{"id":97335,"date":"2020-12-30T06:03:13","date_gmt":"2020-12-29T23:03:13","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=97335"},"modified":"2020-12-29T14:38:53","modified_gmt":"2020-12-29T07:38:53","slug":"quarantine-tales-film-omnibus-lokal-yang-merefleksikan-pandemi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/quarantine-tales-film-omnibus-lokal-yang-merefleksikan-pandemi\/","title":{"rendered":"&#8216;Quarantine Tales&#8217;, Film Omnibus Lokal yang Merefleksikan Pandemi"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dua hari yang lalu saya menamatkan film omnibus lokal berjudul <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Quarantine Tales<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Omnibus sendiri berarti kumpulan karya dengan story line berbeda yang memiliki satu benang merah. Di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Quarantine Tales<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, sejumlah lima film pendek dari lima sutradara disajikan dengan benang merah kehidupan di masa pandemi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film omnibus ini diproduksi oleh BASE film dan dapat kita tonton di situs streaming legal film Indonesia, Bioskop Online. Dengan hanya membayar sebesar kurang lebih Rp10 ribu, kita diberikan 48 jam bebas mengakses film yang kita pilih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Quarantine Tales<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, berbagai cerita di tengah pandemi tercipta begitu menarik. Keragaman tema, genre, alur, dan pesan, membuat omnibus ini semakin layak untuk ditonton. Omnibus ini juga menawarkan hasil karya lima sutradara dengan keunikan mereka masing-masing. Berikut sekelumit gambaran dan komentar saya untuk masing-masing film dalam omnibus ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">#1 <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Nougat<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> \u2013 dir. Dian Sastrowardoyo<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Nougat <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">adalah film debut Dian Sastrowardoyo sebagai sutradara. Film ini mengisahkan dinamika hubungan tiga saudara kandung di masa pandemi. Usai kematian orang tua mereka, banyak perubahan yang terjadi. Ditambah dengan sifat dan sikap ketiganya yang tentu tak sama. Nougat sendiri adalah variasi rasa es krim, comfort food yang sangat historical dan memorable untuk mereka bertiga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Drama keluarga ini menjadi pembuka yang cukup baik dalam omnibus <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Quarantine Tales<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Konflik yang terjadi sangatlah dekat dengan keseharian. Selain plot yang dibangun dengan cukup baik, kekuatan film ini juga terletak pada olah peran tiga aktor utamanya yang mumpuni, yakni Marissa Anita, Adinia Wirasti, dan Faradina Mufti. Sebuah debut penyutradaraan yang cukup apik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">#2 <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Prankster<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> \u2013 dir. Jason Iskandar<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika di bagian pertama penonton disuguhi drama keluarga, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Prankster <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">hadir membawa hiburan tersendiri. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Prankster <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">merupakan tipikal comedy drama dengan bumbu-bumbu misteri dan membawa serta kejutan di bagian akhirnya. Menonton ini seperti menonton realita yang banyak kita lihat di masyarakat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Prankster<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, seorang youtuber konten prank terlihat sedang live dengan teman yang dulu pernah ia prank. Sebuah pengamatan cerdik dari Jason Iskandar untuk diwujudkan menjadi film pendek. Dari film ini, akan digelontorkan pula sejauh mana efek prank itu sendiri. Bisa jadi peringatan nih buat yang suka ngeprank.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">#3 <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Cook Book<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> \u2013 dir. Ifa Isfansyah<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Cook Book<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> tampil di segmen ketiga dalam omnibus ini.<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> Cook Book <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">menceritakan kehidupan seorang chef bernama Halim di masa pandemi. Sebagai seorang chef sukses yang masih hidup melajang, ia menghabiskan hari-harinya di rumah seorang diri. Ia pun membuat buku resep yang nantinya akan diterbitkan. Selain buku resep, ternyata Halim juga menulis novel. Dan dalam proses penulisannya itu, sesuatu yang kelam terjadi.