{"id":95126,"date":"2020-12-20T08:14:51","date_gmt":"2020-12-20T01:14:51","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=95126"},"modified":"2020-12-18T21:12:48","modified_gmt":"2020-12-18T14:12:48","slug":"bandrek-bajigur-dan-bubur-ketan-hitam-mana-yang-paling-menghangatkan-tubuh","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bandrek-bajigur-dan-bubur-ketan-hitam-mana-yang-paling-menghangatkan-tubuh\/","title":{"rendered":"Bandrek, Bajigur, dan Bubur Ketan Hitam: Mana yang Paling Menghangatkan Tubuh?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain kopi dan teh manis, bagi orang Sunda, minuman lain yang dapat menghangatkan tubuh yaitu bandrek dan bajigur. Sama halnya dengan memakan bubur ketan hitam, ia tak kalah menghangatkan tubuh. Ketiganya, cocok ditemani dengan cemilan-cemilan seperti<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bandros-surabi-dan-ulen-mana-yang-paling-lezat-buat-sarapan\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">kue bandros, surabi, dan ulen<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penjual bandrek, bajigur, dan bubur ketan hitam biasanya kompak berjualan di pagi maupun malam hari. Terlebih, kekompakan mereka dapat diketahui dari cara memancing pembelinya. Biasanya sembari mendorong gerobak, mereka akan memukul-mukul mangkok cap ayam jago menggunakan sendok, kira-kira bunyinya begini, \u201cTreng, treng, treng\u201d. Praktis, orang-orang di kompleks perumahan saya langsung keluar rumah dan membeli dagangannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, sebagai orang yang cinta minuman maupun makanan khas daerah sendiri, mari saya bandingkan ketiganya di bawah ini: mana yang paling menghangatkan tubuh?<\/span><\/p>\n<h4>#1 Bandrek<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini adalah minuman tradisional yang bahan utamanya dari jahe. Di daerah kalian, mungkin cukup familiar dengan salah satu minuman yang juga dapat menghangatkan tubuh yaitu wedang jahe. Mungkin jika di daerah Jawa, bandrek bisa kalian temui juga, terutama di angkringan-angkringan. Namun, di Garut, mulai dari restoran, rumah makan, hingga kafe tersedia minuman ini. Kondisi cuaca di kota saya yang sangat dingin, mendukung sekali akan larisnya minuman yang satu ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa hari yang lalu, saya membicarakan tentang minuman ini melalui dm Twitter dengan orang Medan. Berhubung Sunda dan Medan memang terkenal dengan bandreknya. Dia bilang, bandrek Medan memiliki rasa yang agak lebih pedas dan biasa dicampur dengan telur. Selain itu, badrek Medan ditambah dengan merica dan kayu manis. Sementara, bandrek Sunda rasanya lebih halus. Sebab, rempah-rempahnya komplit. Mulai dari pandan, serai, hingga telur ayam kampung. Kadang-kadang ditambahkan susu, tergantung selera pembeli.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, Sunda dan Medan memiliki menu makanan yang sama untuk menemani minuman khasnya. Menu makanan seperti ubi rebus maupun kacang tanah menjadi pelengkap utama sambil menyeruput bandrek.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya, bandrek paling cocok dinikmati dengan bandros saat hujan tiba. Saat orang Garut kehujanan, meminum minuman ini dapat membantu daya tahan tubuh dari batuk dan flu. Namun, karena penjual bandrek sering telat ke kompleks perumahan saya, maka level kehangatannya 3\/5.<\/span><\/p>\n<h4>#2 Bajigur<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya boleh berbangga diri dengan minuman yang satu ini. Pasalnya, awal mula di mana minuman ini muncul pertama kali yaitu di daerah Sunda Priangan. Kata kakek saya, dulu para petani suka menyeduh gula aren dengan air hangat sebelum pergi bertani. Lalu, mereka mengkombinasikan dengan air kelapa. Sehingga, disebutlah bajigur. Sekarang, minuman ini terkenal ke berbagai kota.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya, bajigur memiliki rasa yang manisnya kebangetan karena terbuat dari gula merah. Maka, untuk menyeimbangkan rasa manisnya tersebut, biasanya sambil memakan surabi yang rasanya asin. Minuman ini paling enjoy dinikmati kala santai dan senggang. Luar biasanya, dapat meningkatkan nafsu makan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, kepulan asap yang berbaur dengan aroma pandan, kadang-kadang bikin sensasi yang \u201cwah\u201d dari minuman tradisional khas Sunda ini. Apalagi ketika mengalir ke kerongkongan dan menetap di lambung. Dan hangatnya langsung menjalar ke tubuh. Ditambah lagi ada semacam irisan kolang-kaleng yang ngerekes saat dilumat di gigi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu nilai plus penjual bajigur di Garut, ia suka diam sebentar di tempat yang itu-itu saja. Jadi, kami nggak begitu kesusahan mencarinya. Pun, nggak perlu mengejar-ngejarnya. Level kehangatannya 4\/5.<\/span><\/p>\n<h4>#3 Bubur ketan hitam<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin, bagi kalian, bubur paling populer ialah bubur kacang hijau. Saya akui, keberadaan penjual bubur kacang hijau memang banyak. Namun, bubur terbaik orang Garut adalah bubur ketan hitam. Di kompleks perumahan saya, dulu pernah ada penjual bubur kacang hijau. Namun, mereka kurang menyukainya. Sedangkan bubur ketan hitam, paling kami tunggu-tunggu kedatangannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk menikmati hidangan bubur ketan hitam yaitu bisa dilengkapi dengan kuah santan dan susu kental manis. Nah, dengan dilengkapi keduanya, akan menambah kelezatan bubur tersebut. Ditambah lagi sembari makan ulen goreng khas Garut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Biasanya orang-orang sini lebih suka memakan bubur ketan hitam di tempat pedagangnya sambil ngobrol-ngobrol. Dan, momen paling nikmat memakan bubur ketan hitam yaitu bersama keluarga. Level kehangatannya 5\/5.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi, bagi kalian, bandrek, bajigur atau bubur ketan hitam yang paling menghangatkan tubuh?<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ngopi-di-angkringan-itu-lebih-hangat-daripada-di-coffee-shop\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Ngopi di Angkringan Itu Lebih Hangat daripada di Coffee Shop<\/a>\u00a0dan tulisan<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/muhammad-ridwansyah\/\">\u00a0Muhammad Ridwansyah<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">\u00a0ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\">\u00a0di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penjual bandrek, bajigur, dan bubur ketan hitam biasanya kompak berjualan di pagi maupun malam hari. Kekompakan mereka dapat diketahui dari cara memancing pembelinya<\/p>\n","protected":false},"author":867,"featured_media":95824,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[9852,9853,9854],"class_list":["post-95126","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-badrek","tag-bajigur","tag-ketan-hitam"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/95126","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/867"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=95126"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/95126\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/95824"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=95126"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=95126"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=95126"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}