{"id":9410,"date":"2019-08-09T08:00:00","date_gmt":"2019-08-09T01:00:00","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=9410"},"modified":"2022-02-09T14:04:01","modified_gmt":"2022-02-09T07:04:01","slug":"tentang-maaf-sekadar-mengingatkan-yang-lagi-tren-di-makassar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tentang-maaf-sekadar-mengingatkan-yang-lagi-tren-di-makassar\/","title":{"rendered":"Tentang \u201cMaaf Sekadar Mengingatkan\u201d yang Lagi Tren di Makassar"},"content":{"rendered":"<p>Kota Makassar dihebohkan oleh laku dua mayoritas di Indonesia, selama dua pekan terakhir. Mayoritas pertama adalah umat pecandu olahraga yang melibatkan pendukung sepak bola fanatik PSM Makassar. Mayoritas kedua merupakan umat penganut agama paling banyak di negeri +62.<\/p>\n<p>Kehebohan mayoritas keolahragaan telah usai, pasca PSM Makassar berpesta di Mattoangin pada hari Selasa kemarin. Duduk perkaranya tidak layak untuk diperbincangkan lagi. Sementara kehebohan dari <a href=\"https:\/\/tirto.id\/mengapa-orang-cenderung-mengikuti-pendapat-mayoritas-cnq1\">mayoritas<\/a> keagamaan perlu sedikit ditelisik, sebab bikin pro dan kontra di kalangan masyarakat. Bahkan, sudah jadi isu publik dan residunya menyebar ke tingkat nasional.<\/p>\n<p>Kegaduhan ini dimulai akhir bulan Juli kemarin. Akun Instagram seorang <a href=\"https:\/\/mojok.co\/snd\/esai\/bukan-cuma-tengku-zulkarnain-saja-yang-suka-rendahkan-profesi-pembantu\/\">ustaz kondang<\/a> yang kebetulan lucu mengunggah konten yang tidak ada humornya sama sekali. Konten itu berupa video penutupan restoran di PiPo Mall Makassar yang menjual masakan olahan babi. Video ini pun beredar dan viral di berbagai <em>platform<\/em> media sosial.<\/p>\n<p>Dalam video singkat tersebut, ustaz Dasad Latif mengungkap alasan penutupan restoran. Menurut blio dan kawan-kawan dari Aliansi Jaga Moral Makassar, restoran itu secara terang-terangan menjual daging babi di area publik dan bau masakan mengganggu pengunjung beragama mayoritas di sekitar restoran. Demi meraih simpati publik, aksi ini katanya mewakili suara umat Islam, berdasarkan perintah syariat, dan berbasis budaya <em>sipakainge<\/em> masyarakat Bugis-Makassar.<\/p>\n<p><em>Tapi, apa benar begitu pak ustaz?<\/em><\/p>\n<p>Pro dan kontra yang ditimbulkan dari aksi ini, paling tidak sudah membantah kata \u201cmewakili\u201d umat Islam. Banyak loh umat Islam yang berkomentar di media sosial, tentang tidak arifnya perilaku main asal seruduk. Ruang publik itu milik umat agama manapun. Namanya juga publik, otomatis bisa diisi oleh semua orang dengan berbagai perbedaan pandangan. Apalagi hanya perihal makanan. Hahal dan non-halal sudah ada aturannya dalam ajaran agama masing-masing bukan?<\/p>\n<p>Ini pun berkaitan dengan <em>term<\/em> <em>sipakainge<\/em> tadi. Kalau dialih Bahasa Indonesia-kan, artinya saling mengingatkan. Sejauh yang saya pahami, makna <em>sipakainge<\/em> dalam budaya Bugis-Makassar adalah sebelum mengingatkan orang lain, sebaiknya lebih dulu mengingatkan diri sendiri. <em>Sipakainge<\/em> juga berarti, manakala ada perbedaan pandangan, selayaknya diselesaikan dengan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menanggapi-delapan-poin-hasil-ijtima-ulama-iv-yang-gitu-gitu-aja\/\">cara musyawarah<\/a> dan demokratis. Pun, apakah perilaku asal seruduk akan membawa <em>maslahat<\/em> atau hanya menimbulkan <em>mudarat<\/em>? Seharusnya itu yang lebih dulu ustaz Dasad Latif dan kawan-kawan pertimbangkan. Maaf lho ya, Taz\u2014bukan bermaksud menggurui, sekadar mengingatkan. <em>hihi<\/em><\/p>\n<p>Saya juga ingin mengutip perkataan Habib &#8216;YouTuber&#8217; Husein Ja&#8217;far, <a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=dHj1mHUEbqk\">saat <em>ngevlog <\/em>bareng Cania<\/a> di Geolive. \u201cIslam datang menyetarakan dan merangkul berbagai identitas. Bukan malah hadir sebagai identitas baru yang mensegregasi identitas lain.\u201d Penutupan restoran yang menjual olahan daging babi di ruang publik adalah bentuk segregasi dan peminggiran identitas umat beragama yang lain. Sungguh perilaku yang menggoyang sendi-sendi kebangsaan dan kebhinekaan negeri ini. <em>MasyaAllah<\/em><\/p>\n<p>Belum kelar urusan babi panggang\u2014Sabtu, 3 Agustus 2019, buku bertema \u201ckiri\u201d jadi sasaran. Sekelompok orang yang menamai dirinya <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bahkan-karl-marx-yang-katanya-kiri-akan-tertawa-terpingkal-melihat-karya-karyanya-disita\/\">Brigade Muslim Indonesia (BMI) Sulawesi Selatan merazia buku<\/a> di ritel Gramedia, Trans Studio Mall Makassar. Bermodal sinopsis dan sampul bergambar Karl Marx, kelompok ini mengganggap buku-buku tersebut mengandung paham Komunisme yang dilarang oleh pemerintah. Lagi-lagi acuannya ya Tap MPRS yang isinya agak ngeri itu.