{"id":96829,"date":"2020-12-27T05:58:27","date_gmt":"2020-12-26T22:58:27","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=96829"},"modified":"2020-12-24T02:59:00","modified_gmt":"2020-12-23T19:59:00","slug":"sebelum-nyinyir-sebaiknya-kenali-dulu-anarko","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sebelum-nyinyir-sebaiknya-kenali-dulu-anarko\/","title":{"rendered":"Sebelum Nyinyir, Sebaiknya Kenali Dulu Anarko"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memori tentang penangkapan 600-an &#8220;anggota anarko sindikalis&#8221; tahun lalu masih kuat di benak banyak orang. Salah satunya di benak Mas Muhammad Vicky AS. Kenangan ini blio tuangkan dalam sebuah<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-usulan-untuk-pemerintah-perihal-membimbing-anarko\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">artikel<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> pedas. Sebenarnya, isi artikel Mas Vicky AS ini menarik. Blio berhasil mengkritik pemerintah dalam penanganan pelaku aksi May Day 2019.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jujur, Anda sukses menunjukkan alternatif tepat guna. Apalagi menggugat sikap otoritas yang memilih menggunduli para anarko ini. Tapi, sayang sekali, Anda gagal memahami apa itu anarko dan anarkisme. Kritik Anda kepada perilaku anarko meleset dari dasar pemikiran kelompok hitam-hitam ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi izinkan saya untuk meluruskan persepsi Mas Vicky AS, sekaligus meluruskan salah paham yang disematkan pada anarko. Boleh saja mengkritik, nyinyiri, atau menghujat. Tapi, mbok ya jangan polos-polos banget.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama, Mas Vicky AS gagal mengidentifikasi siapa itu anarko. Tapi, saya mencoba untuk maklum. Toh anarko tidak sepopuler muda-mudi progresif yang memuja Karl Marx. Nah, Mas Vicky AS memandang anarko punya konsep yang sama dengan kiri-kiri lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mas, anarko tidak menyimbolkan diri dengan kepalan tangan kiri. Bahkan, mereka menolak spektrum kanan-kiri dalam politik. Mungkin yang Anda serang adalah gerakan sosialis dengan dasar pemikiran ala Marx. Lha Bakunin dan Marx saja musuhan pada Kongres Internationale Pertama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya, tidak ada simbol yang dipandang mewakili mereka. Paling yang dianggap simbol hanya <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u24b6<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> dan bendera hitam. Itupun juga dianggap sepele. Jadi jangan khawatir jika suatu saat Mas Vicky AS menginjak logo dan bendera tadi. Nggak ada pentingnya bagi mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi tidak mungkin jika mereka mau capek-capek mengkhatamkan buku Marx yang tebal itu. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Das Kapital<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> bukan landasan pemikiran mereka. Daripada baca buku tiga jilid itu, mending baca zine yang cuma beberapa halaman. Dan sebenarnya tidak ada landasan baku bagi anarko dalam melakukan pendekatan isu. Anarko itu antidogma lho.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan, petuah Bakunin saja tidak serta merta menjadi mantra wajib. Dalam tindakan yang biasa disebut aksi langsung, anarko mengedepankan situasi sekitar. Istilahnya kearifan lokal. Maka tidak ada cita-cita membangun &#8220;negara&#8221; anarkis seperti mimpi Internationale.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari konsep dasar saja, sudah ada gagal paham yang fatal. Anarko tidak menyepakati konsep-konsep Marxisme, dan cenderung membenci konsep itu. Bagi mereka, negara dalam bentuk apa pun adalah sumber masalah. Mau itu sosialisme, kapitalisme, bahkan pemujaan kepada dinamo atau paprika.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan panjang untuk mengejawantahkan apa itu anarko. Apalagi, anarko tidak punya dogma baku satu sama lain. Maksimal saya hanya bisa merangkum anarkisme sebagai konsep yang mengedepankan anti hierarkis, egalitarian, gotong royong, swakelola, dan individualisme. Landasan ini tidak diakomodir oleh konsep kiri kekimcil-kimcilan lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun sudah gagal mengidentifikasi, tapi bukan berarti keseluruhan artikel Mas Vicky AS salah. Terutama dalam kritik kepada sikap otoritas. Upaya untuk memberi efek jera memang tidak memiliki dampak banyak. Apalagi bagi mereka yang membenci konsep negara sampai ubun-ubun. Ngigau saja bisa meracau &#8220;fuck government, all cop are bastard!