{"id":94274,"date":"2020-12-12T12:15:24","date_gmt":"2020-12-12T05:15:24","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=94274"},"modified":"2020-12-12T00:15:40","modified_gmt":"2020-12-11T17:15:40","slug":"jokowi-layak-dinobatkan-sebagai-kepala-keluarga-terbaik-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jokowi-layak-dinobatkan-sebagai-kepala-keluarga-terbaik-di-indonesia\/","title":{"rendered":"Jokowi Layak Dinobatkan sebagai Kepala Keluarga Terbaik di Indonesia"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tengah carut-marutnya politik di Indonesia, kabar gembira berhembus dari keluarga besar Presiden Jokowi. Anak sulungnya Gibran, dan menantunya Bobby dinyatakan menang dalam kejuaran Pilkada di daerah tandingnya masing-masing. Gibran di Solo, Bobby di Medan lewat hasil hitung cepat (quick count). Tentu prestasi baru, rekor, ini akan dicatat dalam sejarah politik kontemporer Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jokowi bisa menjadi cerminan atau suri teladan bagi generasi selanjutnya, bagaimana menjadi kepala keluarga yang berhasil. Apalagi di Indonesia yang mayoritasnya menganut konsep purusa \u201claki-laki sebagai kepala keluarga\u201d harusnya laki-laki muda sebagai bakal calon kepala keluarga berlomba-lomba menjadikan Jokowi sebagai tutorial guna menjadi kepala keluarga yang baik. Agar disiplinnya mampu kita serap sebagai teori dasar pengembangan ekonomi keluarga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kepintaran dan kejeniusan Jokowi memang tidak terbantahkan lagi, terobosannya di masa sedang menjabat sebagai presiden dalam \u201cmensubsidi\u201d keluarganya tidak pernah dipikirkan oleh Presiden-presiden sebelumnya. Soekarno misalnya, belio gagal dalam hal ini. Sebab, tak satupun putra-putrinya yang berhasil menduduki jabatan publik selama dia memimpin Indonesia. Ibu Megawati Soekarnoputri harus menjemput bola dan menggolkan sendiri waktu menjadi Wapres (1999) dan Presiden (2001-2004). Soeharto juga, padahal dia berkuasa selama 32 tahun. Namun, baru berhasil menempatkan putrinya Siti Hardiyanti Roekmana sebagai Mensos di penghujung masa jabatannya. Itupun hanya bertahan selama 2,5 bulan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apalagi BJ Habibie dan Abdurrahman Wahid, dengan waktu berkuasa paling singkat. Tentu sama sekali tidak berhasil meninggalkan warisan berupa jabatan untuk anak-anaknya. Megawati juga demikian, kendati pengalaman susah-payahnya karena tidak diwariskan jabatan publik oleh Sang Ayah saat memimpin negeri, tak lantas membuat Mega menyiapkan jabatan publik untuk anak-anaknya. Mbak Puan terjun politik setelah Megawati tidak lagi menjabat sebagai presiden.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Susilo Bambang Yudhoyono sebenarnya berhasil menempatkan putra keduanya Edhie Baskoro sebagai anggota DPR RI di periode kedua. Tapi, kan cuma Edhie yang berhasil, nggak kayak Jokowi yang berhasil nempatin anak dan mantunya sekaligus di posisi penting. A+ untuk kepiawaian Jokowi dalam memanfaatkan momentum, tugasnya sebagai presiden Indonesia tidak membuatnya pikun akan kewajibannya sebagai kepala keluarga. Ntappp!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai laki-laki idaman, Jokowi telah mampu menerobos \u201clampu merah\u201d, yang dulunya tidak ada yang mau atau mungkin tidak berani, yakni lampu dinasti politik. Buruk bagi demokrasi, baik untuk familykrasi. Keberanian blio untuk menerobos lampu merah dapat dilihat sebagai usaha mulia sang bapak demi keluarganya tercinta. Lewat keberaniannya, anak dan menantu dibukakan jalan menuju kesuksesan. Kita tentu iri dan berharap punya ayah seperti blio, yang mampu menerangkan jalan atau membukakan pintu rezeki kepada anggota keluarganya. Dengan mengingat, bahwa kebayakan dari kita harus minta bantuan paman, kakek, dan kerabat lain agar dapat pekerjaan layak. Gibran langsung dari bapak, enaknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tahu, Jokowi sebagai kepala keluarga pasti berpikir jauh ke depan. Dengan kalkulasi bahwa Gibran adalah kepala keluarga juga, yang punya tanggung jawab memberi nafkah pada