{"id":94922,"date":"2020-12-15T07:33:11","date_gmt":"2020-12-15T00:33:11","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=94922"},"modified":"2020-12-15T06:53:59","modified_gmt":"2020-12-14T23:53:59","slug":"bandros-surabi-dan-ulen-mana-yang-paling-lezat-buat-sarapan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bandros-surabi-dan-ulen-mana-yang-paling-lezat-buat-sarapan\/","title":{"rendered":"Bandros, Surabi, dan Ulen: Mana yang Paling Lezat buat Sarapan?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di balik kenikmatan<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-jenis-gorengan-khas-sunda-yang-paling-laris\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">bala-bala maupun gehu<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, bagi orang Sunda, makanan-makanan seperti bandros, surabi, dan ulen sering juga dijadikan buat sarapan. Jadi bukan hanya gorengan saja yang dapat kami konsumsi untuk mengganjal perut di pagi hari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sama halnya seperti<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tahu-bulat-tahu-balut-dan-tahu-gejrot-mana-yang-rasanya-paling-cihuy\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">tahu bulat dan tahu gejrot<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> yang pernah saya bahas, penjual ketiga makanan ini memiliki ciri khas yang tak kalah identik. Penjual bandros sering berkeliling memanggul barang dagangannya dengan suara gerobaknya yang nyentrik, \u201cTrek, trek, trek.\u201d Penjual surabi masih menggunakan cara tradisional yaitu menggunakan bara api dari kayu yang dibakar. Sedangkan penjual ulen, biasanya menggunakan pikulan sembari berkeliling ke kompleks-kompleks perumahan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, sebagai orang yang pernah sarapan dengan bandros, surabi, dan ulen, izinkan saya untuk menjelaskan ketiga makanan tersebut.<\/span><\/p>\n<h4><b>Bandros<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini adalah makanan khas Jawa Barat yang mudah didapatkan sekaligus murah meriah. Harganya cuma lima ratus rupiah. Kue bandros memiliki bentuk yang unik, ia berbentuk setengah lingkaran. Sebab, bentuk cetakannya memang begitu. Bahan utama kue ini dari tepung beras, parutan kelapa, dan santan kelapa. Salah satu kelebihan camilan yang satu ini adalah wanginya yang khas karena yaa adanya santan kelapa tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu, saat saya SD, bandros ialah kue yang gitu-gitu saja. Misalnya, ketika saya membeli kue ini, si mang-mang penjualnya hanya menggunakan koran bekas untuk membungkus kue-nya, kemudian diberi saus. Akan tetapi, saat ini, penjual bandros sudah kreatif. Mereka melakukan berbagai inovasi guna mengembalikan dagangannya agar booming kembali. Sebab, sejauh yang saya perhatikan, makanan ini pernah menghilang di pasaran. Maksudnya, peminatnya kurang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berkat ide kreatif orang Bandung, kini bandros sudah punya cita rasa yang khas ala kebarat-baratan. Kue ini sudah banyak variasinya. Mulai dari toping keju, susu, hingga irisan sosis. Saat saya jalan-jalan ke pusat kota Bandung, penjual bandros sudah banyak banget. Di Garut sendiri sudah pada muncul lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, untuk menikmati kue bandros agar terasa lezat, saya menyajikannya dengan kopi atau teh hangat. Tentu saja saya sajikan di pagi hari buat sarapan. Memang sih bandros bisa dinikmati juga di sore hari, tetapi lebih cocok buat di pagi hari deh.<\/span><\/p>\n<h4><b>Surabi<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begini. Makanan ini memang sekilas mirip dengan serabi Solo. Namun, keduanya berbeda. Serabi Solo, yang saya ketahui lho ya, biasanya disajikan lebih kering. Proses pembuatannya pun, kalau saya nggak keliru, menggunakan tungku baja. Sedangkan surabi khas Sunda, ia memiliki tekstur yang lebih basah. Kemudian disajikannya dengan saus kinca. Nah, bentuk surabi di daerah saya lebih tebal dan besar. Dan, proses pembuatannya hanya menggunakan tungku biasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk adonannya, surabi khas Sunda menggunakan tepung beras, tepung terigu, dan santan kelapa. Di Garut, ada dua rasa yang terdapat dalam camilan ini. Pertama, ada yang rasanya manis karena ditambahkan gula merah cair. Kedua, ada juga yang rasanya asin karena ditaburi oncom di atasnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Uniknya adalah kalau bandros banyak variasinya, sedangkan surabi nggak ada variasinya sama sekali. Ia nggak pernah berubah meski zaman sudah modern begini. Maksudnya, surabi masih tetap dengan ciri khas dan topingnya yang gitu-gitu saja. Surabi masih tetap dimasak dengan menggunakan tungku dan wajan yang terbuat dari tanah liat. Meski begitu, surabi banyak banget peminatnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Umumnya, surabi memang cocok buat menu sarapan pagi meski di banyak warung ada yang berjualan di malam hari. Cara menikmati makanan ini, lebih pas bersama keluarga.<\/span><\/p>\n<h4><b>Ulen<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makanan ini mungkin baru kalian ketahui karena keberadaanya memang hanya di daerah-daerah yang bercuaca dingin seperti di kota Bandung, apalagi di Garut. Camilan ini terbuat dari beras ketan putih dan kelapa. Bandung memang terkenal dengan ulen bakarnya, sedangkan Garut hanya ulen goreng saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk menemukan penjual ulen, kalian bisa temukan di pasar tradisional daerah Bandung dan Garut. Bahkan, di pinggir jalan pusat kota banyak juga. Soal rasa dari makanan khas orang Sunda ini, nggak ada yang menarik sebenarnya. Cuma, yaa tujuannya hanya untuk dikonsumsi buat sarapan saja. Cara menikmati makanan ini sama seperti bandros, cocok ditemani dengan kopi dan teh hangat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, menurut kalian sarapan paling lezat sambil mam bandros, surabi, apa ulen?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/memahami-panggilan-mang-di-sunda-agar-nggak-salah-kaprah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Memahami Panggilan \u2018Mang\u2019 di Sunda agar Nggak Salah Kaprah<\/a>\u00a0dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/muhammad-ridwansyah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Muhammad Ridwansyah<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di balik kenikmatan bala-bala maupun gehu, bagi orang Sunda, makanan lain seperti bandros, surabi, dan ulen juga dijadikan buat sarapan.<\/p>\n","protected":false},"author":867,"featured_media":94969,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[9820,9819,4326,9821,6103,1152],"class_list":["post-94922","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-bandros","tag-bogor","tag-garut","tag-gehu","tag-sarapan","tag-sunda"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/94922","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/867"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=94922"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/94922\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/94969"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=94922"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=94922"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=94922"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}