{"id":95290,"date":"2020-12-17T06:14:00","date_gmt":"2020-12-16T23:14:00","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=95290"},"modified":"2020-12-16T23:41:14","modified_gmt":"2020-12-16T16:41:14","slug":"meluruskan-salah-paham-femme-fatale-perempuan-bukan-sumber-bencana","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/meluruskan-salah-paham-femme-fatale-perempuan-bukan-sumber-bencana\/","title":{"rendered":"Meluruskan Salah Paham Femme Fatale: Perempuan Bukan Sumber Bencana"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sangat menikmati analisa dari Mas Muhammad Sabri dalam artikel tentang<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/femme-fatale-adalah-unsur-yang-banyak-dipakai-film-horor-indonesia\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">femme fatale<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Blio berhasil mengangkat isu patriarki yang selama ini mengalami normalisasi. Menjadikan perempuan sebagai sosok \u201cpembawa bencana\u201d adalah ide menyebalkan. Dan dunia perfilman kita merasa isu ini layak tayang. Kan nggatheli.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, tanpa mengurangi rasa hormat, Mas Sabri telah salah paham dalam menerjemahkan arti femme fatale. Sayang sekali, artikel yang sukses membuka mata tentang isu patriarkis harus dilandasi salah paham. Maka, artikel ini bukan untuk membantah opini Mas Sabri. Semata-mata meluruskan konsepnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Femme fatale bukanlah simbol perbudakan gender. Alih-alih menunjukkan kekuatan perempuan. Dengan \u201ckeperempuanan\u201d, ia telah melampaui kekang patriarkis. Meskipun masih terjebak dalam konsep-konsep seksis yang melandasi patriarkis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi begini. Mas Sabri menyebutkan bahwa femme fatale adalah istilah dari bahasa Prancis. Femme berarti perempuan, dan fatale berarti bencana. Sampai sini, Mas Sabri telah tepat menunjukkan asal mula istilah ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, femme fatale tidak berarti perempuan yang membawa bencana. Setidaknya tidak sesederhana itu. Dua kata ini tidak bisa diterjemahkan mentah-mentah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut Cambridge Dictionary, femme fatale berarti perempuan yang sangat menarik dalam hal yang misterius, yang biasanya mengarahkan pria pada bahaya atau menyebabkan kehancuran. Mungkin, Mas Sabri menggunakan definisi ini. Tapi, definisi ini bukan berarti perempuan sebagai pembawa bencana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seorang perempuan dengan reputasi femme fatale akan menggunakan unsur feminim (kecantikan, keramahan, bahkan seksual) untuk mencapai tujuan tersembunyi. Nah, istilah \u201cfatale\u201d atau fatal ini merujuk pada dampak ketika perempuan tersebut mencapai tujuannya. Pihak yang menjadi jalan menuju tujuan itu akan berada pada posisi fatal tadi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mari kita bayangkan sebuah plot. Seorang perempuan cantik berniat untuk menghancurkan bisnis narkoba. Dengan kecantikannya, perempuan itu berusaha mendekati sindikat narkoba tersebut. Paras dan pembawaannya membuat si bos sindikat jatuh hati (atau berhasrat) dan percaya pada perempuan tadi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan kepercayaan yang bersumber dari paras, perempuan itu bisa melakukan apa pun di dalam sindikat. Membocorkan distribusi narkoba, mengadu domba, atau membunuh bos sindikat langsung. Pemirsa, inilah konsep femme fatale yang tepat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Konsep ini moncer bersama film-film James Bond. Terutama ketika karakter perempuan tadi adalah bagian dari kelompok mafia. Memanfaatkan paras rupawan hingga seksualitas, perempuan tadi memancing protagonis ke dalam jebakan yang fatal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, konsep femme fatale juga berkembang. Istilah tersebut bisa diartikan sebagai perempuan cantik dan seksi namun berbahaya. Berbahaya di sini lebih kepada kemampuan perempuan itu untuk membunuh dan bertarung. Kecantikan tadi berfungsi sebagai kedok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Konsep kedua ini sering digunakan pada sosok psikopat. Perempuan yang haus darah sering dikemas sebagai sosok yang sangat menggoda. Godaan ini melemahkan sasaran ketika berhadapan dengannya. Tiba-tiba, gludak, sang sasaran jatuh tersungkur dalam keadaan tak bernyawa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contoh paling mudah dari konsep kedua ini adalah Harley Quinn. Pacar dari Joker dalam serial Batman selalu dikemas sebagai sosok cantik nan seksi. Namun, di balik keseksiannya, sang ratu kriminal Gotham City bisa membunuh penghalang keinginannya. Terutama sosok laki-laki seperti Robin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada juga Boa Hancock yang berasal dari manga <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">One Piece<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Sang ratu bajak laut ini dikenal sebagai perempuan tercantik di dunia. Sayang sekali, siapapun yang tergoda pada dirinya akan berubah menjadi batu. Menurut saya, Boa Hancock adalah sosok femme fatale paling sempurna.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bicara soal menggoda, femme fatale tidak melulu bicara relasi heterogen. Seorang perempuan juga bisa menggunakan pesonanya untuk menaklukkan sesama perempuan. Mereka sering terlihat sangat anggun sehingga tidak tampak berbahaya sama sekali. Tapi, stiletto miliknya mampu melubangi ubun-ubun musuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa tokoh sejarah juga mendapat gelar femme fatale. Sebut saja Cleopatra. Ratu dari Mesir ini dikenal berparas sangat cantik pada masanya. Kecantikan ini dimanfaatkan untuk menaklukkan Julius Caesar dan Mark Anthony.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Inilah yang membuat saya ingin meluruskan konsep Mas Sabri. Tapi, bukan berarti saya serta merta menerima konsep ini. Meskipun terdengar hebat, tapi konsep femme fatale tetap penuh nuansa patriarkis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kecantikan perempuan dipandang sebagai bukti perempuan itu lemah. Seolah-olah perempuan cantik tidak punya kemampuan untuk membunuh musuh superior. Dan, konsep kecantikan yang menipu mengesankan perempuan hanya istimewa ketika memiliki paras rupawan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, bukan berarti perempuan selalu membawa bencana. Konsep film di Indonesia masih saja menempatkan perempuan sebagai sumber masalah. Tapi, ini bukan femme fatale. Ini semata-mata adalah cara pikir patriarkis ketimuran yang memuakkan.<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/yogyakarta-yang-istimewa-tengah-putus-asa-ditelanjangi-covid-19\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Yogyakarta yang Istimewa Tengah Putus Asa Ditelanjangi Covid-19 <\/a><\/b><b>dan artikel\u00a0<\/b><b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/dimas-prabu-yudianto\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Prabu Yudianto<\/a>\u00a0lainnya.<\/b><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Femme fatale tidak berarti perempuan yang membawa bencana. Setidaknya tidak sesederhana itu. Dua kata ini tidak bisa diartikan mentah-mentah.<\/p>\n","protected":false},"author":793,"featured_media":16215,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[814,122],"class_list":["post-95290","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-feminis","tag-perempuan"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/95290","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/793"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=95290"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/95290\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/16215"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=95290"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=95290"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=95290"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}