<\/p>\n<p>Selain mengatasnamakan agama mayoritas, kelompok ini mengaku mewakili pemerintah. Padahal aksi mereka mencederai semangat literasi yang lagi mekar-mekarnya di Indonesia, terkhusus Sulawesi Selatan. Beberapa tahun belakangan, komunitas literasi di provinsi ini muncul bak cendawan di musim hujan. Festival penulis internasional pun tiap tahun berlangsung di Makassar.\u00a0Nah, karena Brigade Muslim Indonesia berniat mengingatkan masyarakat, saya juga boleh mengingatkan kalian dong?<\/p>\n<p>Makassar pernah memiliki seorang cendekiawan masyhur pada masanya. Seorang yang sangat cinta dengan buku dan ilmu pengetahuan. Namanya Karaeng Pattingaloang, putra Raja Tallo ke-6, yang hidup di abad ke-17 masehi. Karaeng Pattingaloang ini beragama islam loh dan merupakan Mangkubumi federasi Kerajaan Gowa-Tallo. Beliau menguasai Bahasa Portugis, Spanyol, dan Latin. Karaeng Pattingalloang memiliki ribuan koleksi buku, atlas Eropa, sebuah bola dunia, dan teropong yang dipesan langsung dari Eropa.<\/p>\n<p>Mau fakta lain lagi? Di Leiden Belanda sana, tersimpan karya kesusastraan terpanjang di dunia, yang namanya terkenal seantero bumi, La Galigo. Karya ini merupakan manuskrip kuno yang memuat asal usul kehidupan di awal peradaban masyarakat Sulawesi Selatan. Disalin ulang pada abad ke-19 oleh intelektual wanita <em>cum<\/em> bangsawan Bugis bernama Colliq Pujie. Belum lagi, kitab lontarak lain yang tersimpan rapi di perpustakaan daerah dan tersebar di lemari-lemari keturunan bangsawan Bugis-Makassar.<\/p>\n<p>Dua fakta itu saja, jelas menjadi dasar kenapa aksi anti-intelektualisme yang diperagakan sekelompok umat muslim sangat bertentangan dengan sejarah panjang ilmu pengetahuan komunitas masyarakat Makassar. Dalih <em>sipakainge<\/em> yang mereka kumandangkan, sangat tidak relevan dengan kenyataan yang terpampang.<\/p>\n<p>Sebelum mengakhiri sesi saling mengingatkan ini, saya punya satu cerita tentang bagaimana <em>term sipakainge<\/em> dengan model dialogis nan demokratis benar-benar dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat Bugis-Makassar.<\/p>\n<p>Alkisah, Dato Di Tiro\u2014satu dari tiga datuk yang mendakwahkan agama Islam di Sulawesi Selatan pada abad ke-16\u2014datang ke wilayah Bulukumba. Beliau bertemu dengan pemimpin masyarakat adat Kajang yang bergelar Ammatoa dengan maksud meminta izin untuk mendakwahkan Islam. Ammatoa tidak langusng menolak, melainkan mengajak Dato Di Tiro beradu ilmu spiritual. Bila Ammatoa menang, Dato Di Tiro tidak boleh mendakwahkan Islam di wilayah itu\u2014begitupun sebaliknya.<\/p>\n<p>Ammatoa lebih dulu menunjukkan ilmunya. Batang pohon kelapa ditepuk pelan. Buah-buah berguguran seperti hujan. Kemudian giliran Dato Di Tiro. Beliau hanya mengarahkan telunjuknya ke bawah, pohon kelapa menunduk di hadapannya. Dato Di Tiro pun segera memetik buah-buah kelapa tersebut. Karena tidak bisa menetukan siapa pemenangnya, Ammatoa dan Dato Di Tiro saling bersepakat, bahwa Islam boleh didakwahkan dengan catatan antara Islam dan keyakinan masyarakat Adat Ammatoa, harus\u00a0 saling menghargai perbedaan pandangan masing-masing.<\/p>\n<p>Sampai hari ini, Islam pun berkembang dan jadi agama mayoritas di Sulawesi Selatan. Celakanya, segelintir golongan yang mengaku mewakili umat malah bikin gaduh dan doyan saling mengingatkan dengan cara asal seruduk, tanpa dialog sebelumnya. Duh, Gusti! Semoga tidak terulang kembali.<\/p>\n<p>Terakhir, sekali lagi saya katakan bahwa saya sedang tidak menggurui, hanya sekadar mengingatkan! Kan kebetulan lagi tren. <em>hihi<\/em>\u00a0(*)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) yang dibikin untuk mewadahi sobat julid dan (((insan kreatif))) untuk menulis tentang apa pun. Jadi, kalau kamu punya ide yang mengendap di kepala, cerita unik yang ingin disampaikan kepada publik, nyinyiran yang menuntut untuk dighibahkan bersama khalayak, segera kirim naskah tulisanmu pakai cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Makna sipakainge dalam budaya Bugis-Makassar adalah sebelum mengingatkan orang lain, sebaiknya lebih dulu mengingatkan diri sendiri.<\/p>\n","protected":false},"author":41,"featured_media":9435,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13303],"tags":[1510,2380,2381,2128,1535,2382],"class_list":["post-9410","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-buku","tag-kasus-viral","tag-makassar","tag-psm-makassar","tag-razia-buku","tag-sepak-bola-indonesia","tag-warung-babi"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9410","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/41"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9410"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9410\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/9435"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9410"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9410"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9410"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}