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Cook Book<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> hadir sebagai film drama psikologis yang menyinggung sejarah kelam bangsa Indonesia. Leburnya batas ruang dan waktu menjadi kekhasan film satu ini. Melalui film ini, kita juga dipertontonkan seperti apa pandemi mengisolasi tubuh dan jiwa manusia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">#4 <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Happy Girls Don\u2019t Cry<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> \u2013 dir. Aco Tenri<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Happy Girls Don\u2019t Cry arahan Aco Tenri berkisah tentang sebuah keluarga yang baru saja ditinggal meninggal sang anak bungsu di masa pandemi. Keluarga ini terdiri dari sang ayah (Teuku Rifnu Wikana), ibu (Marissa Anita), kakak\/anak sulung (Arawinda Kirana), dan adik\/anak bungsu (Muzakki Ramadhan).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Usai peristiwa menyedihkan itu, sang kakak mengikuti giveaway yang berhadiahkan komputer mewah. Ternyata kemenangannya mendapatkan hadiah itu justru menimbulkan pilihan-pilihan yang saling bertolak belakang. Film ini begitu apik mengemas fenomena giveaway yang marak belakangan, juga memotret dinamika sebuah keluarga yang terbangun di tengah keterbatasan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">#5 <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Protocol<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> \u2013 dir. Shidarta Tata<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Protocol <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">menjadi segmen terakhir dalam omnibus <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Quarantine Tales<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Kehadirannya seolah menutup omnibus ini dengan tepat dan ciamik. Hadir sebagai film bergenre komedi gelap, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Protocol <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">mengisahkan dua mantan napi usai menjalankan misinya kembali sebagai perampok di masa pandemi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalah terjadi ketika satu di antara mereka mati mendadak. Sementara itu, si perampok yang masih hidup ini kalang kabut menghadapi kematian rekannya. Ia kebingungan sekaligus ketakutan menghadapi fakta kematian mendadak dan prasangka penyebab kematian rekannya itu. Sidharta Tata sangatlah piawai memadukan unsur humor, horor, dan komedi dalam porsi yang pas. Selain itu, kekuatan film ini juga terletak pada totalitas olah peran Abdurrahman Arif serta scoring\/background musik yang unik dan otentik.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Quarantine Tales<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> merupakan terobosan dalam industri perfilman Indonesia. Ia hadir di tengah maraknya film panjang dan film-film pendek. Ia mengambil bentuk sebagai sebuah omnibus yang patut ditonton di masa pandemi ini karena korelasinya dengan pandemi itu sendiri sangatlah kental. Meskipun sebelumnya sudah pernah ada film Indonesia dalam bentuk omnibus, tetapi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Quarantine Tales<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> tetaplah menarik untuk dicoba.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari kelima film di atas, favorit saya jatuh pada film arahan Aco Tenri, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Happy Girls Don\u2019t Cry. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Sejauh saya menonton, film ini yang paling menimbulkan mixed feeling pada saya. Kemasan dan pesan yang berjalan bersama dengan begitu padu. Selain itu, secara personal, saya menyukai film-film tersebut dengan urutan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Protocol \u2013 Cook Book \u2013 Nougat \u2013 Prankster<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Kalau kamu, paling suka yang mana?<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tolong-indonesias-next-top-model-jangan-kebanyakan-drama\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"> Tolong, Indonesia\u2019s Next Top Model Jangan Kebanyakan Drama!<\/a> <\/b><b>dan tulisan\u00a0<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/mariamona\/\"><b>Maria Monasias Nataliani<\/b><\/a><b>\u00a0lainnya.<\/b><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&#8216;Quarantine Tales&#8217; merupakan terobosan dalam industri perfilman Indonesia. Ia hadir dengan benang merah kisah pandemi yang menggelitik.<\/p>\n","protected":false},"author":29,"featured_media":97867,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[5663,773],"class_list":["post-97335","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-pandemi-corona","tag-review-film"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/97335","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/29"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=97335"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/97335\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/97867"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=97335"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=97335"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=97335"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}