{"id":96852,"date":"2020-12-27T05:32:28","date_gmt":"2020-12-26T22:32:28","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=96852"},"modified":"2020-12-24T13:16:24","modified_gmt":"2020-12-24T06:16:24","slug":"4-rekomendasi-aplikasi-baca-fan-fiction","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-rekomendasi-aplikasi-baca-fan-fiction\/","title":{"rendered":"4 Rekomendasi Aplikasi Baca Fan Fiction"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menjadi seorang fan atau penggemar dari sebuah film, buku, atau figur publik adalah keputusan hidup dan aktivitas yang paling membahagiakan. Ada banyak hal yang dapat kita apresiasi dari kegemaran terhadap idola, termasuk dengan fiksi penggemar atau fan fiction.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fan fiction adalah salah satu cara menunjukkan rasa cinta sekaligus menelurkan kreativitas kita lewat rangkaian kata. Membayangkan karakter idola berada dalam sebuah dunia yang kita ciptakan dan memfantasikan mereka dengan sifat, situasi, dan fisik yang kita bangun atas kuasa kita sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain mengabdikan diri sebagai penulis fiksi penggemar, saya juga gemar membaca karya-karya penulis lain. Beberapa tahun mondar-mandir di beberapa situs penyedia karya fiksi penggemar, saya menemukan adanya banyak perbedaan, baik dari fitur hingga kultur. Ini dia beberapa perpustakaan fiksi penggemar yang paling sering saya sambangi.<\/span><\/p>\n<h4><b>WordPress<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum aplikasi yang memudahkan kita untuk memublikasikan karya secara mandiri mulai naik daun, WordPress adalah tempat paling enak buat duduk bersila dan menggulir layar HP buat membaca fan fiction. Saya sering main ke sini sekitar tahun 2013. WordPress khusus didedikasikan untuk suatu fandom tertentu. Biasanya, tiap fandom punya alamat WordPress mereka sendiri, misalnya penggemar EXO dan BTS punya situs fan fiction WordPress mereka sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya dulu memilih buat sering mampir ke WordPress karena cerita-ceritanya yang \u201caman\u201d. Tulisan-tulisan di sini sistemnya mirip dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Penulis mengirimkan karyanya lewat halaman tertentu atau email admin, lalu admin akan menyeleksi dan menayangkan karya yang dianggap layak. Lantaran sudah dipilah sebelumnya, mayoritas tulisan di WordPress sudah bagus. Minimal tulisannya sesuai kaidah EBI dan pakai bahasa baku gitu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di WordPress, penulis juga harus menyertakan cover lengkap dengan panjang tulisan, genre, rating, dan summary di bagian awal. Ini wajib dilakukan biar pembaca bisa mengetahui cerita yang dibaca akan seperti apa nantinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, di WordPress banyak ketentuan yang ketat buat para penulis. Ada banyak batasan, misalnya rating cerita nggak boleh NC (No Children) atau 19+ ke atas. Ini nih yang bikin cerita monoton karena penulis nggak bisa mengeksplor genre yang lebih luas karena takutnya nanti berimbas pada rating cerita. Di WordPress, ada kecenderungan penulis yang aktif cuma itu-itu saja. Kalau mau jadi penulis, beberapa situs menganjurkan agar jadi anggota dulu.<\/span><\/p>\n<h4><b>Wattpad<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Agaknya semua umat kenal deh sama aplikasi berlogo oranye ini. Saya pun paling lama stay di Wattpad, tapi saya angkat kaki setahun yang lalu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wattpad semakin lama semakin kapitalis dengan banyaknya iklan dan sistem perkoinan. Dulu aplikasi Wattpad itu kayak ubin masjid, nyaman dan bikin pengin tinggal lebih lama. Baca cerita apa pun bebas dan nggak ada eksklusivitas bagi yang punya koin saja. Penulis dan pembaca pun sangat ramah dan saling dukung. Dulu saya sampai takut kecanduan Wattpad gara-gara semua kenyamanan ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fitur yang dipunyai Wattpad pun sebenarnya cukup lengkap dan enak. Cerita bisa kita simpan untuk dibaca secara offline. Komentar pun bisa diberikan pada paragraf tertentu secara khusus. Penulis juga bisa menambahkan tagar yang memudahkan pembaca untuk mencari cerita yang sesuai dengan keinginannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya Wattpad sudah berubah, kawan. Kualitas cerita, berdasarkan pengamatan saya, semakin menurun dengan alur monoton dan klise. Banyak pula bertebaran konten porno tanpa seni. Wattpad juga punya hukum bahwa banyaknya views nggak menjamin kualitas cerita. Tapi, Wattpad itu memang kayak Jogja, ngangeni. Walaupun sudah lama hiatus, ada rasa pengin menyambanginya lagi suatu saat.