{"id":94519,"date":"2020-12-14T07:34:21","date_gmt":"2020-12-14T00:34:21","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=94519"},"modified":"2020-12-13T23:05:45","modified_gmt":"2020-12-13T16:05:45","slug":"pakai-motor-matic-untuk-pelesiran-ke-daerah-pengunungan-adalah-kesalahan-yang-hakiki","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pakai-motor-matic-untuk-pelesiran-ke-daerah-pengunungan-adalah-kesalahan-yang-hakiki\/","title":{"rendered":"Pakai Motor Matic untuk Pelesiran ke Daerah Pengunungan Adalah Kesalahan yang Hakiki"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Touring alias menjelajah atau berwisata ke tempat-tempat baru dengan menggunakan motor bisa sangat menyenangkan. Pikiran mungkin menjadi lebih rileks dan tenang setelah melewati rutinitas yang memuakkan. Setiap jalan yang dilalui pun menjadi kejutan dan ladang kepuasan batin tersendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apalagi melihat keindahan alam Indonesia yang bisa dibilang lumayan istimewa. Kenapa saya bilang lumayan? Ya, karena itu, kadang tempat-tempat eksotis masih kurang dalam hal perawatannya. Masih banyak ditemukan sampah di sepanjang jalan dan infrastruktur jalan yang nggak bisa diacungi jempol..<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, sedikit lepas dari hal-hal itu, riding menggunakan motor sangatlah menyenangkan, bagi orang-orang yang suka tentunya, kayak saya. Banyak pengalaman yang didapat. Bukan hanya pengalaman, mengetahui karakter atau sifat orang yang sebenarnya bisa juga dilihat saat touring bareng pakai motor. Kenal dengan orang-orang baru yang sehobi di jalan pun menjadi suatu nilai tambah. Jika ingin merasakannya, silakan coba dan tanggung juga dengan akibatnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pas touring, biasanya saya lebih prefer memakai motor laki atau bebek. Dua tipe motor ini saya rasa lebih nyaman ketika diajak jarak jauh. Apalagi jika melihat jalurnya yang bakal dilibas nggak menentu. Ya, meski motor matic dianggap punya banyak keunggulan saat diajak jalan jauh, nggak bikin badan gampang pegal salah satunya. Namun, rasa nyaman itu bakalan sirna ketika membawa motor matic ke daerah pegunungan yang notabene mempunyai jalan yang naik turun dari cukup curam sampai sangat curam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sempat mau nyungsep gegara ke daerah pegunungan naik matic pas perjalanan mau balik. Untungnya hal itu nggak kejadian beneran, baru hampir. Jalan balik yang didominasi jalanan menurun bakal membuat motor matic berasa siap menghantar ke dunia yang kekal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap turunan yang dilewati serasa mengendarai halilintar yang ada di Dufan, ndloyooor terus. Berbeda jika memakai motor kopling, baik tipe bebek atau batangan yang masih digendoli engine brake. Yups, tinggal pindah persneling ke gigi rendah, maka laju motor bisa otomatis ikutan pelan mengikuti putaran mesin yang berputar pelan. Yup, inilah engine brake itu.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kan, sudah ada rem yang dibenamkan di setiap motor?<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Percayalah, ketika jalannya terus menurun, rem saja nggak bisa sepenuhnya diandalkan. Faktanya, rem motor yang terlalu lama ditekan sehingga kampas dan piringan bergesekan melulu ketika menurun, lamat-lamat bakal membuat piringan rem memuai. Lantas, kampas rem kesusahan untuk sekadar menggigit supaya laju menjadi lebih pelan. Meski berkali-kali menarik tuas rem, ya nggak bakal berhenti tuh motor.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan jika nggak ada engine brake yang membantu menghentikan laju motor ketika menurun, ya ambyar, Buos!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal tersebut yang saya alami ketika membawa motor matic. Untungnya, kala itu ada jalan yang agak datar ketika saya merasakan rem motor ada yang aneh dan saya memutuskan buat berhenti. Dan untungnya lagi, setelah saya kebingungan ada seorang bapak-bapak yang menghampiri saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMotornya kenapa, Mas?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIni, Pak, remnya kayak nggak berfungsi. Padahal sebelumnya sudah tak ganti dengan kampas rem baru,\u201d jawab saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cWah, bisa bahaya itu, Mas. Sebentar saya ambil air dulu.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lantas, beliau mengambil air di botol air mineral dan langsung digebyur rem motor saya. Dan muncul suara desisan, sssssstttttt.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNah, begini Mas kalau rem kepanasan. Untungnya Mas berhenti di sini. Kemarin di sini ada juga kejadian motor matic remnya blong dan sampai nyungsep di semak-semak itu (sambil nunjuk semak hijau di tikungan) sampai motornya rusak, Mas,\u201d kata si Bapak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cUntungnya, pengendaranya nggak terluka serius,\u201d lanjutnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cUntung saja ya, Pak,\u201d ucap saya sambil mencium-cium tangan si Bapak yang sudah jadi dewa penolong saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rem motor kembali saya cek dan sudah kembali normal. Setelah mengucapkan ucapan terima kasih yang tiada tara ke si Bapak, saya mulai melanjutkan perjalanan sambil menyimpan stok air di botol minuman buat diguyur ke rem motor lagi. Selama perjalanan pulang, saya berkali-kali berkelakar bahwa menggunakan motor matic buat nanjak-nanjak adalah kesalahan yang hakiki. Dan amit-amit buat ngulangin lagi, kecuali memang terpaksa, sih.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nggak-cuma-aki-tekor-ini-beberapa-parts-penyebab-electric-starter-motor-mati\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Nggak Cuma Aki Tekor, Ini Beberapa Parts Penyebab Electric Starter Motor Mati<\/a><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kepincut-beli-honda-scoopy-terbaru-padahal-baru-saja-kredit-motor\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">\u00a0<\/a>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/budi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Budi<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Touring alias menjelajah atau berwisata ke tempat-tempat baru dengan menggunakan motor bisa sangat menyenangkan. Pikiran mungkin menjadi lebih rileks dan tenang setelah melewati rutinitas yang memuakkan. Setiap jalan yang dilalui pun menjadi kejutan dan ladang kepuasan batin tersendiri. Apalagi melihat keindahan alam Indonesia yang bisa dibilang lumayan istimewa. Kenapa saya bilang lumayan? Ya, karena itu, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1041,"featured_media":94661,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[8562,9805,9806],"class_list":["post-94519","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-matic","tag-pegunungan","tag-touring"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/94519","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1041"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=94519"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/94519\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/94661"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=94519"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=94519"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=94519"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}