{"id":94982,"date":"2020-12-16T07:34:56","date_gmt":"2020-12-16T00:34:56","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=94982"},"modified":"2020-12-18T14:50:45","modified_gmt":"2020-12-18T07:50:45","slug":"indonesian-idol-harusnya-ubah-nama-jadi-indonesian-pop","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/indonesian-idol-harusnya-ubah-nama-jadi-indonesian-pop\/","title":{"rendered":"Indonesian Idol Harusnya Ubah Nama Jadi Indonesian Pop"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada yang unik di Indonesian Idol saat audisi peserta bernama Cynantia Pratita. Ketika blio sedang audisi dengan khusyuk, bahkan menutup matanya, menampilkan sesuatu yang dirasa baik untuknya, sayup-sayup dewan juri tertawa. Mereka tertawa karena Cynantia Pratita mengeluarkan scream ketika bernyanyi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mak rawr, gitu sekiranya. Ekspresi kaget Anang Hermansyah mungkin masih bisa masuk di pikiran saya. Namun, Rossa yang terus haha hihi dan Judika yang bahkan mengatakan, \u201cSuaramu itu kayak tetangga saya lagi berantem,\u201d bikin saya mak nyeg bingung sendiri. Kok, ya bisa i lho dielek-elek.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya bodo amat dengan Cynantia Pratita dan audisinya. Mau diterima atau nggak, itu nggak urusan. Yang bikin saya geleng-geleng, kok ya genre musik yang saya suka, yakni post-hardcore, blas nggak ada wibawa di hadapan para dewan juri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu kapasitas mereka sebagai dewan juri nggak perlu ditanyakan lagi. Siapa yang nggak tahu Rossa. Pun siapa yang nggak kenal Judika, produk wahid jebolan Idol. Namun, ketika muncul sebuah genre musik\u2014yang barangkali\u2014jauh dari telinga mereka, ketawa dan ngenyek guyon itu sesuatu yang bikin saya garuk-garuk kepala.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya yakin, jika yang berada di sana adalah saya, kemudian mbengok-mbengok nyekrim menyanyikan lagu &#8220;<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">A Prophecy&#8221;<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> milik Asking Alexandria, mungkin masuknya bakal dalam segmen peserta lucu-lucuan. Sejajar dengan peserta yang menyanyikan lagu &#8220;<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Numb&#8221; <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">yang diputar tiap saat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada juga peserta yang menyanyikan lagu &#8220;<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Ngamen 2&#8243;.<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0Peserta itu yang belakangan kini jadi artis televisi. Bahkan bermain dalam sinetron <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Tukang Ojek Pengkolan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> memainkan tokoh bernama Sekar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maksud saya adalah kenapa yang muncul di Indonesian Idol adalah para bibit artis yang\u2014selain cantik dan tampan\u2014warna suara mereka kalau nggak pop, ya R&amp;B-R&amp;B. Lihat saja juara beberapa musim belakangan. Bosan sih nggak, tapi ya kembali lagi, mereka terlalu mengikuti selera pasar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah ngikutin selera pasar adalah sebuah kesalahan? Bos, namanya buka lapak dagangan, ya pasti cari cuan. Itu nggak bisa disalahkan. Toh, artis-artis yang akan masuk beberapa besar, bakal dapat kontrak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Buat tipikal warna suara yang nggak masuk kriteria pihak penyelenggara, ya lebih baik bikin band atau bergerilya dari bawah. Toh, mereka bakal dapat pasar yang kuat. Lha pasar itu diciptakan je, bukan dibuat. Kalau dibuat, ya contoh Indonesian Idol yang katanya melahirkan sebuah kutukan, juara pertama nggak bisa tenar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lha gimana nggak tenar, belum juga satu tahun peserta nyeblung di industri musik, sudah ada kompetisi baru lagi. Jika dikatakan juara satu sampai lima bisa memiliki massa yang kuat. Lalu bagaimana dengan nasib juara enam ke bawah? Bahkan, ada yang masih ingat juara delapan atau sembilan Indonesian Idol musim lalu?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mangkanya, Lur, pemilihan arena musik ditetapkan. Pilihannya yang digemari oleh para penonton Indonesia kebanyakan. Misal genre post-hardcore atau metalcore masuk, didengar oleh simbah-simbah di ujung Mbantul, yang ada ya mbatin, \u201cAstagfirullah, kesurupan kok malah di-syuting terooos!