{"id":94413,"date":"2020-12-14T11:43:18","date_gmt":"2020-12-14T04:43:18","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=94413"},"modified":"2020-12-14T11:43:36","modified_gmt":"2020-12-14T04:43:36","slug":"jokowi-yang-suka-musik-keras-perlu-dengerin-lagu-post-human-survival-horror-dari-bmth","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jokowi-yang-suka-musik-keras-perlu-dengerin-lagu-post-human-survival-horror-dari-bmth\/","title":{"rendered":"Jokowi yang Suka Musik Keras Perlu Dengerin Lagu &#8216;Post Human: Survival Horror&#8217; dari BMTH"},"content":{"rendered":"<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Post Human: Survival Horror<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah tajuk EP terbaru yang dikeluarkan oleh Bring Me The Horizon. Melalui rentetan single sedari Ludens hingga Teardrops, EP mereka hadir dalam menyambut Halloween 2020 ini. Namun, alih-alih mengangkat tema-tema seperti klenik, Oli Sykes, vokalis BMTH menegaskan bahwa pandemi lebih menyeramkan dari demit dan semacamnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu hal ini bikin saya manggut-manggut mengiyakan. Barangkali, pandemi adalah bentuk demit paling baru menurut Oli. Jika pocong dan kuntilanak itu versi beta, pandemi adalah bentuk nyata sebuah evolusi final form manunggal dari bentuk-bentuk yang segalanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oli banyak menjelaskan makna lagu-lagu dalam EP terbaru BMTH melalui NME, namun dalam tulisan ini, izinkan saya memberi rekomendasi kepada Pakde Jokowi. Berhubung blio suka musik-musik cadas seperti ini, saya pun akan mengimplementasikan arti per lagunya dengan tafsir saya pribadi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beneran deh, Pakde, ini EP <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Post Human: Survival Horror<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang memuat lagu-lagu bagus banget.<\/span><\/p>\n<p><b>Pertama<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, \u201cDear Diary\u201d. BMTH seakan mengingatkan kita kembali ke masa-masa di awal pandemi, ketika menteri-menteri Jokowi guyon tentang pandemi. Nasi kucing lah, akses masuk ke Indonesia sulit lah, perbanyak doa lah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cThe sky is falling, it\u2019s fucking boring. I\u2019m going braindead isolated.\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bosen, malesi, penginnya muntab, misuh teros, perasaan inilah yang dirasakan masyarakat Indonesia ketika awal swakarantina. Bebarengan dengan jajaran Jokowi yang ngelawak mulu.<\/span><\/p>\n<p><b>Kedua<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, \u201cParasite Eve\u201d. Saya sudah membahas banyak mengenai lagu ini dalam tulisan \u201c<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/parasite-eve-cara-bmth-menyentil-mas-mas-penganut-teori-konspirasi\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">Parasite Eve, Cara BMTH Menyentil Mas-mas Penganut Teori Konspirasi<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">\u201d. Intinya, kondisi yang digambarkan oleh Parasite Eve adalah sebuah masa saat mulai muncul orang-orang bajingan di masa krisis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalkan orang yang dipercaya menjabat untuk mengusir pandemi, justru mulutnya mengeluarkan statemen yang nggak mashoook blas. Puncaknya, sisi egois itu digambarkan dalam lirik yang penuh ketegasan sekaligus komikal ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cI\u2019ve got a fever, don\u2019t breathe on me<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">I\u2019m a believer of nobody<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Won\u2019t let me leave \u2018cause I\u2019ve seen something<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Hope I don\u2019t sneeze, I don\u2019t\u2026*sneeze.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengapa masyarakat asu ini muncul? Sebab kita sudah nggak tahu harus percaya kepada siapa. Pemerintah? Bahkan dalam lagu di album <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Post Human<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ini dijelaskan dengan sempurna. Seakan, melalui dialog masa, \u201cpihak pemerintah\u201d berbicara dengan lirik berikut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPlease, remain calm, the end has arrived<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">We cannot save you, enjoy the ride.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sampai titik ini kita sadar, yang dapat menyelamatkan nyawa kita ya hanya diri masing-masing. Pemerintah sudah seperti bertindak autopilot dan melepaskan tanggungannya.<\/span><\/p>\n<p><b>Ketiga<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, \u201cTeardrops\u201d. Jika ada orang gila karena menyebarkan konspirasi, ada juga yang depresi karena sunyi. \u201cTeardrops\u201d mewakili segala perasaan orang-orang yang rela melakukan swakarantina sampai segalanya menjadi runyam. Kerjaan, pertemanan, hingga masalah prinsipil seperti percintaan. Sampai-sampai, kita teriak, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201c<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Oh, God, everything is so fucked, but I can&#8217;t feel a thing!\u201d<\/span><\/p>\n<p><b><i>Keempat<\/i><\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, \u201cObey\u201d (feat. YUNGBLUD). Ketika masyarakat seakan terbelah menjadi dua kubu, pemerintah pun makin ngawu-ngawu dalam menerapkan aturan. Nyawa atau ekonomi? Ya, jelas, apa pun problematikanya, ekonomi menjadi pilihan utama. Sebab apa? Sebab <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201c<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">we&#8217;re only gambling with your soul!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mimpi buruk yang berjalan secara sistematik, begitu yang dikatakan oleh Oli dan YUNGBLUD dari EP <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Post Human: Survival Horor <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">ini. Atau secara jelasnya sih begini, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201c<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Whatever you do, just don&#8217;t wake up and smell the corruption. Another day, another systematic nightmare<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">.