{"id":95403,"date":"2020-12-19T08:12:31","date_gmt":"2020-12-19T01:12:31","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=95403"},"modified":"2020-12-18T20:40:59","modified_gmt":"2020-12-18T13:40:59","slug":"5-besar-klasemen-makanan-ringan-orang-sunda-yang-pedasnya-naudzubillah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-besar-klasemen-makanan-ringan-orang-sunda-yang-pedasnya-naudzubillah\/","title":{"rendered":"5 Besar Klasemen Makanan Ringan Orang Sunda yang Pedasnya Naudzubillah!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak zaman dulu, makanan khas Sunda didominasi dengan rasa pedas. Misalnya, di setiap makanan berkuah selalu menggunakan cabai sebagai bumbu utama. Meskipun nggak memakai bumbu pedas, pasti kami menemukan sambal yang kerap dihidangkan dengan lalapan segar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak terkecuali dengan makanan-makanan ringan yang biasa kami beli di setiap warung, pasti ada saja jajanan-jajanan yang juga rasanya pedas. Mulai yang harganya lima ratus rupiah, hingga puluhan ribu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, setelah seharian melakukan riset ke warung-warung terdekat, ditambah lagi bertanya kepada teman-teman tongkrongan, saya menemukan lima makanan ringan khas orang Sunda yang pedasnya naudzubillah. Berikut di bawah ini adalah klasemennya.<\/span><\/p>\n<h4>Peringkat ke-5 makanan ringan orang Sunda: Pikda<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini adalah makanan yang kepanjangannya dari keripik lada alias keripik pedas. Pikda merupakan camilan khas daerah Bandung yang sangat murah. Kalian hanya perlu mengeluarkan uang lima ratus rupiah untuk satu bungkusnya. Makanan ringan yang satu ini cukup berisik di mulut. Kriak-kriuk-kriak-kriuk gitu, lah. Hahaha.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semakin ke sini, pikda menjadi makanan ringan yang terbilang imut. Sebab, bentuknya sudah berubah. Saat saya SD, makanan ini bentuknya agak besar. Lha, sekarang malah kecil. Tapi, rasa pedasnya masih sama seperti dulu. Keresahan saya terkait bentuknya yang semakin mengecil, sama seperti keresahan salah satu cuitan netizen Twitter di bawah ini.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/twitter.com\/itanindea\/status\/1253986013581414401?s=20\">https:\/\/twitter.com\/itanindea\/status\/1253986013581414401?s=20<\/a><\/p>\n<h4>Peringkat ke-4 makanan ringan orang Sunda: Moring<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makanan ringan ini berasal dari Garut. Kami punya semboyan, \u201cGood moring from Garut\u201d. Cimol kering ini berbentuk bulat. Ia mirip seperti kerupuk mentah meski bahan utamanya ialah singkong. Kalau dikunyah di mulut, moring lebih santai. Soal rasa, ada yang gurih tapi kurang greget. Sedangkan yang rasanya pedas, tentu saja lebih \u201cwah\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepanjang yang saya ketahui, moring sudah melakukan berbagai inovasi. Tapi, moring yang harganya lima ratus rupiah di warung-warung masih laku, mungkin dengan harga segitu cukup merakyat. Jika kalian (nanti) berkunjung ke Garut, silakan cicipi makanan ringan khas kota saya ini agar tahunya nggak dodol saja.<\/span><\/p>\n<h4>Peringkat ke-3 makanan ringan orang Sunda: Kiripik sampurasun<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mulai 2017, makanan pedas yang satu ini dibuat karena ingin memanfaatkan sumber daya alam yang ada yaitu di kebun pemiliknya kebetulan banyak singkong. Sehingga, dibikinlah keripik singkong pedas ala-ala pikset.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk nama kiripik sampurasun diambil dari salam orang Sunda yaitu yaaa sampurasun. Tagline dari keripik ini ialah, \u201cKiripikna urang Sunda\u201d. Level terpedasnya, silakan cobain level 5. Seger, sih.