{"id":95466,"date":"2020-12-19T06:46:11","date_gmt":"2020-12-18T23:46:11","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=95466"},"modified":"2021-03-05T16:20:45","modified_gmt":"2021-03-05T09:20:45","slug":"surat-terbuka-untuk-romo-magnis-suseno-yang-punya-yolalitas-di-dadanya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/surat-terbuka-untuk-romo-magnis-suseno-yang-punya-yolalitas-di-dadanya\/","title":{"rendered":"Surat Terbuka untuk Romo Magnis-Suseno yang Punya \u2018Yolalitas\u2019 di Dadanya"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Halo, Romo Magnis-Suseno. Perkenalkan, saya Hugo, seorang wartawan sepak bola yang berambisi mengubah Indonesia. Saya tampaknya terlalu mengimani slogan andalan dari Romo Soegijapranata yang bunyinya \u201c100% Katolik 100% Indonesia\u201d. Sebagai umat Katolik sekaligus rakyat Indonesia, bukankah sudah sepantasnya kalau saya ikut-ikut membahas negara?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sisi lain, saya malu sama Romo Magnis. Romo itu kan aslinya orang Jerman. Kebetulan masuk ordo Jesuit dan ditugaskan di Indonesia sejak<\/span><a href=\"https:\/\/tirto.id\/m\/franz-magnis-suseno-jm\"> <span style=\"font-weight: 400;\">1961<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Ndilalah Romo itu kok rasa cintanya pada Tanah Air ini munjul-munjuli saya yang pribumi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buktinya banyak. Romo Magnis-Suseno dengan kesadaran memilih jadi WNI. Di setiap foto, Romo selalu tampak mengenakan batik sebagai budaya khas <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Malaysia<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> Indonesia. Belum lagi tulisan-tulisan Romo tentang Indonesia yang tidak mungkin saya inventarisasi dalam surat ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, Rom, saya baca lho tulisan terbaru Romo tentang Indonesia. Itu lho yang dimuat di Majalah Hidup minggu lalu. Baru baca judulnya saja saya sudah minder: <\/span><a href=\"https:\/\/web.archive.org\/web\/20201213012828\/https:\/\/rmol.id\/read\/2020\/12\/13\/465607\/kita-dan-hrs\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kita dan HRS<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Sangat aktual dan bersahaja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Romo tentu masih ingat dengan jelas isi tulisannya. Namun, izinkanlah saya menceritakan ulang apa yang Romo tulis di sana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau tidak salah menafsirkan, Romo Magnis-Suseno ingin membahas persoalan Habib Rizieq Shihab (HRS) dari kacamata seorang Katolik. Menurut Romo, permasalahan HRS semata-mata adalah persoalan internal umat Islam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita-kita ini yang Katolik tidak perlu lah ikut campur tetek bengek. Apalagi sampai ikut-ikut menurunkan dan atau memasang kembali baliho-baliho bergambar HRS. Itu sudah bagiannya TNI, begitu kan Rom?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai umat Katolik, yang terpenting itu tetap menjaga hubungan baik dengan kawan-kawan yang beragama Islam. Selain untuk menjaga ajaran Yesus tentang cinta kasih, hubungan baik antarumat beragama juga penting bagi stabilitas negara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jelas-jelas Romo menyatakan seperti ini (saya kutip langsung tanpa mengubah ndak masalah to Rom?):<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0\u201cDan satu hal mesti jelas: pemerintah dapat mengandalkan loyalitas kita\u2026 Sumbangan kita adalah agar di Indonesia tetap benar bahwa Bhinneka Tunggal Ika\u2026 Untuk itu kita harus menjadi kawan terpercaya umat-umat lain di Indonesia.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maafkan saya bila lancang Rom, tapi membaca tulisan itu reflek saya tertawa. Kata loyalitas mengingatkan saya pada seorang<\/span><a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=FP1NA-xH7nM\"> <span style=\"font-weight: 400;\">satpam<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> yang mendendangkan yel-yel loyalitas pada satuannya. Bedanya, satpam itu menggunakan kata-kata \u201cyolalitas\u201d alih-alih \u201cloyalitas\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAdakah yolalitas di matamu? Adaaa! Adakah 292 di dadamu? Ada! Di mana? Di siniii!