{"id":95927,"date":"2020-12-22T10:00:03","date_gmt":"2020-12-22T03:00:03","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=95927"},"modified":"2020-12-22T06:12:25","modified_gmt":"2020-12-21T23:12:25","slug":"panduan-membedakan-kota-dan-kabupaten-pekalongan-biar-nggak-salah-lagi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/panduan-membedakan-kota-dan-kabupaten-pekalongan-biar-nggak-salah-lagi\/","title":{"rendered":"Panduan Membedakan Kota dan Kabupaten Pekalongan biar Nggak Salah Lagi!"},"content":{"rendered":"<p>Saya warga Kota Pekalongan tulen. Ingat ya Kota Pekalongan, bukan Kabupaten Pekalongan. Saya mengingatkan itu sebab banyak kawan, kolega, dan orang lain yang tak bisa membedakan mana kota dan mana kabupaten.<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sendiri sering ditanya hal-hal yang berhubungan dengan Kabupaten Pekalongan oleh seorang teman yang kebetulan berasal dari kota lain nun jauh di sana. Pertanyaan itu jelas-jelas bikin saya muntab, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">lha wong<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> saya itu orang Kota Pekalongan kok, bukan kabupaten.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertanyaan yang mencuat, misalnya soal tempat wisata. Banyak teman-teman yang nggak tahu kalau tempat wisata bernuansa pegunungan, perbukitan, dan air terjun itu adanya di Kabupaten Pekalongan. Tapi, tetap saja mereka bodo amat. Pokoknya kalau saya dari Pekalongan, ya mesti tahu juga hal-hal yang berkaitan dengan Pekalongan, nggak cuma kotanya!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pernah ditanya oleh seorang teman dari luar kota begini, &#8220;Tahu Curug Bajing nggak? Aku diajak ke sana, dong!&#8221; Lha modyar! Ke sana saja belum pernah, kok disuruh jadi semacam tour guide. FYI, Curug Bajing itu letaknya di Kabupaten Pekalongan, tepatnya di Kecamatan Petungkriyono.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kamu tanya soal pantai, nah saya baru bisa menjawabnya. Sebab satu-satunya destinasi alam di Kota Pekalongan ya cuma pantai dan laut. Selain menjadi destinasi wisata, keduanya juga yang sering bikin emosi lantaran mendatangkan bencana rob.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Well, agar pemahaman kalian nggak keliru-keliru amat tentang dua daerah ini. Yhaaa setidaknya biar kalau tiba di Pekalongan nggak nyasar, saya akan berikan semacam panduan. Mohon dipahami, sebab pemerintah daerahnya sendiri saja sering keliru.<\/span><\/p>\n<p><b>Pertama, <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">mari kita mulai dari julukan. Setiap kota tentu punya julukan masing-masing. Semarang dengan Kota Lumpia, Bogor dengan Kota Hujan, Jogja dengan Kota Romantis, dan lain-lainnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kota dan Kabupaten Pekalongan juga punya julukannya masing-masing. Kabupaten Pekalongan sering disebut sebagai Kota Santri. Mungkin di antara kalian ada yang protes, lho bukannya Kota Santri itu Situbondo? Eh, bukannya Jombang ya? Eh, mungkin Kendal?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang Kota Santri adalah julukan kota yang paling klise. Mau gimana lagi, sosok santri sungguh istimewa. Tapi buat Kabupaten Pekalongan, Kota Santri bukan sekadar julukan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain karena di Kabupaten Pekalongan tersebar sekitar 100 lebih pesantren, julukan Kota Santri ini merupakan akronim dari kata Sehat, Aman, Nyaman, Tertib, Rapi, dan Indah. Itu semacam filosofi dari Kabupaten Pekalongan sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nggak mau kalah, Kota Pekalongan juga punya julukan, dong. Coba kalian ketik di Google &#8220;Kota Batik&#8221;. Saya yakin, Google akan langsung mengarahkan ke Kota Pekalongan. Bahkan ada sebuah lagu milik <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Slank yang liriknya &#8220;Kota Batik di Pekalongan, bukan Jogja, bukan Solo<em>&#8230;&#8221;<\/em><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski begitu, masih banyak orang yang keliru, termasuk para pejabatnya. Saya sering mendengarkan pidato dari Bupati Pekalongan yang mengaku-ngaku Kabupaten Pekalongan adalah Kota Batik. Begitu pula saat mendengar pidato Walikota Pekalongan yang beberapa kali menyebut Kota Pekalongan adalah Kota Santri.