keluarganya. Dan dengan terpilihnya sebagai Wali Kota Solo, Gibran sudah pasti sangat mampu menunaikan nafkah dengan mudah. Yang saya kagumi, belio juga tidak melupakan menantunya. Ladang nafkah juga diwariskan untuk Bobby Nasution, ini menandakan naluri seorang ayah yang tidak ingin melepas tanggung jawabnya kepada sang putri, walau ia sudah dibawah tanggung jawab Bobby. Tentu lewat anugrah yang diberikan kepada Bobby, otomatis anak putrinya juga dapat mencicipi harum-manisnya jabatan publik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang-orang boleh saja, tidak mengakui kalau Jokowi punya peranan dalam kemenangan Gibran dan Bobby. Dengan argumen-argumen pertanda iri hati: \u201cItukan kompetisi, Jokowi tidak bisa apa-apa.\u201d \u201cYa, rakyat yang menentukan, bukan Jokowi.\u201d Iya mereka yang <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">menutupi kesalahan<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> tidak suka Jokowi, sering sekali malu mengakui Jokowi sebagai dalang suksesnya Gibran dan Bobby. Pendapat saya sih, orang-orang seperti itu tidak tahu artinya ayah dalam keluarga di Indonesia. Ya, orang itu mungkin tidak mengerti sikap primordial bangsa ini dalam menunjuk laki-laki sebagai kepala keluarga, dengan surplus tanggung jawab.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal peran Jokowi dalam kemenangan Gibran pastilah ada, masak tega menganggap seorang ayah tidak punya peran apa-apa, ketika anaknya telah sukses menjadi sesuatu. Tega amat!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nih, saya sebutkan satu peranan kecil saja, biar clear. Jokowi, kita tahu punya strategi jitu dalam pemilu. Terbukti oleh tidak pernah kalahnya belio dalam kompetisi, jadi Gibran dan Bobby menang pasti menggunakan strategi Jokowi. Tapi, jangan tanya, main curang nggak mereka karena tidak ada yang tahu rupa dari strategi ini, Prabowo saja gagal paham dalam pemilu kemarin. Ia strategi Jokowi sangat rahasia, upama resep The Krusty Krab, walau Prabowo meniru Plankton untuk menyusup ke dalam restoran Tuan Krabs pun, tetap akan menemui kegagalan. Begitulah kira-kira kerasahasian strategi itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi oleh karena peranan penting Jokowi, dalam kemenangan Gibran dan Bobby, layak-kiranya menobatkan Jokowi sebagai kepala keluarga terbaik di Indonesia. Dan ini juga bisa menjadi jawaban atas pertanyaan kita selama ini, Jokowi ingin dikenang sebagai apa setelah tidak lagi menjabat? Dengan tragedi ini, akhirnya kita punya jawabannya. Pak Jokowi akan dikenang sebagai Presiden Indonesia yang malah menjadi sukses sebagai kepala keluarga. Sungguh pencapaian yang luar biasa, selamat untuk Jokowi.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/yms\/ulasan\/pojokan\/pancasila-dibumikan-lewat-instagram-dan-netflix-yang-benar-saja-pak-jokowi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Pancasila Dibumikan Lewat Instagram dan Netflix? Yang Benar Saja Pak Jokowi<\/a>\u00a0dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/muhammad-sabri\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Muhammad Sabri<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh karena peranan penting dalam kemenangan Gibran dan Bobby, layak kiranya menobatkan Jokowi sebagai kepala keluarga terbaik di Indonesia.<\/p>\n","protected":false},"author":631,"featured_media":85955,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[9782,6471,2282,559,5324],"class_list":["post-94274","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-bobby","tag-dinasti-politik","tag-gibran","tag-jokowi","tag-pilkada"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/94274","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/631"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=94274"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/94274\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/85955"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=94274"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=94274"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=94274"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}