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ah, saya jadi melantur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kembali ke tulisan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kita dan HRS<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, Romo Magnis-Suseno sama sekali tidak lupa mencantumkan kesadaran bahwa umat Katolik kerap menerima perlakuan intoleran dari oknum-oknum tak bertanggung jawab. Mulai dari terganggunya perayaan Natal sampai susahnya membangun Gereja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut Romo, paling-paling setahun cuma ada 20-30 kasus intoleransi di seluruh Indonesia. Toh yang mendapat toleransi dari umat lain jauh lebih banyak. Ditambah lagi, teologi Katolik itu kan berpusat di salib ya, Rom? Artinya penderitaan harus kita pikul sebagai silih atas dosa, begitu tidak Rom?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya di sini Rom, umat Katolik tampaknya mulai gedek menderita. Pada 10 Desember kemarin,<\/span><a href=\"https:\/\/www.katolikana.com\/amp\/2020\/12\/10\/hari-ham-sedunia-2020-seratusan-pastor-katolik-papua-serukan-dialog-untuk-selesaikan-konflik\/?__twitter_impression=true\"> <span style=\"font-weight: 400;\">147 pastor<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> yang berkarya di Papua meminta supaya Gereja bisa segera membangun komunikasi dengan pemerintah untuk menyelesaikan konflik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini sudah bukan umat lagi, melainkan para imam yang jadi wajah Gereja. Kita sama-sama tahu lah, Rom, rumitnya persoalan Papua. Saya yang tinggal di Sumatera tentu tak punya kapasitas menjelaskan apa yang terjadi di sana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, menurut Pastor John Bunay, Pr, selaku jubir para pastor di Papua, Gereja Indonesia yang diwakilkan oleh Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) telah abai pada konflik-konflik di Indonesia khususnya Papua, baik berbau agama maupun tidak. Kalau menurut saya sih ini gawat Rom.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya membaca, Gereja Indonesia selama ini hanya bisa mengembangkan mental prihatin. Seruan-seruan tentang keprihatinan selalu diutarakan oleh Gereja dalam setiap konflik kemanusiaan yang terjadi di Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya peristiwa teroris di Sigi, Sulawesi Tengah, awal Desember kemarin. KWI bergerak cepat menemui Mahfud MD selaku Menko Polhukam. Entah apa yang dibahas, saya hanya tahu bila KWI merasa prihatin dengan peristiwa naas itu. Tindak lanjutnya? Sepertinya hanya Tuhan yang tahu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau cuma bisa menunjukkan rasa prihatin, tak perlu jauh-jauh ke KWI. Romo-romo di gereja sudah setiap Minggu berkotbah tentang keprihatinannya pada peristiwa di sekitar. Toh sama seperti KWI, tidak ada tindak lanjut yang berarti dalam kehidupan sehari-hari umat Katolik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya masih ingat, dalam buku <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Menalar Tuhan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (2010) yang saya gunakan sebagai acuan skripsi, Romo menulis penderitaan sebagai tantangan dalam filsafat. Penderitaan jadi persoalan genting dalam tatanan ontologi manusia, sebab semua orang mengalami. Bahkan orang-orang yang percaya pada Tuhan pun ikut jadi korban.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau sudah seperti itu, harusnya loyalitas pada negara bukan jadi jawaban. Carut-marut pemerintah menangani pandemi Covid-19 harus jadi luka yang perlu kita akui bersama-sama keberadaannya. Bukannya malah kita tutupi sambil berkata \u201caku baik-baik saja\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya memang tak punya kapasitas apa pun untuk menasihati Romo, baik secara filsafat maupun keimanan. Saya hanya alumnus filsafat yang lulus setelah enam tahun kuliah. Dalam hal iman, saya hanya sanggup bertahan tiga tahun saat menjalani pendidikan calon imam. Tentu tak bisa dibandingkan dengan Romo yang profesor filsafat dan rohaniwan selama puluhan