<\/span><\/p>\n<p><b>Kedua,<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> secara struktural, Kota dan Kabupaten Pekalongan memiliki perbedaan yang teramat mencolok. Dari yang paling atas saja, kabupaten dipimpin seorang bupati, sedangkan kota dinakhodai seorang walikota. Kalau soal polarisasi partai mana yang dominan, itu bisa dibahas kapan-kapan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ihwal otonomi di bawahnya, karena Kota Pekalongan luasnya terbilang sempit, hanya sekitar 45,25 kilometer persegi, maka jumlah kecamatannya juga tak banyak, hanya empat saja. Itu pun penamaannya dibikin sesimpel mungkin, yaitu dengan memanfaatkan arah mata angin, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Pekalongan Utara, Barat, Timur, dan Selatan. Sedangkan Kabupaten Pekalongan memiliki wilayah yang lebih luas. Luas wilayahnya kira-kira 837 kilometer persegi atau 18 kali lipat lebih luas daripada kota. Jumlah kecamatannya pun seingat saya ada 19 kecamatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun pemerintah kota sering mengakui kotanya adalah kota kreatif, untuk urusan nama kecamatan, bagi saya kabupaten jauh lebih kreatif. Kabupaten nggak mengandalkan arah mata angin yang tentu jumlahnya nggak sebanding dengan jumlah kecamatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya kasih tahu, di Kabupaten Pekalongan ada Kecamatan Kandangserang, Lebakbarang, Doro (ini bukan sejenis burung yaaa), Karangdadap, Kajen, Bojong, Petungkriyono, dan masih banyak lagi. Karena saya bukan orang kabupaten, harap maklum kalau nggak bisa menyebutkan semuanya. Yang paling mengacaukan dunia persilatan alias membingungkan adalah struktur di bawahnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kabupaten memakai sistem desa, sementara kota menggunakan sistem kelurahan. Setahu saya, dan mungkin juga kalian, sebuah desa itu dipimpin oleh Kepala Desa, dan kelurahan dipimpin oleh Lurah. Namun, kalau kalian kebetulan berada di Kabupaten Pekalongan, hindarilah untuk bertanya alamat rumah Pak Kades pada penduduk setempat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebab, berdasarkan penuturan teman-teman saya yang merupakan penduduk asli Kabupaten Pekalongan, para warga di sana memanggil kepala desa bukan dengan sebutan Pak Kades, melainkan Pak Lurah. Akan tetapi, di Kota Pekalongan, seorang lurah itu yaaa pemimpin kelurahan. Eh, kata teman saya yang lain, di kabupaten juga ada kelurahan. Pusing-pusing, Koen~<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau di kabupaten, bawahnya desa masih ada lagi, yaitu dusun, pemimpinnya Kadus. Dan yang menarik, pemilihan Kadus ini dengar-dengar lebih demokratis. Orang minim pengalaman pun bisa jadi Kepala Dusun. Sementara di kota nggak ada dusun, melainkan langsung RT\/RW.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dua aspek itulah yang paling mencolok untuk membedakan Kota dan Kabupaten Pekalongan. Selebihnya, saya rasa keduanya memiliki kesamaan-kesamaan yang tak mungkin terelakkan. Makanya, hanya penduduk asli yang cakap membedakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum lagi keduanya juga sama-sama meminjam kata &#8220;Pekalongan&#8221;. Konon, kata &#8220;Pekalongan&#8221; sendiri diambil dari sebuah pertapaan seorang tokoh bernama Bahurekso yang disebut &#8220;Tapa Ngalong&#8221;. Posisi bertapa dengan kaki di atas kepala di bawah yang menyerupai kalong.<\/span><\/p>\n<p>Jadi, kapan mau main ke Pekalongan?<\/p>\n<p><em>Sumber Gambar: <a href=\"https:\/\/www.javatravel.net\/tempat-wisata-pekalongan\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">javatravel.net<\/a><\/em><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menghitung-kekayaan-aldebaran-suaminya-andin-di-ikatan-cinta\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Menghitung Kekayaan Aldebaran Suaminya Andin di \u2018Ikatan Cinta\u2019\u00a0<\/a><\/strong><strong>dan\u00a0<\/strong><strong>tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/muhammad-arsyad\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Muhammad Arsyad<\/a><\/strong>\u00a0<strong>lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Banyak orang berpikir Kota Pekalongan dan Kabupaten Pekalongan sama saja. Padahal keduanya berbeda dan bahkan memiliki julukan yang tak sama~<\/p>\n","protected":false},"author":448,"featured_media":96280,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[4576],"class_list":["post-95927","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-pekalongan"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/95927","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/448"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=95927"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/95927\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/96280"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=95927"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=95927"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=95927"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}