{"id":97123,"date":"2020-12-28T11:27:44","date_gmt":"2020-12-28T04:27:44","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=97123"},"modified":"2020-12-28T11:13:19","modified_gmt":"2020-12-28T04:13:19","slug":"lifestyle-mahasiswa-bidikmisi-agar-tidak-jadi-bahan-rasan-rasan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/lifestyle-mahasiswa-bidikmisi-agar-tidak-jadi-bahan-rasan-rasan\/","title":{"rendered":"Lifestyle Mahasiswa Bidikmisi agar Tidak Jadi Bahan Rasan-rasan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hidup mahasiswa bidikmisi memang serba salah. Mau makan enak dikira mahasiswa miskin yang hedon. Mau pakai baju bagus dikira mahasiswa miskin sok bergaya anak sultan. Sampai ketika memakai smartphone baru juga salah, dinyinyir dikira anak orang tajir yang manipulasi data buat daftar bidikmisi. Segala fitnah keji tersebut selalu mengiringi saya sampai di semester akhir ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mahasiswa bidikmisi diidentikkan kaum jelata nan miskin. Saya bangga dan tidak merasa minder dengan judge semacam itu. Syarat paling utama dari persyaratan beasiswa ini memang harus berasal dari keluarga yang tidak beruntung secara ekonomi. Selain itu, saat mendaftar setidaknya memiliki salah satu prestasi, baik prestasi akademik ataupun non akademik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fasilitas yang diterima nggak main-main. Mulai dari digratiskan biaya UKT selama delapan semester dan setiap bulan juga mendapatkan living cost sebesar Rp700.000. Namun, konsekuensi dari privilese tersebut, tidak sedikit saya dan kawan-kawan sesama penerima bidikmisi menjadi bahan rasan-rasan mahasiswa lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahan rasan-rasan hampir seluruhnya seputar lifestyle dari anak-anak bidikmisi, bukan dari segi turunnya prestasi. Misal saja, ketika prestasi akademik saya menurun tanggapan teman-teman biasa saja. \u201cPasti kebanyakan kegiatan, semester depan semangat ya, kurangin dikit kegiatannya,\u201d begitu katanya. Orang lain akan menganggap jatuhnya nilai anak-anak bidikmisi bukan suatu aib dan kesalahan yang fatal-fatal amat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk mengatasi dan memuaskan semua pihak, saya membuat resep jitu lifestyle mahasiswa bidikmisi agar terbebas dari rasan-rasan masyarakat berlambe turah yang mulutnya perlu di smoothing tersebut. Beginilah kira-kira.<\/span><\/p>\n<h4>#1 Pakai baju ala kadarnya, baju compang-camping diutamakan<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sering mendengar ucapan begini, \u201cAnak bidikmisi kok bajunya bagus-bagus, sih?\u201d Atau seperti ini, \u201cIyuh liat tuh Sis, tiap hari pasti bajunya beda-beda. Pasti baru itu, ya nggak, Sis?\u201d Ingin sekali saya catok mulut dari orang-orang seperti itu. Oleh karena itu, untuk menghindarkan rasan-rasan yang berkecamuk mungkin alternatifnya mahasiswa bidikmisi di seluruh Indonesia perlu memakai baju-baju ala kadarnya. Motif compang-camping diutamakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Baju kampanye atau baju hadiah pupuk mungkin akan menyelamatkan kita dari rasan-rasan dan memuaskan hati mereka. Tidak perlu memakai baju-baju bagus. Semakin lusuh, semakin menunjukkan citra mahasiswa bidikmisi yang miskin dan tidak punya uang ini.<\/span><\/p>\n<h4>#2 Puasa Senin-Kamis dan makan seadanya<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jangan makan di tempat makanan sekitar kampus yang mahal. Apalagi gerai makanan junk food seperti, McDonald\u2019s, KFC, Pizza Hut, Richesee, atau Burger King. Ingat, jauhi tempat makanan seperti itu!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita sebagai anak bidikmisi lebih baik makan di warung nasi pinggir jalan saja. Makan seadanya dengan nasi lauk tahu tempe. Untuk memperkaya rasa jangan lupa minta kuah ayam lodho dan minta sambal dalam jumlah banyak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lebih baik lagi kalau bisa mengidentikan mahasiswa bidikmisi sebagai ahli puasa, ini tambah bagus. Tirakatan puasa Senin-Kamis dan buka puasa seadanya dengan makan nasi putih dengan garam.<\/span><\/p>\n<h4>#3 Pakai hape jadul saja<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pandangan orang dengan melihat kekayaan seseorang dari hape yang dimiliki adalah cara berpikir yang sesat. Cara berpikir demikian membuat anak bidikmisi yang memiliki smartphone baru selalu memancing pertanyaan macam-macam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada yang bilang pasti sebenarnya dia anak orang kaya, buat pesugihan, pacaran sama om-om, atau buka layanan BO. Jadi, untuk mencegah itu semua lebih baik anak bidikmisi pakai hape jadul saja, semacam hape Nokia senter yang game-nya cuma Snake Henzia dan Bounce itu. Biar gokil!<\/span><\/p>\n<h4>#4 Tidak usah jalan-jalan, jauhi mal, kafe kekinian, dan tempat mahal lainnya<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Liburan juga tidak usah ya, Kawan. Daripada dihujat sana-sini, liburan dan jalan-jalan menimbulkan masalah yang tidak sepele. Pasti ada tanggapan-tanggapan nyinyir, seperti, \u201cDasar anak bidikmisi, dikasih uang buat kuliah malah dipakai foya-foya.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jauhi mal atau kafe kekinian yang harga makanannya tidak manusiawi itu. Kita sendiri tahu, uang bidikmisi yang kita miliki tidak banyak. Lebih baik buat bayar kos, ngeprint, makan di warung depan kampus dengan lauk tahu tempe. Pasalnya, kita tahu kalau update foto di mal, nonton, makan di kafe kekiniaan, sudah pasti menjadi bahan rasan-rasan lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menjadi mahasiswa jelata memang tidak mudah. Diberi kemudahan bisa kuliah membuat kita bertingkah sedikit saja sudah jadi bahan rasan-rasan. Begitulah lifestyle sebagai jalan ninja menjadi mahasiswa bidikmisi agar tidak terus-terusan jadi rasan-rasan masyarakat berlidah setan tersebut.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menyikapi-mahasiswa-yang-iri-sama-penerima-bidikmisi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Menyikapi Mahasiswa yang Iri Sama Penerima Bidikmisi<\/a><\/strong> <strong>dan tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/binggar-bimantara\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><span data-sheets-value=\"{&quot;1&quot;:2,&quot;2&quot;:&quot;Bingar Bimantara&quot;}\" data-sheets-userformat=\"{&quot;2&quot;:513,&quot;3&quot;:{&quot;1&quot;:0},&quot;12&quot;:0}\">Bingar Bimantara <\/span><\/a>lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mahasiswa bidikmisi diidentikkan kaum jelata nan miskin. Saya bangga dan tidak merasa minder dengan judge semacam itu.<\/p>\n","protected":false},"author":1097,"featured_media":97509,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[2807,9909,34],"class_list":["post-97123","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-bidikmisi","tag-lifestyle","tag-mahasiswa"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/97123","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1097"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=97123"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/97123\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/97509"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=97123"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=97123"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=97123"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}