tahun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, sebagai seorang umat, izinkanlah saya meminta pada Romo, untuk tidak diam seperti Adam di Taman Firdaus. Karena sikap diamnya saat Hawa menawarkan buah terlarang, manusia terjerumus pada dosa asal yang tak terhindarkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin Romo bisa mengajak Gereja Indonesia (kalau tak ingin menyebut KWI) mencontoh apa yang dilakukan oleh<\/span><a href=\"https:\/\/penakatolik.com\/2020\/10\/15\/para-uskup-sri-lanka-menentang-amandemen-ke-20-konstitusi-negara-itu\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">Konferensi Wali Gereja Sri Lanka<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> pada pertengahan Oktober lalu. Kalau Romo belum tahu, Sri Lanka Oktober kemarin baru saja mengganti amandemen konstitusinya. Celakanya, penggantian amandemen itu berpotensi memberikan kekuasaan dan kekebalan hukum kepada para eksekutif, termasuk presiden.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melihat kondisi itu, Konferensi Wali Gereja Sri Lanka tidak menerbitkan tulisan yang menyatakan loyalitasnya pada pemerintah. Dengan tegas, lewat surat pernyataan pada 13 Oktober 2020, Uskup-uskup di Sri Lanka menekankan<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">\u201cpemusatan kekuasaan dalam diri seseorang tanpa pengawasan dan keseimbangan tidak memberikan pertanda baik bagi republik sosialis dan demokratis.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika itu sulit, sekiranya Romo bisa mempertimbangkan gerakan Teologi Pembebasan yang berkembang di Gereja-Gereja Amerika Latin, yang juga melahirkan Paus Fransiskus. Romo tentu tahu, bahwa Teologi Pembebasan berkembang dari semangat imam-imam Jesuit, ordo Romo sendiri, yang menolak berbagai bentuk penindasan dari pemerintah kepada rakyat (yang kebanyakan miskin). Lewat Teologi Pembebasan, kita belajar bahwa Yesus yang kita imani tidak sekadar jadi tokoh yang pasrah pada penderitaan melainkan juga revolusioner memperjuangkan kebenaran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Teologi Pembebasan memang kurang pamor di Indonesia karena Gereja adalah minoritas. Tapi, harusnya inti dari teologi itu tidak terletak pada jumlah umat Katolik, melainkan jumlah rakyat yang tertindas. Seandainya pun ingin menggunakan kuota umat, harusnya suara pastor-pastor di Papua bisa jadi alasan yang kuat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sikap seperti itulah yang saya harapkan muncul dari Romo Magnis-Suseno selaku sosok terpandang dalam Gereja Indonesia. Saya, dan mungkin umat Romo yang lain, menginginkan sosok imam yang menuntun kami pada tindak nyata untuk membawa kebaikan yang lebih-lebih bagi hidup manusia. Bukan sekadar loyal pada pemerintah yang tak jelas juntrungnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kami ingin salib-salib ini punya arti. Bukan hanya dimaknai sebagai penderitaan, tetapi keimanan yang bersandar pada harkat dan martabat kehidupan.<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dikenang-bak-pahlawan-karena-tambal-ban\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Dikenang Bak Pahlawan karena Tambal Ban.<\/a><br \/>\n<\/b><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform Use Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kalau tidak salah menafsirkan, Romo Magnis-Suseno ingin membahas persoalan Habib Rizieq Shihab (HRS) dari kacamata seorang Katolik. <\/p>\n","protected":false},"author":1231,"featured_media":95668,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[9713,5988,9845],"class_list":["post-95466","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-hrs","tag-katolik","tag-romo-magnis-suseno"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/95466","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1231"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=95466"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/95466\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/95668"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=95466"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=95466"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=95466"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}