{"id":96892,"date":"2020-12-28T11:21:49","date_gmt":"2020-12-28T04:21:49","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=96892"},"modified":"2020-12-28T11:00:07","modified_gmt":"2020-12-28T04:00:07","slug":"jika-plankton-memilih-jadi-pengusaha-bidang-teknologi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jika-plankton-memilih-jadi-pengusaha-bidang-teknologi\/","title":{"rendered":"Jika Plankton Memilih Jadi Pengusaha Bidang Teknologi"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam serial SpongeBob SquarePants, Sheldon J. Plankton adalah karakter yang jenius. Plankton begitu mengerti akan perkembangan teknologi. Bukan hanya itu, ia benar-benar mencintai teknologi, bahkan ia berani berkomitmen dan menikahi robot canggih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hanya saja dalam dunia bisnis, Plankton adalah pecundang. Bisnis restoran yang dinamakan Chum Bucket miliknya kalah telak dibandingkan restoran tetangganya sekaligus pesaingnya, Krusty Krab. Sudah kalah telak begitu lama, ia masih saja gigih ingin mengalahkan restoran pesaingnya tersebut. Padahal, ia tahu bahwa kualitas dan nikmatnya makanan pada restorannya, tak akan pernah mengalahkan Krusty Krab.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk memopulerkan Chum Bucket, Plankton sudah banyak melakukan berbagai cara. Hal ini dimulai dari mencoba membajak chef jenius SpongeBob, dari Krusty Krab. Tentu ini gagal, loyalitas SpongeBob terhadap Krusty Krab tidak pernah goyah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, ia pernah mencoba berbagai strategi marketing dan merekrut Patrick Star sebagai copywriter. Awalnya memang berhasil, Chum Bucket sempat ramai pengunjung, tapi nyatanya makanan yang disajikan oleh Chum Bucket tidak enak dan pengunjung pada kapok untuk datang kembali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Daripada berbisnis di bidang kuliner, melihat kejeniusan yang dimilikinya, bisa saja ia berbisnis di bidang teknologi. Begini ceritanya, jika Plankton banting setir dan menjadi pebisnis bidang teknologi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ia sadar akan restorannya yang terus merugi. Akhirnya, ia menutup Chum Bucket miliknya. Setelah merenung beberapa bulan, ia mencoba melakukan hal yang ia bisa, yaitu merakit robot. Namun, ia bingung, robot seperti apa yang harus ia buat. Lantas ia pun melakukan brainstorming dengan istrinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSayang, kira-kira robot seperti apa yang diperlukan warga Bikini Bottom saat ini,\u201d tanya Plankton.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBagaimana kalau membuat perahu listrik tanpa kemudi? Mengingat Bikini Bottom yang sudah sangat padat dan minimnya akses transportasi umum, perahu listrik tanpa kemudi bisa sangat dibutuhkan,\u201d kata Karen Plankton, istri Plankton.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIde bagus, Sayang.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cUntuk memastikan, bisa riset pasar dulu,\u201d Karen Plankton menutup pembicaraan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah melakukan riset pasar, dan dengan sumber daya yang terbatas, Plankton mencoba membuat perahunya sendiri. Namun, modal yang dimilikinya sangat terbatas. Ia memutuskan menemui Nyonya Puff, mengingat bahwa Nyonya Puff adalah pemilik dari sekolah mengemudi, harapannya adalah agar dirinya bisa mendapatkan perahu bekas dari Nyonya Puff.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNyonya Puff, maaf mengganggu. Apakah Nyonya memiliki perahu bekas yang tak terpakai? Jika iya, saya siap membelinya,\u201d kata Plankton.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAda satu, bekas ditabrak SpongeBob. Tapi, kondisinya sudah sangat parah, mau lihat dulu?\u201d Nyonya Puff membalas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMau,\u201d Plankton menjawab.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah melihat perahu bekas tersebut, ia pun tertarik untuk membelinya dan melayangkan harga tawar untuk perahu tersebut. Lantas Nyonya Puff suka dengan tawaran darinya dan akhirnya terjadilah proses jual beli perahu bekas tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Plankton merahasiakan tujuannya membeli perahu bekas dari Nyonya Puff. Takutnya, jika diberi tahu Nyonya Puff malah marah. Kan, Nyonya Puff pemilik sekolah mengemudi, nantinya kalau perahu bisa jalan sendiri, maka tidak perlu mengemudi lagi, bangkrut dong Nyonya Puff karena kehilangan murid.