{"id":94557,"date":"2020-12-14T07:36:53","date_gmt":"2020-12-14T00:36:53","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=94557"},"modified":"2020-12-13T23:06:07","modified_gmt":"2020-12-13T16:06:07","slug":"dari-start-up-kita-tahu-bahwa-tontonan-bagus-nggak-cuma-karena-jalan-ceritanya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dari-start-up-kita-tahu-bahwa-tontonan-bagus-nggak-cuma-karena-jalan-ceritanya\/","title":{"rendered":"Dari Start Up Kita Tahu bahwa Tontonan Bagus Nggak Cuma karena Jalan Ceritanya"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa minggu lalu timeline Twitter saya selalu dihebohkan dengan cuitan seputar drama Korea <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Start Up<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Bisa dipastikan juga setiap akhir pekan hastag drama ini akan menduduki trending topic Twitter. Saya yang terheran-heran pun akhirnya tergoda mengikuti serial drama tersebut. Ditambah adanya rongrongan dari teman sendiri yang turut meracuni saya seputar dunia perdrakoran tentunya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Singkat cerita, setelah menonton beberapa episode drama itu, saya jadi berpikir sebenarnya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Start Up<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> biasa-biasa saja. Dalam artian, cerita dan konflik yang diangkat cukup mainstream. Plotnya pun mudah ditebak. Hanya saja eksekusi tim produksi cukup keren sehingga drama itu banyak dibicarakan sampai membelah penonton menjadi dua kubu. Halah skip aja ya bagian ini, sudah terlalu sering dibahas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, setelah saya sampaikan analisa kecil tapi cukup serius ini kepada seorang teman yang super bucin dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Start Up<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, kami mengalami perdebatan yang cukup sengit. Saya dengan pendapat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Start Up<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> biasa saja dan teman saya yang menganggap drama itu super keren. Tidak cukup di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Start Up<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, perdebatan pun mulai menjalar ke drakor dan film lain. Akhirnya setelah menghabiskan beberapa waktu dan segelas es teh, kami pun menemukan titik terang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berikut notula diskusi semi debat kami tentang kriteria film bagus yang ternyata tidak hanya dilihat dari jalan ceritanya.<\/span><\/p>\n<h4>#1 Ide film yang segar<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Biasanya, kita cenderung tertarik dengan sesuatu yang baru, jauh dari kebiasaan dan sulit ditebak. Sama halnya dengan film, jalan cerita yang mudah ditebak kadang kala menjadi alasan kita malas menonton dan melabelinya tidak menarik. Sebut saja sinema Indosiar: <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Suara Hati Seorang Istri<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ataupun Azab yang sampai kita hafal jalan ceritanya. Bahkan mendengar lagu yang dijadikan soundtrack-nya pun ingatan kita auto melesat ke adegan film.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejauh yang saya amati, salah satu film Indonesia (kan cintailah produk-produk Indonesia) dengan ide anti mainstream yaitu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Posesif<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Film garapan Edwin dan Gina S. Noer ini mengangkat tema toxic relationship yang mana kala itu terbilang jarang diangkat sineas lain. Meskipun tetap saja berfokus pada hubungan cinta sepasang kekasih, Gina membubuhkan karakter pria yang abusive beserta hal yang melatarbelakanginya. Dua jempol pokoknya!<\/span><\/p>\n<h4>#2 Dialog dalam film<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bisa jadi alasan kita menyukai film tidak lain karena dialog yang dibangun di dalamnya. Biasanya, mereka adalah tipe orang yang menyukai quote gitu. Banyak potongan dialog dalam film yang kerap dicomot untuk dijadikan quote. Entah itu sebagai penyemangat diri atau sekadar sarkas yang berniat seru-seruan belaka. Contohnya gombalan Dilan untuk Milea, &#8220;Rindu itu berat. Kamu nggak akan kuat, biar aku saja.&#8221; Hiks.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu film yang di dalamnya mengandung banyak kalimat yang berpotensi dijadikan quote oleh banyak orang adalah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Film yang diadaptasi dari serial pertama novel <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Supernova <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">karya Dee Lestari ini penuh dengan kalimat magis yang bikin kita melongo. Pemburu quote silakan merapat.<\/span><\/p>\n<h4>#3 Kampanye budaya tertentu<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Budaya dalam hal ini bisa diartikan secara luas. Seperti literasi ataupun budaya lokal daerah tertentu. Film yang mengangkat hal demikian tentu saja memiliki karakter sendiri sehingga memunculkan keunikan. Hal ini tentunya menjadi nilai plus kita dalam menilai film.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">AADC<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang lagi-lagi dalam season duanya tak pernah sepi sajak. Mengusung kumpulan puisi Aan Mansyur, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak Ada New York Hari Ini,<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400;\">AADC 2<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> mampu membius penontonnya. Bagaimana tidak, sajak yang sangat rancak dipadukan dengan suara Mas Rangga yang adem tatkala berpuisi. Film lain yang mengangkat budaya daerah adalah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Sang Penari.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Alih wahana novel <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ronggeng Dukuh Paruk <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Ahmad Tohari ini mengangkat kehidupan masyarakat daerah beserta tradisinya.<\/span><\/p>\n<h4>#4 Destinasi dalam film<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai hiburan, film kerap membikin penonton ikut ngiler melihat apa yang disajikan. Sisi entertainment yang persuasif ini menjadi daya tarik tersendiri sehingga tak jarang orang rela menontonnya lebih dari sekali demi melihat hal yang disukainya. Sebut saja beberapa destinasi wisata yang dikunjungi dalam film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">AADC 2, 99 Cahaya di Langit Eropa,<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">5 Cm<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Bahkan kabarnya, jumlah pengunjung wisata menjadi bertambah sejak rilisnya film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">AADC 2<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Pun tren mendaki gunung semakin digemari kalangan anak muda sejak<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> 5 Cm<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ditayangkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sah-sah saja kita menilai film bagus dari sisi yang mana. Seperti makan gado-gado dan kita hanya memilih yang kita sukai, tetap gado-gado rasanya enak, kan?<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nostalgia-film-aamir-khan-terbaik-sepanjang-2000-an\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Nostalgia Film Aamir Khan Terbaik Sepanjang 2000-an<\/a><\/strong> <strong>atau tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/elif-hudayana\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Elif Hudayana<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Setelah menonton beberapa episode, saya jadi berpikir sebenarnya Start Up biasa-biasa saja. Dalam artian, cerita dan konflik yang diangkat cukup mainstream.<\/p>\n","protected":false},"author":536,"featured_media":94665,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[9807,28],"class_list":["post-94557","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-alur-film","tag-film"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/94557","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/536"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=94557"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/94557\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/94665"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=94557"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=94557"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=94557"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}