{"id":96602,"date":"2020-12-23T07:51:11","date_gmt":"2020-12-23T00:51:11","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=96602"},"modified":"2020-12-22T23:02:15","modified_gmt":"2020-12-22T16:02:15","slug":"haruskah-menteri-kesehatan-seorang-dokter","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/haruskah-menteri-kesehatan-seorang-dokter\/","title":{"rendered":"Haruskah Menteri Kesehatan Seorang Dokter?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Prof. Bambang Purwanto, guru besar jurusan Sejarah UGM dalam kongres Sejarah Kedokteran Indonesia di Jogja pada 2011, mempresentasikan makalahnya dengan pertanyaan utama, \u201cMungkinkah secara Sosiologis Menteri Kesehatan Itu Bukan Dokter?&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">It stuck in my mind.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaan itu terkait dengan konteks 3 profesi elite (guru, pengacara, dan dokter) sejak era Hindia Belanda yang telah mengalami &#8220;desakralisasi profesi&#8221;. Hal tersebut seiring dengan makin terbukanya orang yang bisa masuk ke profesi ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut Prof. Bambang Purwanto, hal itu didukung dengan semakin terlihatnya kerawanan profesi ini. Masyarakat dapat menilai bahwa manusia adalah makhluk yang punya kekurangan. Kedokteran dapat giliran terakhir. Lantaran sifat dari profesinya yang langsung memperpanjang hidup dan mengurangi penderitaan. Hingga asosiasinya terhadap bentuk-bentuk ideal dari seorang dokter bahwa (semua) dokter itu pasti A, pasti (paham) B.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lima puluh tahun lalu, yes we are probably the best profession to lead (public) health problems. Namun, sekarang ilmu dan tantangan begitu berkembang. Perkembangan disiplin kedokteran dengan ilmu lain semakin bercabang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak terelakkan dari perkembangan zaman dan memang diperlukan untuk tidak terjebak pada dogma. Nye Bevan, arsitek NHS UK sudah melihat hal ini pada 1945 setelah perang dunia selesai untuk memisahkan the manager from the physician. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Demikian juga dengan US sejak managed care diperkenalkan. Mereka mulai memisahkan antara the doctor and the manager. Ada pemisahan antara menangani pasien dengan memperbaiki sistem kesehatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Implikasi dari pendekatan &#8220;lama&#8221; tersebut nggak ada mindset monitoring dan evaluasi yang kuat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contoh praktis :<\/span><\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Data clinical registry (cancer, stroke, etc) inisiatif dari 2012 sampai sekarang belum rilis.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Perbedaan laporan vaksin rutin dari tahun ke tahun (RISKESDAS vs SDKI).<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak ada data mutu kualitas pelayanan kesehatan di level faskes.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lantas, bagaimana mau menjawab pertanyaan berikut?<\/span><\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Siapa yang paling terdampak kanker, stroke, diabet?<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kelompok demografis seperti apa yang belum tercover vaksin?<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Faskes mana yang perlu didorong mutunya?<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka, nggak heran bentuk kebijakan yang keluar adalah berbagai pendekatan yang nggak clear evaluasinya. Biasanya hanya pre dan post maupun intervensi atau kontrol. Padahal, metode evaluasi kebijakan sudah begitu maju.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Prof. Esther Duflo (Nobel Laureate Ekonomi) dan koleganya di MIT, Harvard (Prof. Ben Olken dan Prof. Rema Hanna) misalnya, menggunakan RCT untuk evaluasi efektivitas berbagai kebijakan sosial di Indonesia. Salah satunya desain Program Keluarga Harapan (PKH). <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, Ilmu Sosial adopsi RCT dari Kedokteran! Tapi, our very own Ministry of Health terlambat jauh dalam pendekatan kebijakannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi kembali ke Pak <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Budi Gunadi Sadikin<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, background itu sekunder tapi kita butuh perspektif lain. Apakah dia akan menyelesaikan semua persoalan? Barangkali tidak. Kalau mindset data-driven policy nggak jalan dan kembali pada intuisi, ya sama saja <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Pendekatannya mungkin perlu reshuffle \u201csatu gedung\u201d. Ini juga autokritik sebagai dosen. Perlu dipikirkan ulang bagaimana pendidikan pascasarjana agar betul-betul dapat mendorong data-driven policy?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Satu hal yang menarik dari statement beliau di diskusi dengan<\/span><a href=\"https:\/\/twitter.com\/CISDI_ID\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"> <span style=\"font-weight: 400;\">@CISDI_ID<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> Jumat kemarin. Beliau bilang, &#8220;Ini krisis kesehatan, bukan krisis ekonomi. Jadi pendekatannya harus kesehatan.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di hari yang sama Jumat pagi itu, Prof Joe Stiglitz, ekonom dengan Nobel Laureate kasih kuliah. Statementnya di kuliah itu, &#8220;It isn&#8217;t the lockdown that dampens the economy, it is the disease (Covid-19).&#8221;<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mari-sambut-dengan-tawa-wacana-menkes-terawan-soal-wisata-kebugaran-jamu-dan-kerokan\/\"><b>Mari Sambut dengan Tawa Wacana Menkes Terawan Soal Wisata Kebugaran, Jamu, dan Kerokan<\/b><\/a><b>. Ikuti <\/b><b>Giovanni van Empel<\/b><b> di <\/b><a href=\"https:\/\/twitter.com\/Giovanni_Empel\"><b>Twitter.<\/b><\/a><\/p>\n<h6><i><span style=\"font-weight: 400;\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">ini<\/span><\/i><\/a><i><span style=\"font-weight: 400;\"> ya.<\/span><\/i><\/h6>\n<h6><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/span><\/i> <a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">di sini.<\/span><\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di US sejak managed care diperkenalkan, ada pemisahan antara menangani pasien dengan memperbaiki sistem kesehatan.<\/p>\n","protected":false},"author":1240,"featured_media":96605,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[760,256,5524],"class_list":["post-96602","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-featured","tag-dokter","tag-kesehatan","tag-menteri-kesehatan"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/96602","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1240"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=96602"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/96602\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/96605"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=96602"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=96602"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=96602"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}