{"id":95599,"date":"2020-12-19T08:15:19","date_gmt":"2020-12-19T01:15:19","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=95599"},"modified":"2020-12-18T20:31:40","modified_gmt":"2020-12-18T13:31:40","slug":"perbedaan-mencolok-warung-kelontong-milik-orang-madura-dan-batak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/perbedaan-mencolok-warung-kelontong-milik-orang-madura-dan-batak\/","title":{"rendered":"Perbedaan Mencolok Warung Kelontong Milik Orang Madura dan Batak"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbicara warung kelontong, tidak bisa dipisahkan dari suku Madura dan suku Batak. Dua suku ini bersaing ketat dalam urusan per-kelontong-an, terutama di daerah Jakarta dan sekitarnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebut saja, di daerah Jakarta mana yang tidak ada warung kelontong Madura dan Batak. Tentu saja sulit menjawabnya. Saking banyaknya, bisa jadi warung yang ada di gang rumahmu milik mereka juga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kehadiran warung kelontong mampu membantu banyak kalangan dalam memenuhi kebutuhannya. Mulai dari emak-emak yang kehabisan gas ketika memasak, bapak-bapak yang butuh kopi buat ngeronda, dan bocah-bocah yang butuh chiki di dalam hidupnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun tidak penting warung itu milik orang Madura atau orang Batak, karena yang penting penyediaan kebutuhan, pelayanan, serta harga yang kompetitif. Itu sudah cukup bagi pelanggan. Ya kali, kita mau ke warung kelontong yang pelayanannya sambil marah-marah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, nggak ada salahnya juga kalau kita tahu bedanya warung kelontong Madura dan warung kelontong Batak. Dari rasa penasaran itu, saya bertanya ke beberapa teman terkait perbedaannya.<\/span><\/p>\n<h4>#1 Jam buka warung<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Warung kelontong Madura cenderung memiliki jam buka yang lebih lama daripada warung milik orang Batak. Malah banyak dari mereka yang buka 24 jam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penjaga warung biasanya cuma dua orang. Dan dua orang ini yang bertugas menjaga selama 24 jam. Saya penasaran bagaimana mereka mengatur supaya bisa terus buka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Yahhh. Nanti gantian. Ada yang jaga dari pagi sampe malam, yang satunya istirahat. Ada yang jaga dari malam sampe pagi, yang satunya istirahat,&#8221; jawab teman saya dengan santainya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, bagi kalian yang butuh Indomie di tengah malam, tinggal datang saja ke warung kelontong Madura. Kalau mereka tutup, tinggal ketok pintunya. Saya yakin, mereka bakal membukakan pintu.<\/span><\/p>\n<h4>#2 Bensin eceran<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagian ini cukup mudah membedakannya. Lantaran bensin eceran biasanya dipajang di bagian depan toko. Seakan menyapa setiap pengendara untuk mengisi bensin mereka di sana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Warung kelontong Madura biasanya berjualan bensin eceran di depannya. Sedangkan warung milik orang Batak, tidak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penasaran membuat saya mengecek ke warung milik orang Batak yang ada di belakang kontrakan. Dan benar, mereka tidak menjual bensin eceran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Urusan bensin eceran memang orang Madura ahlinya. Di Pulau Madura sendiri, mereka malah berani menjual bensin eceran di depan pom bensin.<\/span><\/p>\n<h4>#3 Perhatikan wadah beras<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Warung kelontong tanpa beras seakan mengurangi nilai serba adanya. Sebagai makanan pokok, tentu beras wajib ada.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perbedaan kali ini bukan terletak pada berasnya, tetapi wadah yang dipakai. Lantaran letak beras biasanya ditaruh di bagian dalam toko, kita harus sedikit teliti.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Warung milik orang Madura biasanya menggunakan etalase sebagai wadah berasnya. Sedangkan warung milik orang Batak biasanya menggunakan bak atau wadah kayu yang dibentuk persegi.<\/span><\/p>\n<h4>#4 Peletakan rokok<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagian ini tentu bapak-bapak ahlinya. Coba kamu perhatikan bagaimana bungkus rokok dipajang di sebuah warung. Mungkin tidak ada perbedaan, karena rokok memang tidak terlalu mencolok. Akan tetapi jika kamu lebih jeli, ada perbedaan di sana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rokok di warung milik orang Madura biasanya disusun tidur dengan bagian bawah yang ditampilkan ke depan. Sedangkan warung kelontong Batak dipajang dengan posisi berdiri, seperti pajangan di minimarket.<\/span><\/p>\n<h4>5# Susunan chiki<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Demi melayani kebutuhan bocah-bocah, beraneka ragam chiki atau makanan ringan harus disediakan. Tentu dengan harga yang terjangkau, kisaran harga 500-5.000 rupiah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada perbedaan yang cukup mencolok di bagian ini. Warung milik orang Madura biasanya memajang dengan cara menusuk bagian pojok satu persatu chiki sampai membentuk tumpukan dan menggantungkannya. Sedangkan warung kelontong Batak cenderung mengaitkannya pada seutas tali dan dibiarkan menjuntai atau dibiarkan saja dengan wadah plastik bening yang diikat pojokannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah beberapa perbedaan yang bisa kamu temukan. Tulisan ini masih bersifat subjektif. Pasalnya, selain saya orang Madura, saya juga bertanya ke beberapa teman kelontong Madura. Monggo, jika ada tulisan balasan subjektif dari orang Batak.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/madura-dan-pernak-perniknya-yang-orang-sering-salah-sangka\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Madura dan Pernak-perniknya yang Orang Sering Salah Sangka<\/a><\/strong> <strong>dan tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/abdul-hamid\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Abdul Hamid<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebut saja, di daerah Jakarta mana yang tidak ada warung kelontong Madura dan Batak. Tentu saja sulit menjawabnya.<\/p>\n","protected":false},"author":619,"featured_media":95806,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[6458,5020,6225],"class_list":["post-95599","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-batak","tag-madura","tag-warung-kelontong"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/95599","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/619"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=95599"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/95599\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/95806"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=95599"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=95599"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=95599"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}