{"id":94393,"date":"2020-12-18T06:05:58","date_gmt":"2020-12-17T23:05:58","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=94393"},"modified":"2020-12-17T17:12:14","modified_gmt":"2020-12-17T10:12:14","slug":"bersepakatlah-tape-singkong-itu-beda-dengan-peuyeum-dan-jauh-lebih-enak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bersepakatlah-tape-singkong-itu-beda-dengan-peuyeum-dan-jauh-lebih-enak\/","title":{"rendered":"Bersepakatlah Tape Singkong Itu Beda dengan Peuyeum dan Jauh Lebih Enak"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Awalnya saya tidak begitu paham perbedaan peuyeum dan tape singkong, toh sama-sama makanan yang terbuat dari fermentasi singkong. Tapi, suatu hari yang terik, sebuah kejadian membuat saya sadar atas perbedaan itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hari itu matahari menyinari Bumi langsung tanpa ada awan yang menaunginya. Saya dapat melihat langit biru begitu luas ketika sedang membeli tape singkong keliling. Dengan tenggorokan yang mengering saya membayangkan betapa segarnya makan tape singkong yang kaya akan air. Tapi, justru tape singkong yang saya beli tidak mengandung air sama sekali, keset dengan taburan ragi di atasnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukan tape seperti ini yang saya inginkan ini mah. Saya kecewa, tapi tidak tahu harus kecewa kepada siapa. Tidak mungkin saya kecewa dengan Abang penjual tape, toh yang doi jual memang tape singkong. Apa mungkin saya kecewa karena berada di Jawa Barat? Sedangkan saya merindukan tape yang pernah saya makan di Jawa Tengah?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhirnya saya melakukan beberapa penelitian kecil tentang tape. Sejauh apa sih masyarakat salah menamai makanan yang satu ini. Sampai-sampai di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Wikipedia<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> tertulis \u201ctape singkong atau dalam bahasa Sunda disebut peuyeum\u201d. Padahal keduanya adalah makanan yang berbeda. Beda jauh malah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun sama-sama terbuat dari fermentasi singkong, ternyata ini adalah dua makanan yang tidak sama. Tentu ini sangat berkaitan erat dengan makanan daerah, yang pasti berbeda cara pembuatan dan penyebutan namanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebut saja tape singkong yang keset tanpa air ini bernama peuyeum, sebab banyak ditemukan di daerah Jawa Barat. Seperti namanya yang memang menggunakan bahasa Sunda, peyeum berarti proses pematangan dengan cara membubuhi ragi lalu ditutup sampai matang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lah sama dong ya dengan tape singkong? Tapi, penyajiannya berbeda. Yang satu disajikan keset dan yang satunya berair. Wah tidak bisa disamakan ini. Serius!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kayak tempe mendoan yang suka disama-samain dengan tempe tepung biasa. Iya, mendoan beda penyajiannya, tempe tepung menggorengnya lebih kering. Sama halnya dengan tape singkong dan peuyeum. Jelas dari segi rasa lebih enyoi tape singkong, jauh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tape singkong cenderung lebih manis, asem, empuk dan segar. Sangat cocok dimakan langsung di kondisi hari yang panas karena mengandung air yang melimpah. Biasanya, kudapan tersebut dipotong-potong dan dijual dengan membawa bakul tempat pematangannya sehingga apa yang diterima oleh pembeli masih fresh dari tempatnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Proses pengukusan singkongnya pun lebih lama karena membutuhkan tekstur yang lebih empuk. Setelah itu, yang sudah matang didinginkan dan ditaburi ragi tape. Lalu ditutup dengan daun pisang hingga dua sampai tiga hari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbeda dengan peuyeum yang cenderung keset dan disajikan utuh dengan menggantungnya setelah melalui proses pematangan. Proses pengukusannya pun cukup sampai layak dimakan, tidak terlalu empuk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai pencinta tape singkong, tentu saya cukup peka dalam menilai rasa. Tak berbeda dengan Emak saya yang juga mengatakan peuyeum tidak enak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTape sini nggak mashoook!\u201d Respons beliau ketika saya tawari tape yang saya beli.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi tolong, sudahi menyebut peuyeum dengan tape singkong. Selain itu tidak tepat, hal itu bisa memicu kekecewaan. Tiwas sudah kemecer, tapi yang diterima malah beda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama ini saya memendam perasaan kecewa sendirian, tapi semakin hari semakin tidak betah apalagi setiap hari pula tukang tape itu keliling lewat depan kontrakan saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begitu saya mendengar jinglenya, \u201cTape! Tape!\u201d Selalu saja saya teringat kekecewaan itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak tahu harus berbuat apa. Harapan saya ada tukang tape singkong yang membaca tulisan ini dan mau memperbaiki diri. Biar jelas lah! Mau jualan yang mana. Kalau memang mau jualan peuyeum ya tolong jinglenya diganti!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sebenarnya pernah klarifikasi ke Kang Tape tersebut, ya sekadar memastikan sejauh apa yang beliau tahu tentang produk yang dijualnya itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIni tape apa peuyeum, Kang?\u201d tanya saya tanpa basa-basi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSama saja atuh, tape ya peuyeum disebutnya di Jawa Barat. Tapi, memang sih kalau di Jawa Tengah sengaja dibikin lebih empuk dan berair. Di sini orang-orang pada suka sama yang keset-keset, euy! Lebih awet lagi!\u201d Terangnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang sih kalau jualan peuyeum lebih awet, kalau hari ini tidak habis masih bisa dijual keesokan harinya karena karakter peuyeum kering.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, setahu saya, semakin lama tape singkong disimpan di kulkas bukannya menjadi basi, tapi semakin matang, dan semakin nyos di mulut. Mungkin karena semakin tinggi kadar alkoholnya kali, ya?<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nissan-kicks-e-power-beneran-mobil-listrik-meski-sulit-dipahami-masyarakat\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Nissan Kicks e-Power Beneran Mobil Listrik meski Sulit Dipahami Masyarakat<\/a><\/strong><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nissan-kicks-e-power-beneran-mobil-listrik-meski-sulit-dipahami-masyarakat\/\">\u00a0<\/a><strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/erwin-setiawan\/\">Erwin Setiawan<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tolong, sudahi menyebut peuyeum dengan tape singkong. Selain itu tidak tepat, hal itu bisa memicu kekecewaan. Tape singkong jauh lebih enak.<\/p>\n","protected":false},"author":755,"featured_media":91342,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[9460,438],"class_list":["post-94393","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-jajan-tradisional","tag-kuliner"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/94393","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/755"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=94393"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/94393\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/91342"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=94393"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=94393"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=94393"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}