{"id":94933,"date":"2020-12-15T13:33:39","date_gmt":"2020-12-15T06:33:39","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=94933"},"modified":"2020-12-15T13:33:22","modified_gmt":"2020-12-15T06:33:22","slug":"di-madura-lebih-mudah-menemukan-jalan-rusak-ketimbang-penjual-sate-madura","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/di-madura-lebih-mudah-menemukan-jalan-rusak-ketimbang-penjual-sate-madura\/","title":{"rendered":"Di Madura, Lebih Mudah Menemukan Jalan Rusak ketimbang Penjual Sate Madura"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbicara tentang ikon Madura, masyarakat akan langsung menuju kepada Pak Sakera, yang selalu digambarkan sedang memegang celurit, memakai baju loreng merah putih, ditambah dengan kumis tebal yang membuatnya terlihat garang. Saya sendiri tidak memahami asal-usul Pak Sakera bisa dianggap sebagai ikon Madura. Yang saya paham adalah celurit dan baju berwarna loreng merah putih memang menjadi simbol dari Madura. Sebenarnya, ikon Madura bukan hanya tertuju kepada Pak Sakera. Sebab, masih ada ikon lain yang bisa mewakili nama Madura. Salah satunya adalah makanan sate madura.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu saja, makanan sate tidak bisa dipisahkan dari masyarakat Madura. Bisa dilihat sendiri di acara tayangan televisi, setiap aktor yang membawakan karakter orang Madura, selalu digambarkan dengan menjual sate, sembari berteriak dengan logat orang Madura, yaitu \u201cTe-sate tak iye.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan, gara-gara acara tayangan televisi yang selalu menampilkan penjual sate dengan orang Madura, hal ini membuat saya menjadi penasaran, \u201cApakah benar, masyarakat Madura banyak yang berjualan sate?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan bermodalkan rasa penasaran tersebut, akhirnya saya melakukan survei sederhana di Surabaya, tempat saya merantau sekarang. Pelaksanaan survei yang saya lakukan, yakni memberikan pertanyaan kepada penjual sate, serta membeli dagangan satenya. Pertanyaan yang saya ajukan sederhana, yaitu, \u201cBapak\/Ibu orang Mana?\u201d. Dari setiap penjual sate yang pernah saya tanyakan, mereka mengatakan, \u201cSaya ini berasal dari Madura, Mas.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berangkat dari hasil survei sederhana yang saya lakukan, membuat saya tidak terheran lagi ketika ada teman saya bertanya, \u201cBisa masak sate atau tidak?\u201d Sayangnya, saya tidak bisa memasak sate madura yang nikmat. Soalnya, setiap kali saya mencoba untuk membuat sate ketika kumpul bersama teman, rasanya ingin saya caci maki sendiri. Kalau saya jago sih, saya sudah jualan dari dulu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, teman saya juga sering bertanya, \u201cKalau di Madura sate yang enak di mana?\u201d Mendengar pertanyaan tersebut, saya langsung kebingungan. Jujur saja, selama saya pernah membeli sate dari beberapa penjual yang ada di empat kabupaten di Madura, saya belum bisa menemukan yang menurut lidah saya nikmat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya, kebingungan saya untuk menjawab pertanyaan dari teman saya, terkait tempat sate Madura yang enak bukan hanya disebabkan oleh alasan belum menemukan penjual sate. Akan tetapi, saya juga merasa bingung karena menurut penilaian saya, penjual sate yang ada di Madura jumlahnya lebih sedikit daripada penjual sate madura yang ada di Surabaya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Asumsi saya tersebut, bukan sebuah omong kosong belaka. Sebab, selama saya melewati jalan provinsi yang menghubungkan Kabupaten Sumenep sampai Kabupaten Bangkalan, penjual sate yang saya temukan bisa dihitung menggunakan jari. Baik di waktu pagi, siang, sore, dan malam hari. Justru sebaliknya, selama melewati jalan provinsi di Madura, yang saya temukan adalah banyaknya kondisi jalan rusak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saking banyaknya kondisi jalanan yang rusak, saya tidak bisa memastikan ada berapa jumlahnya. Saya hanya bisa memastikan, jika dibandingkan antara kondisi jalan yang baik dan kondisi jalan yang rusak, rasanya lebih didominasi oleh kondisi jalan rusak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kondisi demikian sukses membuat orang yang tidak pernah berkunjung ke Madura ingin mengumpat. Salah satunya adalah teman kuliah saya. Dia, untuk pertama kalinya melewati jalan Madura yang penuh dengan lubang, bergelombang, dan tambalan. Dan, ketika saya tanyakan bagaimana kesannya melewati jalanan di Madura, yang pertama kali keluar dari mulutnya adalah pisuhan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu saja, sebelumnya saya sudah bisa menebak jawaban dari teman saya. Soalnya, saya sendiri selaku orang Madura, yang sudah wira-wiri melewati jalan provinsi, rasanya ingin mengumpat dan mengelus dada.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berangkat dari sulitnya menemukan penjual sate dan mudahnya menemukan jalanan yang rusak di Madura. Saya jadi berpikir ulang, \u201dApakah masih pantas Madura diidentikkan dengan sate?\u201d Justru saya sering merasa risau sekaligus sedih ketika ada orang luar berkunjung ke Madura. Mereka bukannya disuguhi dengan aroma sate yang menggiurkan, tapi malah disuguhi dengan kondisi jalanan yang bisa membuat mabuk darat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kendati demikian, saya tidak pernah berharap kepada pemerintah untuk membenahi kondisi jalan yang rusak. Saya hanya berharap, untuk dibuatkan monumen yang menggambarkan tentang korban tewas akibat kondisi jalan yang rusak. Kenapa begitu? Biar semua elemen masyarakat bisa merenung mengenai siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas kondisi mengkhawatirkan ini.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pemira-online-kontestasi-politik-mahasiswa-yang-ngauzubillah-ribet\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"> Pemira Online: Kontestasi Politik Mahasiswa yang Ngauzubillah Ribet<\/a> dan tulisan-tulisan lainnya dari\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/akbar-mawlana\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Akbar Mawlana<\/a>.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saking banyaknya jalanan rusak, saya kehilangan hitungan. Yang jelas lebih banyak dibanding penjual sate madura di Madura-nya sendiri.<\/p>\n","protected":false},"author":891,"featured_media":23885,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[438,1976],"class_list":["post-94933","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-kuliner","tag-orang-madura"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/94933","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/891"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=94933"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/94933\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/23885"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=94933"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=94933"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=94933"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}