{"id":94394,"date":"2020-12-18T06:22:48","date_gmt":"2020-12-17T23:22:48","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=94394"},"modified":"2020-12-17T17:56:14","modified_gmt":"2020-12-17T10:56:14","slug":"pengalaman-membonceng-teman-yang-mendadak-kesurupan-kapok-deh","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pengalaman-membonceng-teman-yang-mendadak-kesurupan-kapok-deh\/","title":{"rendered":"Pengalaman Membonceng Teman yang Mendadak Kesurupan. Kapok, deh!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setan itu kalau mau masuk ke tubuh orang kok ya nggak mikir-mikir dulu gitu lho, harusnya kan lihat-lihat dulu situasi. Begitu suara yang muncul dalam batin saya ketika teman yang sedang saya bonceng mendadak kesurupan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kejadian ini berlangsung satu tahun lalu. Jadi begini ceritanya, hari jumat sekira pukul 14.00 saat itu panas matahari terasa sangat menyengat. Saya yang sedang mengendarai motor berinisiatif melipir ke warung milik teman yang kebetulan tidak jauh dari lokasi saya. Niatnya ngadem dan istirahat sejenak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anggap saja teman saya ini bernama Febi. Ketika saya baru saja tiba di warungnya, dia mendadak bilang, &#8220;Nah, kebetulan ada si Agus.&#8221; Saya pikir kenapa, ternyata dia minta diantar ke rumah Eva. Tentu dia teman saya juga. Kami bertiga sudah berteman sejak SMA, artinya sudah sepuluh tahun jika dihitung sampai sekarang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Katanya ada yang mau disampaikan ke Eva. Nggak mau lewat telepon, penginnya langsung ketemu saja. \u201cTapi nanti ya habis asar,\u201d katanya. Alhamdulillah, jadi saya bisa istirahat dulu satu jam, lumayan. Ya sudah langsung saya iyakan. Bukan apa-apa, teman saya yang satu ini kalau sudah kepengin apa-apa harus dituruti. Kalau nggak, bisa marah besar. Apalagi dia tahu kalau saat itu saya sedang menganggur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bakda asar kami langsung tancap gas. Jarak dari warungnya ke rumah Eva tidak terlalu jauh, cukup 45 menit kalau naik motor. Di pertengahan jalan dia meminta saya menyimpang dulu ke pasar. Dibelinya kencur entah berapa banyak. Setelah kembali memboncengnya, saya bertanya, &#8220;Itu kencur buat apaan?&#8221; Eh, dia malah sewot, &#8220;Udah ayo berangkat, jangan banyak tanya!&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sesampainya di rumah Eva, Febi lantas menyodorkan sebuah plastik hitam sembari memintanya untuk segera diberikan kepada ibunya. Tiba-tiba ibunya datang dan duduk di antara kami sambil memeluk lututnya. Tidak mengeluarkan sepatah katapun. Hanya terdengar suara napas yang terengah-engah. Febi, dengan cepat mengatakan, &#8220;Bu, itu aku bawa kencur buat Ibu.&#8221; Batin saya, memang itu kencur mau diapakan dan untuk apa?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ibunya Eva hanya mengangguk lalu berdiri dan beranjak pergi menuju kamar. Febi lantas menepuk kaki Eva sambil bilang, &#8220;Cepetan itu kencurnya diparut terus dibalurin ke punggung sama kakinya.&#8221; Eva lalu mengambil plastik yang berisi kencur itu dan membawanya ke dapur. Setelah Eva kembali duduk bersama kami, saya bertanya sambil bisik-bisik, &#8220;Ibu lu kenapa, Va?&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Lagi sakit.&#8221; jawab Eva.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Sakit apaan?&#8221; tanya saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Gua juga nggak tahu pastinya, sih. Tapi, kemarin udah dibawa ke klinik sama bapak gua.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Oh&#8230; eh, itu elu yang minta si Febi bawain kencur?&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Kagak.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Lha, terus siapa? Apa bapak atau ibu elu?&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Ibu gua kan nggak megang hp, bapak gua juga ngapain punya nomor dia.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Tapi, si Febi tahu kan Ibu elu lagi sakit?&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Kagak, gua nggak ngasih tau ke siapa-siapa. Lagian sakitnya juga baru kemarin.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Lhaaaa\u2026.