{"id":97340,"date":"2020-12-29T06:17:50","date_gmt":"2020-12-28T23:17:50","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=97340"},"modified":"2020-12-29T02:00:53","modified_gmt":"2020-12-28T19:00:53","slug":"stop-menganggap-hidup-di-jogja-itu-lebih-murah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/stop-menganggap-hidup-di-jogja-itu-lebih-murah\/","title":{"rendered":"Stop Menganggap Hidup di Jogja Itu Lebih Murah"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Siapa yang tidak ingin kuliah di Jogja? Dengan julukan Kota Pelajar, sudah sewajarnya seluruh camaba ingin merasakan bagaimana kualitas pembelajaran di kota ini. Selain terkenal dengan banyaknya kampus-kampus berkualitas, Jogja juga terkenal akan biaya hidup yang murah meriah. dua hal tersebut bisa menjadi alasan mengapa kota Jogja selalu diminati oleh para pencari ilmu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelumnya saya mohon maaf, tulisan ini berdasarkan pendapat saya pribadi, tanpa bermaksud menyinggung siapa pun, dan bisa saja ada perbedaan pendapat antara saya dan teman-teman yang lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah saya pikir-pikir, ternyata faktanya tidak selalu seperti itu, ada beberapa kesamaan di provinsi ini dengan provinsi lain dalam beberapa bagian, bisa dibilang \u201csedikit\u201d tidak sesuai ekspektasi karena beberapa hal berikut.<\/span><\/p>\n<h4><b>Harga kos-kosan<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berdasar pengalaman saya mencari kos-kosan pria, rata-rata harga per kamar mencapai lima-enam jutaan per tahun dengan kamar mandi di luar. Ada juga yang empat jutaan, tapi sulit untuk menemukan dengan harga segini, dan itupun belum bersih. Dalam artian kita masih membayar uang sampah, air, listrik, yang kalau dihitung-hitung angkanya bisa mencapai lima jutaan juga dan biasanya hanya berupa kamar atau biasa disebut kosongan (hanya dapat ruangan tanpa kasur,lemari, dan lain-lain). Selain itu biasanya karakteristik kosan pria itu terkesan kumuh, padahal pria juga butuh tempat yang nyaman dan bersih. Pria nggak selamanya bisa di lekatkan dengan hal-hal yang kotor dan jorok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk kos-kosan wanita biasanya berkisar lima sampai delapan juta per tahun, ada yang sudah terisi kamarnya (lemari, kasur) dan ada juga yang kosongan tergantung Anda ambil yang harga berapa. Tapi, paling tidak biasanya kosan wanita lebih enak dipandang, lebih menarik bangunannya, ketimbang untuk pria.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai kesimpulan, harga kos-kosan di Jogja (rata-rata) setara dengan kosan di daerah lain (kecuali Jakarta) bisa dianggap tidak jauh berbeda, atau bahkan lumayan mahal bila dibandingkan dengan beberapa kota lain di indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terus masalahnya di mana? Waittt&#8230; Nanti akan saya jelaskan ya.<\/span><\/p>\n<h4><b>Biaya makan<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rata-rata uang yang harus saya keluarkan untuk sekali makan berkisar delapan sampai lima belas ribu. Ingat, sekali makan makan, bukan makan sehari, tergantung lauk kita apa. Sebagai contoh, biasanya bila nasi telur harganya tujuh ribu, itu belum termasuk minum gorengan ya. Jatuhnya ya lebih dari harga aslinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak mengatakan harga segitu adalah harga yang mahal\/ tidak wajar, tetapi selama ini banyak orang luar Jogja yang beranggapan bahwa makan di jogja hanya dengan lima ribu bisa kenyang, faktanya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang betul ada tempat makan yang sangat bersahabat bagi kantong, tetapi tidak banyak karena jumlahnya sedikit akibatnya tidak bisa dikunjungi setiap saat. Terpaksa saya makan di tempat makan dengan harga standar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teman saya yang belum tau Jogja, hanya tau berdasarkan televisi dan Instagram, menganggap semua tempat makan di Jogja harganya murah meriah, dan mengatakan bahwa membawa uang lima ribu ke angkringan bisa kenyang banget. Saya dulu berfikir seperti itu juga, tapi setelah saya coba makan di sana, dan saya