{"id":94186,"date":"2020-12-13T06:33:17","date_gmt":"2020-12-12T23:33:17","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=94186"},"modified":"2020-12-11T22:25:08","modified_gmt":"2020-12-11T15:25:08","slug":"film-film-wes-anderson-adalah-pemuas-estetika-visual-yang-seksi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/film-film-wes-anderson-adalah-pemuas-estetika-visual-yang-seksi\/","title":{"rendered":"Film-film Wes Anderson Adalah Pemuas Estetika Visual yang Seksi"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perjumpaan pertama saya dengan karya-karya Wes Anderson diawali oleh film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Grand Budapest Hotel<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (2014). Sebelumnya, saya nggak pernah tau sama sekali siapa itu Wes Anderson. Alasan utama saya menonton film itu karena di dalam daftar cast-nya tertulis nama Saoirse Ronan, aktris yang selalu saya puja dan puji setulus hati dalam dunia imaji saya. Namun, di perjumpaan pertama itu saya langsung dibuat jatuh cinta yang sejatuh-jatuhnya pada hal lain di luar Saoirse Ronan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya menulis ini karena saya yakin bahwa setiap orang yang pernah menonton film-film Wes Anderson akan sepakat jika karakter yang paling menonjol dari karya-karya sutradara kelahiran Texas itu adalah sinematografinya. Sekali saja menonton <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Grand Budapest Hotel<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, saya sudah langsung ngeuh dengan sentuhan khasnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berangkat dari film yang berhasil menggondol empat Piala Oscar di pada 2015 itu, saya mulai menelusuri karya-karya Anderson lainnya: dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Moonrise Kingdom<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (2012) hingga film pertamanya sebagai sutradara, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Bottle Rocket<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (1996). Secara keseluruhan, dapat disimpulkan jika Anderson memang konsisten dengan gaya yang serupa di setiap filmnya. Hal itu dapat ditemukan dari banyaknya kesamaan pada seluruh aspek visual.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Framing yang simetris dengan komposisi flat, selalu mendapat porsi paling banyak dalam setiap filmnya. Penempatan objek yang selalu di tengah dan sejajar dengan kamera membuat setiap penonton sangat mudah mengidentifikasi karya-karya Wes Anderson. Selain itu, cameo dan set design yang tersaji dalam misce-en-scene selalu tertata rapi dan sangat presisi. Saking rapinya, saya sampe curiga kalau Wes Anderson itu pengidap OCD<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anderson juga sering menggunakan shot over head. Hal ini dimaksudkan agar penonton tetap bisa fokus terhadap objek utama tanpa harus mengorbankan set design yang telah ditata serapi mungkin pastinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, palet warna yang dipake Anderson juga nggak kalah seksinya. Sutradara yang tinggal di Prancis ini kelihatannya terobsesi dengan warna kuning dan merah. Hal itu tampak jelas di setiap film-filmnya yang selalu didominasi oleh dua warna tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua warna itu sering kali dipadukan dengan warna biru serta warna-warna turunannya. Warna-warna tersebut ditampilkan dengan tingkat kecerahan dan saturasi yang tinggi, sehingga kesan bold yang dibangun dapat tersampaikan dengan sangat baik. Anderson selalu konsisten dengan warna-warna yang cerah nan ceria, sekalipun dalam adegan yang sedih atau mencekam. Maka, tak heran banyak adegan-adegan emosional atau mencekam dikemas dengan gaya yang konyol. Hebatnya, konsep yang paradoks itu sama sekali nggak bikin kabur pesan yang ingin disampaikan!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, yang paling unik adalah penggunaan font Futura yang nyaris di seluruh filmnya. Baik itu di opening scene, heading text, hingga tulisan-tulisan yang terdapat dalam setting latar. Font yang tergabung dalam spesies Sans-Serif itu menambah kesan bold yang telah dibangun oleh komposisi warna.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, seksinya sinematografi film-film Anderson nggak lepas dari kinerja Director of Photography atau sinematografer andalannya, Robert Yeoman. Sejak pertama kali bekerja sama untuk film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Royal Tenenbaums<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang rilis pada 2001, mereka secara bersama telah membuat empat film lainnya, yakni <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Hotel Chavalier<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (2007), <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Moonrise Kingdom<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (2012), <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Grand Hotel Budapest<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (2014), hingga <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The French Dispatch<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang baru akan tayang di awal 2021 mendatang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain seksi, film-film Wes Anderson itu ibarat kalimat \u201cmencolok tapi enak\u201d. Gaya visual yang ditawarkan Anderson emang nyentrik sekali. Penonton yang awam seperti saya pun dengan mudahnya mengidentifikasi karya-karyanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun kapasitas saya nggak cukup mumpuni buat menilai suatu film, tapi saya nggak pernah punya keraguan buat bilang kalau film-film Wes Anderson adalah film dengan tampilan visual paling seksi yang pernah saya temukan. Ke-mencolok-an-nya itu selalu berhasil memuaskan birahi estetika saya. Presisi dan keteraturan yang dibuat sedemikian rupa membuat saya merasa enggan untuk berkedip barang sedetik. Apalagi, saya juga memiliki kecenderungan akan keteraturan dan kerapian. Makanya, bagi Anda-anda yang perfeksionis, atau dianggap sebagai manusia perfeksionis, atau pengidap OCD, menonton film-film Wes Anderson adalah jalan ninja yang tepat untuk memuaskan hasrat-hasrat estetika visual Anda.<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/serigala-terakhir-the-series-film-aksi-yang-malah-lebih-mirip-sinetron\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><strong>Serigala Terakhir The Series: Film Aksi yang Malah Lebih Mirip Sinetron!<\/strong><\/a> <b><\/b><strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/nanda-naradhipa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Nanda Naradhipa<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penempatan objek yang selalu di tengah dan sejajar dengan kamera membuat setiap penonton sangat mudah mengidentifikasi karya-karya Wes Anderson.<\/p>\n","protected":false},"author":1075,"featured_media":94463,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[28,1351,9787],"class_list":["post-94186","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-film","tag-ocd","tag-wes-anderson"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/94186","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1075"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=94186"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/94186\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/94463"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=94186"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=94186"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=94186"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}