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pop dan R&amp;B, atau yang katanya rock modelan Firza, masih masuk dalam industri. Inilah sasaran empuk Indonesian Idol. Seperti yang saya katakan tadi, Indonesian Idol ini \u201cmasuk pasar\u201d, bukan \u201cmembuat pasar\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam hal ini, jebolan Indonesian idol disusui oleh rumah produksi FremantleMedia. Kenapa Kunto Aji tidak dinaungi oleh mereka? Kan padahal blio ini anak kandung kompetisi bernyanyi paling wahid seantero negeri, sama seperti Mas Judika? Ya begitulah, dengarkan saja wawancaranya bersama Gofar Hilman di Ngobam.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<div class=\"jeg_video_container jeg_video_content\"><iframe title=\"#NGOBAM Kunto Aji\" width=\"500\" height=\"281\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/OgA2oJ1l5vU?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe><\/div>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pihak FremantleMedia juga memberikan kontrak recording single atau album dari recording company ternama untuk tiap jawara. Sedangkan seluruh kontestan akan di-manage talent agency besar dari grup MNC. Bisnis tercipta, ya mereka nggak mau rugi. Indonesian Idol adalah paket lengkap, bukan media memperkaya warna musik Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain suara yang bagus, kategori bakal laku atau nggak di pasaran ya jadi bahan perhitungan. Semisal ada yang membawakan sub-genre punk, yakni anarko punk dalam audisi, suaranya bagus dan bisa mentransferkan energi khusus kepada para pendengar, nek nggak bakal laku di pasaran, ya buat apa melaju jauh di kontestasi ini?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lha wong Onadio Leonardo, mantan pentolan band bergenre post-hardcore, Killing Me Inside, berkata mereka membuang harga diri dengan membuat lagu nggak banget berjudul &#8220;<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Biarlah&#8221;<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">. Gunanya buat nembus industri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang sudah baik Cynantia Pratita berjuang bersama Stereowall ketimbang digeguyu sama Mbak Rossa. Memang sudah benar Cynantia Pratita cover-cover saja di kanal YouTube-nya, dinikmati para pecinta musik yang menghargainya ketimbang dikatai suaranya mirip tetangga Mas Judika yang lagi berantem.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terkenal sih ya terkenal, tapi tahulah taraf terkenal musisi cover itu bagaimana. Namun, setidaknya di sana bebas untuk membawakan ideologi musik yang dijunjungnya. Para penonton bebas, mau lihat ya dipentelengi, mau dengar ya dirungokne, mau nggak suka ya tinggal dislike. Mudah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIdola Indonesia,\u201d begitu jargon mereka tiap tahun. Tembang yang dinyanyikan tiap acara mau selesai, dinyanyikan bersama oleh peserta yang masih bertahan. Namun, sampai sekarang masih nggak paham. Idola Indonesia, jebul merujuk kepada satu hal, yakni genre pop yang sedap mewangi sepanjang masa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Indonesian Idol adalah saduran acara Pop Idol yang pertama naik di televisi Inggris. Pun jelas bahwa mereka mencari bakat-bakat pop\u2014atau setidaknya yang sedang populer saat itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketimbang membawa nama Indonesian Idol dan memberikan gimmick-gimmick kedaerahan dan nggak memberikan ruang bagi genre yang \u201ckurang terdengar pop\u201d, lebih baik Indonesian Idol ganti nama saja jadi Indonesian Pop. Pasalnya, idola Indonesia bukan orang yang bernyanyi dengan cara itu-itu saja.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/daniel-mananta-adalah-wajah-indonesian-idol-yang-sebenarnya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Daniel Mananta Adalah Wajah Indonesian Idol yang Sebenarnya<\/a><\/strong> <strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/gusti-aditya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Gusti Aditya<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kenapa yang muncul di Indonesian Idol adalah para bibit artis yang\u2014selain cantik dan tampan\u2014warna suara mereka kalau nggak pop, ya R&#038;B.<\/p>\n","protected":false},"author":130,"featured_media":95123,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[9440,3817,9827],"class_list":["post-94982","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-bakat","tag-indonesian-idol","tag-pop"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/94982","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/130"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=94982"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/94982\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/95123"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=94982"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=94982"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=94982"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}