode 16 <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Clannad After Story<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> hingga episode 24 <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">K-On!!.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Apapun yang diadaptasinya, Yamada berhasil memberikan sentuhan unik dalam setiap anime buatannya.<\/span><\/p>\n<h4><b>Masaaki Yuasa<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sutradara anime ini mungkin bisa dibilang salah satu pesaing dari Makoto Shinkai jika melihat dari jumlah penghargaan dan karyanya yang dipuji oleh kritik. Debut film pertamanya, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mind Game<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> gagal secara komersial tetapi banyak dipuji kritik hingga mencapai status legendaris di antara animator. Lebih dari 16 tahun kemudian, Yuasa tetap memilih jalan berbeda dari kebanyakan animator lainnya dari segi animasi ataupun desain karakter.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam wawancaranya pada festival film di Jerman, Yuasa mengaku selalu merasakan tekanan untuk membuat anime yang secara visual punya karakter kawai (manis) seperti kebanyakan anime lainnya. Hampir tidak ada karakter dalam anime Yuasa yang mirip dengan tren saat serial tersebut tayang. Dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kaiba, Tatami Galaxy, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">hingga<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> Ping Pong the Animation<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, semua serial ciptaannya terasa unik dari segi visual satu sama lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Walaupun cenderung menolak mengikuti pakem anime saat ini, Yuasa selalu memastikan animasinya berjalan secara mulus. Berbanding terbalik dengan banyak studio yang punya desain karakter cakep dan rumit tetapi cuma berakhir sebagai patung dengan bagian bibir dan kepala yang gerak saja. Dari segi filosofi, nama Yuasa mungkin sudah bakal terkunci sebagai sutradara anime indie yang cuma dikenal beberapa orang saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, kesuksesan dua serial TV terakhirnya, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Devilman Crybaby<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Keep Your Hand Off Eizouken<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ternyata membuktikan bahwa ada tempat baginya di dalam pasar anime mainstream. Saat fans anime berusaha mencari angin baru di tengah banyak anime yang latah ikut serial populer sebelumnya, nama Yuasa menjadi pilihan nomor satu.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-film-korea-tentang-kesenjangan-sosial-selain-parasite\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">\u00a03 Film Korea tentang Kesenjangan Sosial selain Parasite\u00a0<\/a><\/strong><strong>dan<\/strong><strong>\u00a0tulisan lainnya dari\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/raynal-arrung-bua\/\">Raynal Arrung Bua<\/a>.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Makoto Shinkai bukan satu-satunya yang naik daun dalam industri anime di era modern.\u00a0 Ada beberapa sutradara anime yang juga ikut naik daun.<\/p>\n","protected":false},"author":734,"featured_media":97731,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[2775,9917,6444,9918],"class_list":["post-97728","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-anime","tag-kimi-no-nawa","tag-makoto-shinkai","tag-weathering-with-you"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/97728","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/734"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=97728"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/97728\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/97731"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=97728"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=97728"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=97728"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}