{"id":96973,"date":"2020-12-29T06:55:56","date_gmt":"2020-12-28T23:55:56","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=96973"},"modified":"2020-12-29T02:58:48","modified_gmt":"2020-12-28T19:58:48","slug":"puan-maharani-ketimbang-menambah-periode-jabatan-presiden-mending-lakukan-3-hal-ini","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/puan-maharani-ketimbang-menambah-periode-jabatan-presiden-mending-lakukan-3-hal-ini\/","title":{"rendered":"Puan Maharani, ketimbang Menambah Periode Jabatan Presiden, Mending Lakukan 3 Hal Ini"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak ada angin, tidak ada hujan, dan Indonesia masih tampak begini-begini saja. Tiba-tiba Puan Maharani kepikiran untuk memperpanjang masa jabatan presiden yang sebelumnya hanya diperbolehkan dua periode saja menjadi tiga periode.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak yang akhirnya mengkritik usulan Puan Maharani yang memang tidak ada bagus-bagusnya itu. Jelas saja bahwa dari usulannya itu, Puan Maharani telah melupakan karakter mendasar yang dimiliki umat manusia yang hidup di abad ke-21, yakni cepat bosan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti halnya film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Tukang Bubur Naik Haji<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang menghabiskan total 2.185 episode, hanya dalam kurun waktu lima tahun saja menonton film itu sudah cukup membuat mabuk para penonton setia televisi gara-gara dianggap terlalu bertele-tele dan tak kunjung berkesudahan sekalipun tokoh utamanya telah lama tiada.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau saja film tersebut terus diperpanjang hingga hari ini tanpa mengindahkan betapa muaknya orang-orang menantikan akhir cerita, dampak terparahnya bukan saja akan menyebabkan mabuk nasional, melainkan juga berdampak pada hilangnya pangsa pasar bagi para tukang bubur yang betul-betul serius menjadi tukang bubur karena dikira bersekutu dengan Haji Sulam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sialnya, yang direpotkan dari fenomena mabuk semacam itu bukanlah golongan non-blok yang tidak peduli apakah bubur itu harus diaduk atau dibuang ke selokan. Yang direpotkan justru DPR karena harus mempertimbangkan bagaimana cara menerbitkan larangan peredaran bubur ke dalam RUU Minuman Beralkohol.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, kalau perkara film TBNH saja yang semata-mata dibuat sebagai produk kenikmatan sampai bisa membuat mabuk nasional, apalagi dengan masa jabatan presiden? Kita tahu kalau akar kebosanan dari film TBNH diperparah oleh kualitas film yang begitu-begitu saja. Lantas, apakah Puan mengira kualitas pengelolaan negara jauh lebih fantastis ketimbang film TBNH?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, ketiadaan sosok Haji Sulam jelas-jelas telah membuat film TBNH kehilangan jati dirinya. Sama dengan bangsa Indonesia yang kehilangan sosok Jokowi. Jujur saja, Jokowi yang dipilih 2014 silam adalah sosok yang berbeda dengan Jokowi yang menjabat presiden hari ini. Orang-orang memilih Jokowi yang hilang itu, bukan Jokowi yang memiliki anak dan menantu yang menang di Pilkada Solo dan Medan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alhasil, tidak heran jika film TBNH dan kepemimpinan Jokowi dianggap hambar, bertele-tele, dan lekas membosankan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Usulan Puan Maharani untuk menambah periode jabatan presiden memanglah tidak secara terang-terangan diperuntukkan kepada Jokowi. Tapi, siapa pun, bahkan tanpa perlu memiliki IQ berbintang seperti Sujiwo Tejo akan paham kalau hanya ada dua orang di antara 268.583.016 jiwa yang bisa menambah periode jabatan untuk ketiga kalinya, yakni SBY dan Jokowi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di antara keduanya, tentu saja yang paling mungkin mencalonkan diri adalah Jokowi. Usulan tiga periode ini, tentu saja tidak diarahkan untuk mengadu domba Jokowi dan SBY, melainkan sebagai jalan agar Jokowi tidak lekas menganggur setelah Pilpres 2024. Dalam artian, PDIP masih akan menjadi partai penguasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaannya, mengapa Puan Maharani berharap Jokowi ikut Pilpres sekali lagi? Padahal, dalam survei elektabilitas yang dilakukan oleh Indikator Politik pada Oktober lalu menunjukkan bahwa Ganjar memiliki elektabilitas tertinggi untuk Pilpres 2024.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Artinya, PDIP sebetulnya masih memiliki peluang menguasai negara sekali lagi tanpa harus mengandalkan Jokowi seorang jika survei elektabilitas itu akurat. Tetapi, nampaknya Puan meragukan hasil survey tersebut. Ganjar pun tidak punya brand tertentu yang membuat publik bisa betul-betul fanatik kepadanya. Apalagi, setelah menjabat sebagai gubernur, ia mengkhianati janji kampanyenya yang menolak tambang dan membela para petani.