&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, beberapa saran Mas Vicky AS kurang tepat sasaran. Pertama masalah ternak lele. Walah, Mas, banyak komunal yang sudah sibuk mengurus usaha serupa. Apalagi bicara semangat gotong royong alias mutual aid serta swakelola. Sila Mas Vicky AS ngubek-ubek akun Instagram yang keanarko-anarkoan. Pasti banyak contoh usaha yang sudah berjalan sebelum Mas Vicky AS beropini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, usaha ini tidak berlandaskan jargon-jargon ala UMKM. Ngapain mereka peduli dengan roda ekonomi, ketika yang dimimpikan adalah meruntuhkan sistem ekonomi dan moneter. Nggak apa-apa kok jika kemarin salah paham karena anarko sedang sibuk banting tulang mengurusi usaha mereka sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalah poster juga lucu. Dalam aksi langsung, poster hanyalah alat. Itupun nggak penting-penting banget, maka posternya sering dianggap membosankan. Selain hitam putih hasil foto kopi, isinya lebih utama dari desain estetis. Maklum, mereka menolak sumbangan partai dan ormas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengusulkan anarko masuk ke pemerintahan juga menggemaskan. Lha wong mereka saja benci konsep negara. Mereka lebih menginginkan tatanan masyarakat yang bebas dari bentuk hierarkis, salah satunya negara. Yang ada, jika masuk gedung DPR malah gedungnya yang dibakar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, tidak ada yang lebih lucu dan menyebalkan selain &#8220;ketua anarko&#8221;. Anarki itu dari bahasa Yunani \u201ca\u201d dan \u201carchia\u201d. \u201cA\u201d itu berarti tanpa, dan \u201carchia\u201d berarti pemimpin. Jika digabung, anarki adalah tanpa pemimpin atau kepemimpinan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika Mas Vicky AS mau bertemu dengan ketuanya, saya sarankan untuk menemui seluruh individu yang menyebut diri anarko. Mereka pemimpin dari diri sendiri. Bahkan dalam komunal mereka, tidak ada satu orang yang ditunjuk sebagai pemimpin. Tapi, saya harus maklum lagi sih. Mas Vicky AS memang belum mengenal anarko.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semoga setelah ini, Mas Vicky AS tidak salah paham lagi. Tapi, salah paham pun mereka bakal bodo amat sih. Paling ditertawakan karena dianggap korban propaganda otoritas. Tapi, jangan sampai mencari ketua anarko, ya karena memang tidak ada!<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA\u00a0<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kisah-gusti-ahmad-ayahnya-dibunuh-selir-takhtanya-direbut-sultan-hb-vi-hidupnya-diburu-sultan-hb-vii\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><strong>Kisah Gusti Ahmad: Ayahnya Dibunuh Selir, Takhtanya Direbut Sultan HB VI, Hidupnya Diburu Sultan HB VII<\/strong><\/a>\u00a0<b><\/b><b>d<\/b><b>an tulisan\u00a0<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/dimas-prabu-yudianto\/\"><b>Prabu Yudianto<\/b><\/a><b>\u00a0lainnya.<\/b><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Izinkan saya untuk meluruskan persepsi Mas Vicky AS, sekaligus meluruskan kesalahpahaman yang (sering) disematkan pada anarko. <\/p>\n","protected":false},"author":793,"featured_media":83804,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[6231],"class_list":["post-96829","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-anarko"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/96829","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/793"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=96829"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/96829\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/83804"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=96829"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=96829"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=96829"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}