{"id":95325,"date":"2020-12-18T06:56:21","date_gmt":"2020-12-17T23:56:21","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=95325"},"modified":"2020-12-17T23:43:21","modified_gmt":"2020-12-17T16:43:21","slug":"arema-adalah-gerbang-perkenalan-saya-dengan-bahasa-walikan-dan-pisuhan-jawa-timur","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/arema-adalah-gerbang-perkenalan-saya-dengan-bahasa-walikan-dan-pisuhan-jawa-timur\/","title":{"rendered":"Arema Adalah Gerbang Perkenalan Saya dengan Bahasa Walikan dan Pisuhan Jawa Timur"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tinggal di pinggiran kabupaten, yang mana sepak bola tak pernah benar-benar mengakar sebagai identitas. Maka tak heran, anak-anak di daerah saya lebih memilih mendukung tim besar macam Persija, Persib, Arema, hingga Persebaya ketimbang tim lokal. Satu-satunya tim yang bernasib baik hanya tim kota karesidenan, yang menjadi kebanggaan kabupaten-kabupaten sekitarnya juga, pun kini juga saya dukung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itupun hanya di beberapa kecamatan yang kebetulan ada korwilnya. Selain memilih independen, sisanya malah memilih untuk mendukung tim-tim besar yang tak bisa dipandang sepele jumlahnya, bahkan sebagian bergerak nyata sebagai sebuah komunitas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu saya adalah satu dari sekian anak-anak itu, memilih tim seberang provinsi Arema di masa gelandangan saya menentukan tim favorit. Saya menjalani hubungan jarak jauh yang bahkan hingga hari ini saya belum pernah mendukung Arema di stadion. Walaupun tim besar macam Persija hingga Persebaya pernah saya tonton langsung. Satu-satunya momen bersinggungan dengan Arema adalah saat menyaksikan laga Liga Djarum bersama ayah saya di tribun, itupun saya baru mengenal duo Tsubasa dan Misaki, ketimbang menonton sebagai supporter.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi jangan ragukan ke-Arema-nan saya kala itu, terhitung sejak menyebut diri sebagai Aremania di masa remaja. Buku-buku tulis penuh dengan coretan Arema, rutin mengonsumsi media macam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Wearemania.net<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, hafal beragam chant hingga nimbrung di forum diskusi Aremania di media sosial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya punya kebiasaan jika menyukai sesuatu, saya memulainya dari sejarah. Arema lahir sebagai simbol pemersatu arek Malang. Menariknya keberadaannya justru lebih besar dari Persema Malang yang lebih dulu ada. Lebih menarik bukan hanya cita-cita kelahirannya, melainkan juga dari nama itu sendiri, Arema yang merupakan akronim dari \u201carek Malang\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sama seperti istilah cah Jogja, anak Jakarta dll. Maklum, apabila tim Singo Edan\u00a0 begitu mengakar menjadi identitas dan representasi wong Ngalam, lebih dari sekadar tim sepak bola. Dan dari sini kita bisa paham bagaimana bisa orang berjualan dengan bangga menggunakan embel-embel Arema: bakso, warung, dan masih banyak lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dibuat kasmaran, saya jadi rutin mengikuti forum diskusi Aremania. Beragam isu dari lapangan hingga isu internal saya cerna. Saya seolah dibawa ke dunia mereka, di mana setiap saya mengonsumsi informasi, saya seolah memosisikan diri sebagai arek Malang, baik kecintaan hingga kebencian. Merasakan bagaimana bangganya perantauan terhadap identitas tim ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak hanya menumbuhkan kecintaan, forum demi forum membuat saya turut berkenalan dengan bahasa. Forum-forum didominasi bahasa Jawa Timuran. Dari situ saya mengenal dialek-dialek dan perlahan saya malah dengan mudah berkomunikasi dengan bahasa Jawa Timuran. Dari dialek-dialek keseharian seperti \u201cto\u201d di Jawa Tengah yang diganti jadi \u201cta\u201d atau \u201ca\u201d. \u201cOra\u201d di Jateng yang di Jatim lebih umum dengan \u201cgak\u201d. Hingga beragam istilah lainnya. Tak lupa, tentu soal misuhnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bertahun-tahun hidup di Jawa Tengah, meng-arema-kan diri membuat saya melihat misuh dari perspektif lain. Lantas membuat saya penasaran, kenapa istilah \u201casu\u201d dan \u201cbajingan\u201d tidak digunakan sesering \u201cjancuk\u201d. Dan pada akhirnya saya menyadari, bahwa momentum untuk misuh pun berbeda 180 derajat. Tak heran, kecintaan di masa lalu dengan Arema menjadi kisi-kisi berharga ketika kuliah dan berjumpa kawan dari provinsi seberang ini. Sudah tak kaget.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Soal bahasa, tentu tak lengkap jika tak membicarakan bahasa kiwalan, alias bahasa walikan (kebalik), khas arek Malang, yang dulunya digunakan sebagai kode mengelabuhi musuh. Awalnya saya cukup asing membaca beragam banner milik Aremania, dengan bahasa yang tidak saya mengerti, kemudian mengetahui kalau Sam Ikul (pendiri Arema) itu berarti Mas Lucky, hingga bahasa walikan lainnya di forum diskusi. Dari situ saya mulai terbiasa, menerjemahkan dengan sekejap membalik kata per katanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum membaptis diri mendukung tim lokal sebagai cinta terakhir, saya tak pernah menyesal pernah mengaku sebagai Aremania, cinta monyet itu malah menjadi bekal berkenalan dengan budaya, baik budaya populer hingga budaya orang Malang. Memandang tim Singo Edan sebagai bagian dari kehidupan serta tim sepak bola sebagai identitas, yang mana sepak bola dan masyarakat membaur tanpa sekat. Tentang bagaimana sejarah tak musti panjang, yang terpenting bagaimana orang-orang yang bertaut menorehkannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari cinta monyet itu pula, kini saya belajar bagaimana memandang tim sendiri layaknya arek Malang mencintai tim mereka. Kini identitas dan kecintaan itu menjadi rebutan banyak pihak yang bertahun-tahun tak kunjung usai, mereka yang terlibat mungkin lupa, bahwa eksistensi Arema telah menjadi kitab bagi orang seperti saya tentang bagaimana mengenal budaya Ngalam. Bersatulah Arema. Salam satu jiwa!<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/panduan-dasar-bahasa-jawa-yang-solo-banget\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"> Panduan Dasar Bahasa Jawa yang Solo Banget<\/a><\/strong><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/panduan-dasar-bahasa-jawa-yang-solo-banget\/\">\u00a0<\/a><strong>dan tulisan<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/dicky-setyawan\/\">\u00a0Dicky Setyawan<\/a> lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">\u00a0<i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\">\u00a0<i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Eksistensi Arema telah menjadi kitab bagi orang seperti saya tentang bagaimana mengenal budaya Ngalam beserta bahasa walikan dan pisuhannya.<\/p>\n","protected":false},"author":783,"featured_media":11418,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[2895,711],"class_list":["post-95325","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-budaya-jawa","tag-sepak-bola"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/95325","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/783"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=95325"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/95325\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11418"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=95325"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=95325"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=95325"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}