{"id":94545,"date":"2020-12-14T07:37:43","date_gmt":"2020-12-14T00:37:43","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=94545"},"modified":"2020-12-13T23:06:23","modified_gmt":"2020-12-13T16:06:23","slug":"jika-saya-mewakili-bantul-ikut-kompetisi-masterchef","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jika-saya-mewakili-bantul-ikut-kompetisi-masterchef\/","title":{"rendered":"Jika Saya Mewakili Bantul Ikut Kompetisi MasterChef"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setahu saya dan sepencarian gabut saya di mesin pencarian, belum ada peserta MasterChef yang berasal dari Bantul. Hal ini membuat saya sedih sekaligus senang. Senang karena saya bisa saja jadi peserta pertama yang mewakili Bantul dalam ajang kontestasi memasak paling yahud di Indonesia. Sedih karena saya masak mi saja sulit menemukan takaran kematangan sempurna. Alias mblenyek.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi nggak masalah, kemampuan memasak bisa dicari, impian yang memang harus selalu dirawat dengan baik. Ikutan MasterChef merupakan impian manusia-manusia yang hobi masak. Baik yang semi-pro, atau yang pro-tol seperti saya. Pun jika mewakili Bantul, barang tentu saya akan membawa panji-panji daerah saya agar harum\u2014setidaknya di hadapan mereka-mereka yang menonton.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan hanya memasak di dapur, tetapi beberapa masakan juga memerlukan proses yang bisa dikatakan Mbantul sekali. Ada ciri khas tersendiri. Ada tradisi yang harus dijaga. Dan inilah semisal saya ikutan ajang kontestasi MasterChef dan mewakili daerah asal saya, Mbantul yang selalu keren betul, yang selalu mewangi lantaran Projotamansari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama, saya bakalan memikat hati para juri dengan masakan yang mungkin saja nggak pernah mereka makan. Semoga saja, masakan ini baru pertama kali melebur di lidah Chef Juna, Chef Renatta, dan Shrek Arnold. Lantas masakan apa yang masak? Tentu saja mi pentil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Chef Juna dengan petantang-petenteng mendekati saya, \u201cOke, Gusti, masak apa kamu?\u201d matanya mengawasi meja saya dengan teliti.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemudian saya menjawab dengan kemrungsung karena sedang nggerus mbrambang bawang. \u201cNoodles chewy-chewy from Bantul with nipple delicious, Chef,\u201d kata saya dengan pedenya. Tangan saya masih nguleni adonan. Saya lihat dikit raut wajah Chef Juna, ia kebingungan. \u201cHihihi, ternyata kemampuan bahasa Inggris Chef Juna cuma segini,\u201d batin saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cApa itu?\u201d akhirnya ia menyerah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMi yang kenyal-kenyal asal Bantul, Chef. Alias mi pentil yang lezat,\u201d habis mendengar jawaban saya, Chef Juna minggat ke meja peserta yang lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika adonan sudah kalis karena saya injak-injak pakai kaki, lantas saya masukkan ke dalam mesin pencetak mi. Saat itu pula Chef Renatta datang. Kemudian bertanya, \u201cKamu masak apa?\u201d katanya dengan sengak-sengak gemesin. Alisnya gruwal-gruwel bagai mensukseskan dialektika kembang gula alanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSaya terinspirasi dari film Ratatouille, Chef. Masakan yang bisa mengingat tentang rumah,\u201d jawab saya. senyum-senyum sendiri padahal lagi meracik bumbu wahid untuk mie pentil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLho yang makan kan kami, bukan kamu. Bagaimana bisa kami membayangkan rumah kami setelah makan\u2026 apa namanya?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHmmm\u2026 noodles chewy-chewy from Bantul with nipple delicious alias mi pentil, Chef.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAhem ahem ahem,\u201d Chef Renatta tertawa dengan renyah seperti ciri khasnya. Kayak kembang api sedang mejen. Semejen-mejennya, tetap saja sahih untuk dipandang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bajilak, iya juga ya. lha wong Chef Renatta saja nggak ada keterikatan khusus dengan Bantul, je. Gimana bisa memaknai mi pentil? Kemudian saya berdalih, \u201cBegini, Chef. Kapan lagi saya bisa membayangkan para chef sedang belanja dan membawa tas kresek di Pasar Imogiri atau Pasar Jejeran, chef.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemudian presentasi pun dimulai. Yang lain memasak masakan yang nama-namanya wangun sekali. Namun tetap saja noodles chewy-chewy from Bantul with nipple delicious alias mi pentil masih paling unik menurut saya. \u201cGusti, silakan,\u201d kata Shrek Arnold. Semua peserta melihat ke saya dan bertepuk tangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di kamera, waktu bagian cut-scene, saya berkata seperti ini, \u201cIni waktunya saya tampil. Saya pede dengan masakan saya. Yakin sekali bahwa juri akan terpikat. Tapi\u2026\u201d musik keras berdengung, adegan kembali ke scene saya presentasi masakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cOke, Adit,\u201d kata Shrek Arnold mengambil sendok. \u201cPresentasinya menarik, ya. Minya terlihat kenyal, warnanya kuning dan putih,\u201d setelah itu Shrek Arnold pun melahap mi pentil buatan saya, matanya mendelik-mendelik ke atas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Adegan kembali ke cut-scene. Saya bilang ke kamera, \u201cSaya yakin kalau enak, tapi matanya Shrek Arnold itu lho seperti mengatakan sesuatu yang\u2026. Ah, sudahlah.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Scene kembali menyorot Shrek Arnold. Ia meletakan sendok dan melihat ke saya. \u201cMinya blas aneh!\u201d Bajengkrek, seimut-imutnya chef yang satu ini, kalau ngomong itu ada nyelekit-nyelekitnya gitu. Namun, saya bakalan tetap tenang. Saya percaya noodles chewy-chewy from Bantul with nipple delicious alias mi pentil adalah jalan ninja saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTapi,\u201d katanya, hati saya mencelus. \u201cSaya berasa menjelajahi tiap jengkal Pasar Celep yang ada di Srigading. Saya seperti berjalan ke sana pada pasaran kliwon dan pon. Sensasi ini\u2026 sungguh chewy-nya itu lho, harus segera dikomersialisasikan mi pentil ini.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah itu pun saya akan terus membawa masakan khas Bantul lainnya di ajang kontestasi ini. Sampai juara. Di partai puncak, ketika mewajibkan para peserta kolaborasi dengan chef idola mereka, saya membawa salah satu kru Sate Klathak Pak Pong. Yang jadi juri tamu Nicholas Saputra dan Dian Sastro.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika penilaian, bukannya menilai masakan saya yang colab sama Pak Pong, malah reka adegan Ada Apa dengan Cinta pasca enam purnama yang mereka liwatkan. \u201cGusti, apa yang kamu masak ini, itu jahat!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal saya penginnya dapat komentar begini: Gusti, masakan buatanmu, numero uno!<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/yang-tidak-dimasak-ketika-memasak-di-masterchef-indonesia\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Yang Tidak Dimasak Ketika Memasak di MasterChef Indonesia<\/a><\/strong>\u00a0<strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/gusti-aditya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Gusti Aditya<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jika mewakili Bantul, barang tentu saya akan membawa panji-panji daerah saya agar harum\u2014setidaknya di hadapan mereka-mereka yang menonton.<\/p>\n","protected":false},"author":130,"featured_media":94664,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[5766,9621],"class_list":["post-94545","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-bantul","tag-masterchef"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/94545","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/130"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=94545"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/94545\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/94664"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=94545"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=94545"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=94545"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}