hitung-hitung harganya tidak jauh berbeda dengan di warung nasi pada umumnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai contoh, harga nasi kucing Rp2000\/bungkus, sate Rp1500\/tusuk, minum Rp3000, bila saya makan nasi dua bungkus saja, lalu saya pesan dua sate, dan segelas minum, uang yang harus saya keluarkan adalah sepuluh ribu. Harga yang normal bukan? Menurut saya normal, terkesan murah karena dijual secara terpisah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika teman saya mendengar penjelasan saya, dia langsung kaget dan tidak menyangka bahwa harga makanan di Jogja dan daerah lain sama saja. Ya, harga delapan sampai lima belas ribu memang harga standar dan banyak tempat makan di dekat kampus daerah luar Jogja yang mematok harga segitu.<\/span><\/p>\n<h4><b>Biaya kuliah<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setau saya, besaran UKT yang harus dibayar mahasiswa di Jogja setara dengan daerah lain di Indonesia, bahkan bisa dikatakan lebih mahal bila dibanding beberapa daerah yang saya ketahui. Saya rasa wajar bila UKT di Jogja setara atau bahkan dianggap mahal karena beda harga ada pula perbedaan kualitas di dalamnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai contoh, saya pernah bertanya kepada teman saya di PTN daerah lain untuk jurusan dan prodi yang sama dengan perbedaan tingkatan UKT\u2014dia dapat UKT 4 dan saya dapat UKT 3\u2013dan yang mengejutkan bagi dia adalah, UKT saya lebih mahal walaupun saya dapet golongan UKT yang lebih rendah dari dia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terus dari ketiga hal di atas apa yang saya permasalahkan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak menyalahkan siapapun, dan saya anggap tiga hal di atas adalah hal yang wajar. Tulisan ini saya buat untuk memberitahu kepada orang yang belum tau Jogja, jangan menganggap remeh hidup di kota ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seringkali teman-teman dan tetangga saya ( yg notabene tidak tau banyak tentang Jogja) mengatakan \u201ckamu enak tinggal di Jogja, apa-apa murah\u201d dan yang paling menjengkelkan tetangga suka bilang ke orang tua saya \u201c itu anakmu bisa kuliah di Jogja kan lumayan, kos-kosan paling empat juta setahun dan itu udah yang paling mahal, untuk makan 15 ribu sehari, biaya UKT juga sangat murah\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perkataan seperti Itu seakan-akan saya yang hidup di jogja sangat sangat dan sangat gampang dalam urusan biaya hidup.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut saya pribadi harga kos-kosan, biaya hidup dan UKT di DIY standar seperti daerah lain, dan itu suatu hal yang wajar. Saya hanya ingin berpesan kepada orang orang yang selalu menganggap bahwa semua hal di Jogja harganya murah meriah dibanding daerah lain, itu semua belum tentu benar.<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA\u00a0<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mari-sambut-dengan-tawa-wacana-menkes-terawan-soal-wisata-kebugaran-jamu-dan-kerokan\/\"><b>Mari Sambut dengan Tawa Wacana Menkes Terawan Soal Wisata Kebugaran, Jamu, dan Kerokan<\/b><\/a><b>.\u00a0<\/b><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hidup di Jogja itu nggak semurah apa yang televisi dan Instagram coba beritahu pada kita. Pada dasarnya, Jogja ya sama aja kayak daerah lain.<\/p>\n","protected":false},"author":1249,"featured_media":35588,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[7539,115,436,5957],"class_list":["post-97340","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-biaya-hidup","tag-jogja","tag-kuliah","tag-ukt"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/97340","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1249"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=97340"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/97340\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/35588"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=97340"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=97340"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=97340"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}