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara lawannya yang paling mungkin tentu saja adalah Anies Baswedan. Blio punya massa fanatik hasil akuisisi yang dilakukannya pada Pilkada DKI. Apalagi, belakangan Anies tampak semakin dekat saja dengan Habib Rizieq.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika dibiarkan begitu terus, tidak menutup kemungkinan kalau Anies akan mengakhiri era kejayaan PDIP dan mengalahkan Ganjar. Maka tidak heran, jalan pintas yang hendak diambil Puan begitu polos dan terang-terangan, yakni menambah periode jabatan presiden agar yang melawan Anies adalah Jokowi, bukan Ganjar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, Puan lupa kalau peluang Jokowi memenangkan Pilpres 2024 belum tentu semudah seperti pada periode-periode sebelumnya. Apalagi, Jokowi memang telah berniat menghabisi masa jabatannya kali ini dengan tanpa memberi citra-citra tertentu yang membuatnya masih layak dijunjung tinggi. Oleh karena itu, ketimbang membuat Jokowi harus berepot-repot membuka peluang menang, saya punya saran apa saja yang harus dilakukan Puan untuk mengalahkan Anies Baswedan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Pertama,<\/strong> memperpanjang periode jabatan Gubernur DKI Jakarta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini sebetulnya lebih gampang ketimbang memperpanjang periode jabatan presiden. Sebab, kalau memperpanjang periode jabatan presiden artinya harus mengubah konstitusi. Kita tahu untuk melakukan amandemen dibutuhkan syarat-syarat yang sulit dipenuhi seperti yang diatur dalam pasal 37 UUD.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebaliknya, kalau Puan hendak memperpanjang periode gubernur, Puan hanya perlu merevisi UU Pilkada. Dan, kalau bikin UU Cipta Kerja saja bisa, mustahil Puan tidak sanggup merevisi sebuah UU yang memang sudah langganan direvisi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apa yang direvisi? Puan hanya perlu mengatur agar gubernur DKI wajib menjabat selama 45 tahun berturut-turut tanpa pensiun. Tentu angka itu sudah mengakomodir peluang menjabat presiden untuk Ganjar, Gibran, Bobby, dan Puan sendiri. Alhasil, Anies tidak punya kesempatan mencalonkan diri sebagai presiden.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Kedua,<\/strong> meminta Jokowi agar berjanji akan menerapkan syariat Islam di Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebetulnya yang membuat Habib Rizieq kurang sreg dengan negara adalah hilangnya tujuh kata dalam sila pertama. Hal itu bahkan sudah blio tulis dalam disertasinya di Malaysia. Dengan berjanji untuk menerapkan syariat Islam, Jokowi telah melemahkan tuntutan dan keresahan Sang Habib beserta umatnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak penting Jokowi beneran mau menepati janjinya. Yang penting janji saja dulu. Belum lagi kalau Jokowi tiba-tiba melakukan sweeping malam tahun baru, menutup rumah ibadah non muslim, dan membakar bendera PKI. Otomatis, massa fanatik Habib Rizieq yang mendukung Anies akan beralih mendukung Jokowi dan PDI-P.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, saran ini terlalu berisiko, mending ikuti saran ketiga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Ketiga,<\/strong> membuat hoax kalau Anies akan menjadi pelatih MU.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya kira, klub paling diolok-olok di dunia ini adalah MU. Alih-alih menjadi presiden, hoax semacam itu akan membuat Anies jadi bahan tertawaan seluruh dunia. Mau aja nglatih tim medioker.<\/span><\/p>\n<p><em>Sumber gambar: Akun Twitter\u00a0<a href=\"https:\/\/twitter.com\/Harian_Jogja\/status\/1311193448574189570?s=20\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">@Harian_Jogja<\/a><\/em><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/hal-yang-menyebalkan-dan-sering-bikin-bingung-di-resep-masakan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Hal yang Menyebalkan dan Sering Bikin Bingung di Resep Masakan<\/a><\/strong><strong>\u00a0dan tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/ang-rijal-amin\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Ang Rijal Amin<\/a> lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba Puan Maharani kepikiran untuk memperpanjang masa jabatan presiden jadi tiga periode.<\/p>\n","protected":false},"author":792,"featured_media":81896,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[3372,559,9916,1353,3710],"class_list":["post-96973","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-dpr","tag-jokowi","tag-pdi","tag-presiden","tag-puan-maharani"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/96973","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/792"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=96973"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/96973\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/81896"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=96973"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=96973"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=96973"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}