<\/span><\/p>\n<h4><b>Archive Of Our Own (AO3)<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bertemu AO3 itu bagaikan ketemu jodoh. Dengan perkenalan yang singkat, saya bisa langsung jatuh hati. Mayoritas karya-karya di AO3 adalah yang paling berani dan inovatif dengan konflik setajam silet. Variasi tulisannya nggak monoton macam WordPress atau sembarang porno seperti Wattpad. Pairing-nya pun kadang ngga terbayangkan alias antimainstream. Di sini bebas banget, mau memasangkan karakter orang dengan tumbuhan, benda dengan benda, semua bisa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cerita di AO3 pun bisa diunduh, jadi pembaca bisa menghemat kuota dan mengulang-ulang cerita favoritnya. Trik ini saya pakai buat belajar bahasa Inggris dengan highlight kata-kata yang asing bagi saya dan akan saya pelajari arti sekaligus konteks penggunaannya. Sejauh ini pun saya belum pernah menemukan iklan yang mengganggu selama menggunakan AO3.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Minusnya dari AO3 ini adalah tampilan yang cenderung nggak menarik karena satu halaman full dengan tulisan, nggak ada cover cerita atau gambar yang bisa ditambahkan penulis di setiap bagian tulisannya. Padahal cover dan gambar ini cukup penting buat membantu pembaca membayangkan narasi dari penulis.<\/span><\/p>\n<h4><b>Twitter<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Twitter sejatinya adalah media sosial, tapi beberapa saat belakangan ini banyak pengguna yang menjadikan Twitter sebagai tempat menyalurkan ide kreativitas mereka lewat fan fiction. Di Twitter, mereka menyebutnya alternate universe atau AU. Sementara di WordPress dan dunia fiksi penggemar secara umum, AU dikategorikan sebagai genre tulisan. Tapi, ya sudahlah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menggunakan Twitter sebagai media publikasi menurut saya berbeda dari peran masing-masing. Kalau dari segi penulis, karya kita bakal lebih gampang dilirik orang. Tapi, dari segi pembaca, saya tidak menyarankan Twitter sebagai tempat membaca karya karena basis FF atau AU di Twitter itu gambar. Selain boros kuota dan tenaga, kita jadi lebih capek.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita harus bookmark atau retweet secara manual untuk menandai bagian terakhir dari cerita yang kita baca. Beda sama Wattpad dan AO3 yang dapat menyimpan secara otomatis. Dan di Twitter, kita akan lebih rawan kena spoiler, apalagi jika kita ikut membaca AU yang lapaknya ramai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pernah mengalami hal tragis gara-gara AU yang sedang saya baca ternyata banyak diminati oleh orang lain juga. Satu timeline membahas akhir cerita dari AU tersebut dan jadilah trend. Ini malah bikin saya males lanjut karena sudah tahu ending-nya, padahal saya masih baca bagian awal, huhuhu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya masih ada situs lain kayak FFN, AsianFanfics, dll, tapi saya ngga sering mampir ke sana. Saya sudah kadung jatuh cinta sama AO3. Kalau kalian paling suka yang mana?<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tips-belajar-bahasa-korea-budget-minim-dan-anti-stres\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Tips Belajar Bahasa Korea Budget Minim dan Anti Stres\u00a0<\/a><\/strong><strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/noor-annisa-falachul-firdausi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><span data-sheets-value=\"{&quot;1&quot;:2,&quot;2&quot;:&quot;Noor Annisa Falachul Firdausi&quot;}\" data-sheets-userformat=\"{&quot;2&quot;:4737,&quot;3&quot;:{&quot;1&quot;:0},&quot;10&quot;:2,&quot;12&quot;:0,&quot;15&quot;:&quot;Arial&quot;}\">Noor Annisa Falachul Firdausi\u00a0<\/span><\/a>lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Fan fiction adalah salah satu cara menunjukkan rasa cinta sekaligus menelurkan kreativitas kita lewat rangkaian kata dan cerita.<\/p>\n","protected":false},"author":1077,"featured_media":96966,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[9898,421,4667],"class_list":["post-96852","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-fan-fiction","tag-twitter","tag-wattpad"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/96852","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1077"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=96852"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/96852\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/96966"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=96852"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=96852"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=96852"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}