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak berselang lama, Plankton mengotak-atik perahu bekas yang dibelinya. Sebenarnya, dari perahu bekas tersebut, ia hanya membutuhkan rangka, ban, jendela, dan pintunya. Sisa mesin dan lainnya, ia coba ciptakan sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ia sukses membuat perahu listrik tanpa kemudi pertamanya. Walaupun belum sempurna, tapi lumayanlah untuk perahu pertama. Lantas, ia mencari investor yang mau memberikannya uang untuk mengembangkan produk perahu listrik tanpa awak tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk menyempurnakan dan memproduksi massal perahunya, ia merekrut Sandy Cheeks sebagai kepala teknisi. Tidak disangka, perahu listrik tanpa kemudi miliknya laris di pasar. Ia bahkan berkolaborasi dengan Squilliam Fancyson III untuk mengeluarkan perahu listrik tanpa kemudi edisi terbatas. Akhirnya, Plankton memetik buah kerja kerasnya dan menjadi kaya raya. Bahkan, ia sukses masuk list Bikini Bottom\u2019s 100 Richest People versi Forbes.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Walaupun sukses berjualan perahu listrik tanpa kemudi, ia masih penasaran akan bisnis kuliner. Akhirnya, dengan modal yang sudah tak terbatas dan pengalamannya berbisnis, ia memutuskan untuk membuat cloud kitchen. Bagi Plankton, cloud kitchen ini mirip dengan food court daring. Ini sangat cocok untuk kebiasaan masyarakat Bikini Bottom yang mulai rutin memesan makanan secara daring dan mulai jarang makan di tempat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, Plankton akan menyediakan dapur untuk berbagai pengusaha makanan skala kecil dan menengah. Pengusaha makanan tersebut hanya perlu memasak makanan enak dan mempromosikannya melalui berbagai kanal media sosial. Jika ada yang tertarik, maka konsumen bisa memesan melalui aplikasi yang diciptakan Plankton. Setiap pesanan makanan, akan dikirimkan dengan perahu listrik tanpa awak yang juga diproduksi oleh perusahaan miliknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bisnis cloud kitchen milik Plankton berhasil. Bahkan Tuan Krab, selaku pemilik dari Krusty Krab memutuskan untuk menutup restorannya. Tuan Krab tidak sanggup lagi membayar sewa dan operasional restoran miliknya. Maka dari itu, Tuan Krab memutuskan untuk bergabung dengan cloud kitchen milik Plankton.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kesuksesan Plankton berbisnis di bidang teknologi membuat banyak warga Bikini Bottom mencoba membuat bisnis teknologinya sendiri. Bahkan Sandy Cheeks mantan pegawainya memutuskan untuk keluar dari perusahaan miliknya dan mencoba membangun bisnis insang buatan miliknya. Sandy ingin agar suatu saat nanti, warga Bikini Bottom, bisa hidup nyaman di daratan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyaknya, perusahaan teknologi di Bikini Bottom membuat kota ini mendapatkan julukan Silicon Valley terbaru. Sama seperti Silicon Valley terbaru lainnya macam, Berlin, Tallinn, Stockholm, Tel Aviv, dan Bengaluru.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah sukses dalam berbisnis dan menjadi orang terkaya se-Bikini Bottom, sesekali Plankton mengisi kelas motivasi. Baginya, semua orang butuh motivasi. Tentu saja saat memberikan motivasi, Plankton tidak sedang melakukan bisnis ludah, Sahabat.<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tipe-tipe-pelanggan-yang-datang-ke-krusty-krab\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><strong>Tipe-tipe Pelanggan yang Datang ke Krusty Krab<\/strong><\/a><b><\/b>\u00a0<b><\/b><b>dan tulisan\u00a0<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/muhammad-ikhsan-firdaus\/\"><b>Muhammad Ikhsan Firdaus<\/b><\/a><b>\u00a0lainnya.<\/b><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam dunia bisnis, Plankton adalah pecundang. Bisnis restoran yang dinamakan Chum Bucket miliknya kalah telak dibanding Krusty Krab.<\/p>\n","protected":false},"author":649,"featured_media":97511,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[2086,1079,2090],"class_list":["post-96892","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-pengusaha","tag-plankton","tag-teknologi"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/96892","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/649"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=96892"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/96892\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/97511"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=96892"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=96892"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=96892"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}