\u201d<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Tikus itu bukan hanya mengorupsi uang kita, namun juga nyawa dan jiwa malang kita.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang dikorup ndilalah bantuan sosial. Jiamput!<\/span><\/p>\n<p><b>Kelima<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, \u201cItch For The Cure\u201d (\u201cWhen Will We Be Free?\u201d)<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Kalau mau mengartikan secara liar dan gothak-gathuk, gara-gara \u201cObey\u201d, banyak sesuatu yang dikerjakan secara gesit, irit, dan penuh diam dan senyap. Apa itu? UU Cipta Kerja jawabannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan lucu, liriknya bilang begini, \u201cSomething is coming unplugged\u201d atau sesuatu datang dicabut. Apa yang dicabut? Mikrofon! Astaga, lucu sekali negeri ini, eh, lagu bikinan BMTH di EP <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Post Human: Survival Horor<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ini ding.<\/span><\/p>\n<p><b>Keenam<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, \u201cKingslayer\u201d (feat. BABYMETAL). Sosok Kingslayer pun muncul. Sosok yang menjadi bahan omongan dan selalu menjadi objek media. Kekayaannya meningkat pesat, sedangkan masyarakat mengalami krisis. Demonstrasi besar di tengah pandemi muncul guna mempertanyakan kebijakan si \u201cKingslayer\u201d ini. King dari segala King. Atau maharaja dari raja-raja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSystem failure<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Life is encrypted, genome modified<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Like a virus in a lullaby<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Artificial &#8216;til the day you die, silly program<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">You&#8217;re corrupted.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begitu kata lirik di lagu ini, kegagalan sistem, hidup dienkripsi, dan genom dimodifikasi.<\/span><\/p>\n<p><b>Ketujuh<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, \u201c1&#215;1\u201d (feat Nova Twins). Ketika huru-hara terjadi, akan datang satu tokoh di tengah badai pandemi seperti ini. Semakin seru saja, namun begitulah keadaannya. Tokoh spesial ini seakan berkata, \u201cDisconnected from the world again. And no, the sun don&#8217;t shine in the place I&#8217;ve been. So why you keep acting like I don&#8217;t exist?<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201d<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Akhirnya, ia bisa merasakan matahari bersinar dengan sewajarnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yap, benar, feels like an archenemy, can&#8217;t look me in the eyes. Sungguh menyenangkan menanti tokoh yang bisa mengumpulkan massa sebanyak tujuh juta ini. Akhirnya blio pulang juga. Oleh-olehnya masalah.<\/span><\/p>\n<p><b>Kedelapan<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, \u201cLudens\u201d. Titik ini adalah sebuah tebak-tebakan penuh tanda tanya. Masa depan adalah hal yang abu-abu, namun Ludens merasakan pesimis jika pandemi saja tidak bisa dihadapi, bagaimana ketika melawan masa depan yang masih banyak problematika tak terduga. Sedikit berlebihan, namun saya suka lirik ini, \u201cI need a new leader, we need a new Luden.\u201d<\/span><\/p>\n<p><b>Kesembilan<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, \u201cOne Day The Only Butterflies Left Will Be In Your Chest As You March Towards Your Death\u201d (feat. Amy Lee)<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Sangat cocok didengarkan sembari membayangkan mau bagaimana negara ini ke depannya. Korup sudah menggila, huru-hara di sana-sini, bantuan tidak tepat sasaran, yang malang makin malang, yang berjaya makin jaya. Pandemi berlangsung selamanya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masih dibutuhkankah individu-individu \u201ckalah\u201d untuk negara? Masih didengarkah suara sumbang dan tak terdengar dari masyarakat akar rumput? Ah,<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">I thought we had a future, but we ain&#8217;t got a chance in hell.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selamat mendengarkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Post Human: Survival Horror<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, Pakde Jokowi. Saya sarankan liriknya dihayati betul biar bisa diresapi sampai ke sumsum tulang. Besoknya masih bisa kerja, kerja, kerja.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jika-saya-mewakili-bantul-ikut-kompetisi-masterchef\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Jika Saya Mewakili Bantul Ikut Kompetisi MasterChef<\/a><\/strong>\u00a0<strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/gusti-aditya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Gusti Aditya<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Selamat mendengarkan Post Human: Survival Horror, Pakde Jokowi. Saya sarankan liriknya dihayati betul biar meresap sampai sumsum tulang.<\/p>\n","protected":false},"author":130,"featured_media":13986,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[6164,8525],"class_list":["post-94413","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-album-musik","tag-rekomendasi-lagu"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/94413","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/130"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=94413"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/94413\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/13986"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=94413"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=94413"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=94413"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}