&#8221; saya melongo sambil melihat ke arah Febi. Saya membatin, ini orang indigo kali ya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Febi hanya terpaku ke arah ibunya Eva yang sedang berbaring di kamar, yang memang terlihat dari tempat kami duduk karena pintunya pun setengah terbuka. Setahu kami Febi adalah orang yang cerewet. Tapi, entah kenapa saat itu dia tak banyak bicara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Azan Magrib berkumandang. Setelah menunaikan salat, saya bergegas mengajak Febi untuk pulang. Tapi, dia tidak mau. Katanya habis isya saja. Dan ternyata meski sudah pukul 20.00 dia tetap sulit diajak pulang. Saya menarik lengannya untuk segera berdiri dan memaksanya pulang. Akhirnya dia manut meski sambil marah-marah dan jambak-jambak rambut saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Baru beberapa meter kami meninggalkan rumah Eva, tiba-tiba Febi nyerocos. Saya pikir dia sudah kembali normal karena aslinya kan dia memang cerewet. Tapi, kok lama-lama nyerocosnya nggak karuan. Sambil ngomongin ibunya Eva pula.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Gus, ibunya Eva bukan sakit biasa.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ebuset, kok dia malah ngomong begitu. Perasaan saya mulai nggak enak lagi. Saya jadi teringat cerita dari kakaknya beberapa tahun sebelumnya. Febi itu katanya gampang kesurupan. Kalau dia pergi ke mana-mana dan di tempat yang dia kunjungi itu ada setannya, pasti setannya ngikut. Dan itu sering kejadian, katanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang saya sering diminta mengantar Febi, tapi nggak pernah jauh dan lama. Ya paling jauh ke pasar untuk belanja barang dagangan yang mau dijualnya lagi di warung. Itu juga kalau saya kebetulan lagi ke warungnya, kalau nggak ya bukan saya yang mengantar. Dan alhamdulillah nggak pernah kejadian yang aneh-aneh tuh. Tapi kali itu, saya merasakan keganjilan yang sebelumnya tidak pernah saya lihat darinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Gus, punggung gua berat banget, gua nggak kuat.&#8221; Suara Febi terdengar lirih. Saya hanya diam karena harus fokus mengendarai motor. Suaranya tidak terdengar lagi, tapi saya masih merasakan kedua lengannya yang sedari tadi ditaruh di pundak saya. Sesaat sebelum saya sempat melirik ke spion, tiba-tiba, &#8220;Hihihihihihi\u2026.&#8221; dia ketawa ngikik dan suaranya nyaring banget, anjir!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya kaget dong, sampai punggung saya maju ke depan dan spontan teriak, \u201cFebi!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketawa Febi mendadak hilang setelah saya teriaki. Saya melirik ke spion, kepalanya tertunduk kaku. Sepanjang perjalanan pulang dia tidak bersuara sedikitpun. Saya yakin Febi mendadak kesurupan saat saya bonceng. Batin saya meronta-meronta sambil melafalkan berbagai bacaan yang saya mampu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya langsung mengantar Febi ke rumahnya yang memang bersebelahan pula dengan warungnya. Setelah turun dari motor, saya lihat dia tampak biasa-biasa saja. Bahkan sempat menawari saya secara ramah untuk masuk dulu ke dalam rumahnya dengan ekspresi wajah yang seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Seolah peristiwa mendadak kesurupan di atas motor itu tak pernah terjadi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentu saya menolaknya secara halus dengan alasan sudah malam dan harus segera pulang. Sampai di rumah, saya langsung ke kamar dan rebahan terus celetuk, \u201cDuh, Gusti! Nggak lagi-lagi deh, kapok!\u201d<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/warteg-boleh-ada-di-mana-mana-tapi-warsun-tetap-juaranya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Warteg Boleh Ada di Mana-mana, tapi Warsun Tetap Juaranya<\/a> dan tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/agus-dhiki-saputra\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Agus Dhiki Saputra<\/a> lainnya.\u00a0<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&#8220;Gus, punggung gua berat banget, gua nggak kuat.&#8221; Suara Febi terdengar lirih. Saya rasa Febi mendadak kesurupan di atas motor.<\/p>\n","protected":false},"author":1103,"featured_media":21040,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[1304,3501],"class_list":["post-94394","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-cerita-horor","tag-malam-jumat"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/94394","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1103"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=94394"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/94394\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/21040"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=94394"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=94394"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=94394"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}