<\/span><b><\/b><\/p>\n<h4>Peringkat ke-2 makanan ringan orang Sunda: Pikset (keripik setan)<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Camilan ini mulai populer sejak satu dekade lalu. Ia berbentuk tipis banget. Disebut keripik setan karena rasanya sangat membakar di lidah dan juga di perut. Saya masih ingat, dulu saking hebohnya keripik ini, kemudian banyak fanbase-fanbase di Indonesia yang mengatasnamakan pikset.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada saat itu, pikset dengan bumbunya yang dahsyat bukan hanya menjadi salah satu ikon Bandung. Namun, ia menjadi ikon gaya hidup. Siapa yang kuat memakan keripik ini, maka dianggap berhasil sebagai pecinta makanan pedas. Saya kali pertama memakannya, air mata saya langsung turun. Saking pedasnya, Cuy!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya menangkap cuitan salah satu penjual pikset yang masih eksis di Bandung melalui akun Twitter @infobdg. Silakan dicoba sensasi makan keripik setan khas Sunda yang berada di peringkat kedua ini.<\/span><\/p>\n<blockquote class=\"twitter-tweet\" data-width=\"500\" data-dnt=\"true\">\n<p lang=\"in\" dir=\"ltr\">Keripik yang hits pada jamannya, Pikset alias keripik setan. Ada yang suka jajan ini?<\/p>\n<p>Lokasi : Jl Kepatihan<a href=\"https:\/\/twitter.com\/hashtag\/infoBDGkuliner?src=hash&amp;ref_src=twsrc%5Etfw\">#infoBDGkuliner<\/a> <a href=\"https:\/\/t.co\/aOC8gNbSBU\">pic.twitter.com\/aOC8gNbSBU<\/a><\/p>\n<p>&mdash; BANDUNG \u1b98\u1b94\u1baa\u1b93\u1ba5\u1b80 (@infobdg) <a href=\"https:\/\/twitter.com\/infobdg\/status\/1143390549266710528?ref_src=twsrc%5Etfw\">June 25, 2019<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><script async src=\"https:\/\/platform.twitter.com\/widgets.js\" charset=\"utf-8\"><\/script><\/p>\n<h4>Peringkat ke-1 makanan ringan orang Sunda: #KKN Berlevel<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Camilan KKN (krenyes-krenyes nikmat) memiliki banyak produk unggulan. Mulai dari makaroni, stik balado, hingga cireng. Emang sih ada yang original, tetapi kalau sudah nyobain yang levelnya 10, bakal langsung bolak-balik ke WC. Gila, sih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makanan ringan ini mulai eksis 2013 lalu. Pada tahun tersebut, banyak kasus korupsi dari tokoh-tokoh nasional. Sehingga, nama KKN ini plesetan dari Korupsi Kolusi Nepotisme menjadi krenyes-krenyes nikmat. Bunyinya sih emang bener krenyes-krenyes, tapi di bagian nikmatnya yang jadi masalah. Malah bikin sakit perut kalau nyobain yang pedasnya level 10.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah klasemen lima besar makanan ringan orang Sunda yang pedasnya naudzubillah. Kamu pernah nyobain yang mana?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bandros-surabi-dan-ulen-mana-yang-paling-lezat-buat-sarapan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Bandros, Surabi, dan Ulen: Mana yang Paling Lezat buat Sarapan?<\/a><\/strong> <strong>dan tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/muhammad-ridwansyah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Muhammad Ridwansyah<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya menemukan lima makanan ringan khas orang Sunda yang pedasnya naudzubillah. Berikut di bawah ini adalah klasemennya.<\/p>\n","protected":false},"author":867,"featured_media":95809,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[937,440,1152],"class_list":["post-95403","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-makanan-ringan","tag-pedas","tag-sunda"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/95403","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/867"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=95403"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/95403\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/95809"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=95403"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=95403"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=95403"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}