{"id":96033,"date":"2020-12-21T06:36:38","date_gmt":"2020-12-20T23:36:38","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=96033"},"modified":"2020-12-29T05:16:31","modified_gmt":"2020-12-28T22:16:31","slug":"karakter-perempuan-madesu-dalam-anime-bukan-cuma-masalah-naruto-dan-boruto","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/karakter-perempuan-madesu-dalam-anime-bukan-cuma-masalah-naruto-dan-boruto\/","title":{"rendered":"Karakter Perempuan Madesu dalam Anime Bukan Cuma Masalah Naruto dan Boruto"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa hari lalu ada tulisan menarik dari Mas <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/masa-depan-suram-character-development-tokoh-perempuan-dalam-naruto-dan-boruto\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Adi Sutakwa<\/a> terkait kembalinya Masashi Kishimoto sensei sebagai mangaka <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Boruto<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan nasib buruk yang bakal menimpa karakter perempuan di dalamnya. Dari tulisan tersebut, ada kesan banyak mangaka enggan menulis cerita dengan karakter perempuan kuat dan multidimensional. Salah satunya adalah manga <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Naruto<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang memaksa mayoritas ninja perempuannya menjadi ibu rumah tangga alias sindrom <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dragon Ball<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dragon Ball<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, banyak petarung perempuan yang disajikan sebagai karakter badass di awal serial, akhirannya cuma berakhir jadi ibu rumah tangga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, yang jadi pertanyaan, kenapa industri manga memilih rute masa depan suram dalam menampilkan karakter perempuannya? Setelah kita lihat, ternyata banyak manga dengan model karakter perempuan seperti ini condong ditemukan pada demografi majalah shonen. Pakem industri manga sendiri awalnya membagi jenis manga berdasarkan demografi pembaca majalah tempat serial tersebut terbit. Ada empat klasifikasi demografi majalah manga yaitu shonen (remaja laki-laki), seinen (pria dewasa), shoujo (remaja perempuan), josei (wanita dewasa).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alasan majalah shonen salah satu paling bermasalah dalam menulis karakter perempuannya adalah karena mereka nggak punya editor perempuan. Di tahun 2020 seperti ini, banyak perusahaan majalah Shonen raksasa seperti Shueisha masih ogah mempekerjakan editor perempuan. Bahkan salah satu berita kontroversial tentang Shueisha setahun terakhir, selain Nobuhiro Watsuki dipekerjakan kembali oleh <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Shonen Jump<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> setelah tertangkap mengoleksi pornografi anak adalah fakta bahwa belum ada editor perempuan sepanjang 50 tahun sejarah Shonen Jump.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam salah satu seminar terkait profesi editor manga di suatu universitas, salah satu pembicara menjawab pertanyaan peserta soal apakah perempuan bisa menjadi editor <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Shonen Jump<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Pertanyaan tersebut dibalas dengan jawaban bahwa bisa tetapi Anda harus mengerti perasaan para laki-laki seperti dilansir <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Huffington Post<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Jawaban seksis ini menjadi lucu karena sepertinya Shueisha lebih berat hati mempekerjakan editor perempuan. Celakanya, Shueisha mempekerjakan kembali tiga predator seksual (Shimabukuro, Watsuki , dan Matsuki) yang telah dinyatakan bersalah oleh pengadilan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentunya pernyataan bahwa perempuan harus bisa mengerti perasaan pria kalau mau jadi editor majalah Shonen adalah argumen omong kosong. Banyak mangaka shonen sukses dan ternama adalah perempuan termasuk yang serialnya diterbitkan oleh Shueisha. Sebut saja Katsura Hoshino (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">D.Gray-man<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), Akira Amano (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Katekyo Hitman Reborn<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), Kazue Kato (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Blue Exorcist<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), dan terbaru Gege Akutami (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Jujutsu Kaisen<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">). Jika perempuan tidak mengerti perasaan pembaca laki-laki, kenapa Shueisha menerbitkan manga Shonen karya perempuan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terus, apakah memang betul mayoritas pembaca <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Shonen Jump<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> itu remaja laki-laki? Menurut survei <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Oricon<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Shonen Jump<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah manga pilihan nomor satu pembaca perempuan Jepang, bahkan di atas majalah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Shojo<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Survei lebih mengejutkan dari Nikkei menyatakan bahwa setengah pembaca <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Shonen Jump<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> itu perempuan. Manga seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Haikyuu!, Gintama, Katekyo Hitman Reborn, Kuroko no Basuke, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dan<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> One Piece <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">ternyata<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">adalah serial yang populer di kalangan pembaca perempuan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam hal ini, masalah kebutuhan editor perempuan di majalah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Shonen Jump<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> bukan lagi masalah representasi tapi juga masalah sensitivitas dalam membuat cerita. Hiromu Arakawa, mangaka shonen legendaris ini pernah mengeluh kesulitan menghadapi editor pria di awal penulisan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Full Metal Alchemist<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Arakawa bilang bahwa dia ingin menghadirkan Winry Rockbell lebih cepat untuk mengimbangi dominasi karakter pria di awal cerita, tetapi usul itu ditolak oleh editornya. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Full Metal Alchemist<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> juga terkenal karena banyaknya karakter perempuan kuat dan multidimensional seperti Olivier Mira Armstrong dan Riza Hawkeye. Kedua karakter ini ada bukan hanya ada sebagai beban atau calon ibu rumah tangga, tetapi sebagai partner setara dan bahkan pelindung karakter pria di dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Full Metal Alchemist<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di lain pihak, banyak manga shonen yang ditulis atau digambar perempuan mulai memutuskan untuk membuat karakter utama perempuan sebagai fokus utama. Dalam hal ini ada Kore Yamazaki (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Ancient Magus Bride<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), Posuka Demizu (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Promised Neverland<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), dan duo Adachitoka (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Noragami<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">). Ini menunjukkan ada usaha untuk memenuhi ekspektasi makin beragamnya pembaca Shonen terhadap karakter perempuan yang bukan cuma pemanis mata.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menaruh editor perempuan pada majalah yang secara tradisional fokus kepada pembaca pria juga bukan suatu upaya mengurangi kelaki-lakian majalah tersebut. Majalah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Shoujo<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Josei<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sudah punya tradisi lama mempekerjakan editor pria walaupun target demografi majalah tersebut adalah untuk perempuan. Makanya jangan kaget manga <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Shoujo<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Cardcaptor<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400;\">Sakura<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> karya Clamp atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Josei<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kids on the Slope<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> karya Yuki Kodama punya karakter pria yang sama kuat dari segi fokus dan karakterisasi dengan partner perempuannya. Bahkan serial <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Shojo<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Banana Fish<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> besutan Akimi Yoshida dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Josei Showa Genroku Rakugo Shinjuu<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> oleh Haruko Kumota diisi mayoritas karakter pria dewasa. Akhirnya banyak orang salah kaprah bahwa kedua manga terakhir adalah serial seinen untuk pria dewasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sebagai pembaca pria pun merasa demografi manga yang ditentukan oleh gender sudah kuno. Salah satu serial manga dewasa favorit saya adalah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Showa Genroku Rakugo Shinju<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> karya Haruko Kumota. Cerita serius soal jatuh bangunnya Yakumo, seniman tradisional Jepang melawan arus zaman ini bisa dinikmati oleh pria pecinta manga seinen walaupun ditulis oleh perempuan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedangkan manga Shonen sedang terbit favorit saya saat ini adalah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Noragami<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> karya duo perempuan Adachitoka. Walaupun Yato bisa dibilang lead character dari serial ini, Noragami diceritakan sepenuhnya dari perspektif Hiyori sebagai perempuan. Bahkan karakter Hiyori bisa dibilang melabrak cliche dengan ditampilkan sebagai penggemar pro wrestling walaupun punya tampilan feminin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kayanya pembaca manga Shonen sekarang sudah tidak bisa menerima sindrom <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dragon Ball <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">sebagai bagian dari cerita atau karakter model seperti Misa Amane dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Death Note<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Apalagi jika industri manga dan anime memang mau menembus pasar Amerika Serikat dan Eropa. Menaruh editor perempuan pada majalah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Shonen<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah solusi untuk mendorong mangaka membuat karakter perempuan multidimensional dan memberikan kebebasan lebih pada mangaka perempuan. Udah nggak zaman karakter beban doang model Sakura atau fan service semata seperti Misa.<\/span><\/p>\n<p><em>Sumber gambar:\u00a0<a href=\"https:\/\/twitter.com\/SimpTodoroki\/status\/1291796237922873345?s=20\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><strong>Twitter Simptodoroki<\/strong><\/a>.<\/em><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-film-korea-tentang-kesenjangan-sosial-selain-parasite\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">\u00a03 Film Korea tentang Kesenjangan Sosial selain Parasite\u00a0<\/a><\/strong><strong>dan<\/strong><strong>\u00a0tulisan lainnya dari\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/raynal-arrung-bua\/\">Raynal Arrung Bua<\/a>.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Alasan majalah shonen salah satu paling bermasalah dalam menulis karakter perempuannya adalah karena mereka nggak punya editor perempuan.<\/p>\n","protected":false},"author":734,"featured_media":71540,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[5555,6364,9864,9865,2778,9866],"class_list":["post-96033","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-boruto","tag-dragon-ball","tag-karakter-perempuan","tag-mangaka","tag-naruto","tag-shonen"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/96033","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/734"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=96033"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/96033\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/71540"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=96033"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=96033"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=96033"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}