{"id":94599,"date":"2020-12-15T06:54:36","date_gmt":"2020-12-14T23:54:36","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=94599"},"modified":"2020-12-14T14:35:42","modified_gmt":"2020-12-14T07:35:42","slug":"kisah-cinta-yang-wholesome-dan-progresif-dalam-lagu-rondo-kempling","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kisah-cinta-yang-wholesome-dan-progresif-dalam-lagu-rondo-kempling\/","title":{"rendered":"Kisah Cinta yang &#8216;Wholesome&#8217; dan Progresif dalam Lagu &#8216;Rondo Kempling&#8217;"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah seorang tetangga saya senang sekali dengan lagu-lagu campursari. Tapi, bukan Didi Kempot artis favoritnya. Ia menyukai The Lord of Broken Heart itu, namun lebih menyukai legenda campursari yang lain, Manthous. Dan di antara berbagai lagu yang sering ia putar keras-keras sembari menjahit (sebab pekerjaannya adalah menjahit), \u201cRondo Kempling\u201d menjadi yang paling sering diputar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya kadang sampai bingung. Sebab, di tempat saya, \u201cRondo Kempling\u201d-nya Manthous ini sudah khatam diputar di hampir semua hajat pernikahan putra-putri Jawa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Eh, masa iya tidak juga bosan sama lagu ini? Tapi, setelah saya pikir-pikir saya merasa lebih aneh. Sebab, meski saya sudah sering mendengar lagu ini, baru kemarin saya menyimak liriknya. Dan saya menemukan bahwa lirik dalam lagu ini ternyata sangat \u201cwholesome\u201d!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam lagu ini, Manthous mengisahkan seorang lelaki yang bertemu dengan seorang wanita yang sedang kerepotan. Si wanita bingung karena barang bawaannya yang banyak sehingga si lelaki menawarkan bantuan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan cuma baik hati, si lelaki juga bersikap sopan lho. Ia menggunakan bahasa Jawa yang hitungannya lumayan halus untuk bicara dengan si wanita. Bukan itu saja, ia menyebut si wanita dengan sebutan \u201cMbak\u201d yang merupakan tanda penghormatan.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ndak pundi Mbak Ayu badhe tindak pundi? (Kemana Mbak Ayu, mau pergi ke mana?)<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kadingaren tindak wae ora numpak taksi? (Tumben pergi nggak naik taksi?)<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dewekan opo ora wedi? (Sendirian apa nggak takut?)<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400;\">Timbang nganggur kulo gelem ngancani? (Daripada nganggur, mending saya temani)<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak hanya si lelaki yang sopan dan masuk akal. Si perempuan pun tidak memanfaatkan situasi. Ia bilang ke si lelaki bahwa ia mau sekali dibantu. Nanti, ia menjanjikan akan memberikan upah kepadanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah itu, keduanya asyik berinteraksi. Namun, si lelaki menyadari bahwa belanjaan si wanita sangat banyak seperti hendak pindahan. Ketika ia menanyakan itu, si wanita seolah menegaskan kondisinya bahwa ia memang sedang pindahan. Sebab, ia adalah janda yang baru ditinggal pergi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yak, janda kawan-kawan. Namun, si lelaki mengatakan dengan lugas bahwa \u201cperawan atau janda buatku nggak terlalu penting\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Si perempuan yang masih insecure kemudian menegaskan bahwa meski ia janda, namun ia tetaplah kempling (\u201cmantap\u201d). Dan si lelaki kemudian membalasnya dengan bercanda saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenapa Wholesome?<\/span><\/p>\n<h4><b>#1 Sebab kisah cintanya yang sangat realistis<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sinetron, kita sering mendapati dua insan jatuh cinta dengan kisah pertemuan yang ekstrem dan sulit dijelaskan. Yah, emang sih ceritanya jadi seru. Tapi, dalam kehidupan nyata, lebih sering saya mendengar kisah cinta yang permulanya hanyalah sebuah pertemuan sederhana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada yang ketemu waktu beli pulsa, ketemu dikenalin temen, sampai ketemu di pinggir jalan. Sederhana sekali dan tidak dramatis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah lagunya Manthous ini pun menggunakan premis sederhana dan tidak dramatis itu. Dalam lagu ini, tidak diceritakan si perempuan cantik bak malaikat atau si lelaki yang penikmat senja. Pokoknya cuma dua orang yang ketemu lalu saling sapa.<\/span><\/p>\n<h4><b>#2 Sebab tidak membandingkan perawan vs janda<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Indonesia, janda masih sering dianggap \u201cbarang second.\u201d Seorang perjaka yang menikahi janda selalu disayangkan oleh banyak oknum.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, mau janda atau perawan ya sama saja. Sama-sama perempuan yang punya rasa dan daya tarik tersendiri. Lah wong kebanyakan istri Nabi saja janda kok. Apa pantes kita nyebut diri religius kalau merendahkan janda?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untungnya, di lagu ini, Manthous menegaskan bahwa perawan atau janda itu tak begitu penting. Memang belum seprogresif tokoh-tokoh feminis. Tapi, ya sudah cukup baik untuk membantu melunturkan stereotipe bahwa janda itu lebih rendah dari perawan.<\/span><\/p>\n<h4><b>#3 Sebab menyapa dengan bahasa yang sopan<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semua lirik dalam lagu \u201cRondo Kempling\u201d ini tak ada yang tak sopan. Semuanya santun sekali dan juga menghormati.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti sudah saya singgung di atas, Manthous menggunakan bahasa yang lumayan halus (bukan ngoko kasar). Dia juga menyapa si perempuan dengan sebutan \u201cMbak Ayu\u201d yang merupakan penghormatan akan kedewasaannya. Selain itu, ia juga tidak kebanyakan menggombal. Ia fokus saja membantu si wanita sambil bercanda di sana-sini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yah pokoknya wholesome-lah. Tak heran lagu \u201cRondo Kempling\u201d menjadi lagu wajib di sebagian pernikahan di tanah Jawa. Sebab, meski sederhana tapi sebetulnya memberikan ajaran yang baik.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/iklim-intimidatif-media-sosial-bikin-saya-takut-dicap-feminis\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"> Iklim Intimidatif Media Sosial Bikin Saya Takut Dicap Feminis<\/a> dan tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/nar-dewi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Nar Dewi<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tak heran lagu \u201cRondo Kempling\u201d menjadi lagu wajib di sebagian pernikahan di tanah Jawa. Progresif banget soalnya, ceritanya menarik.<\/p>\n","protected":false},"author":655,"featured_media":55808,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[1428,8732],"class_list":["post-94599","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-campursari","tag-review-album"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/94599","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/655"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=94599"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/94599\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/55808"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=94599"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=94599"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=94599"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}