{"id":93869,"date":"2020-12-12T06:04:16","date_gmt":"2020-12-11T23:04:16","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=93869"},"modified":"2020-12-10T19:37:43","modified_gmt":"2020-12-10T12:37:43","slug":"saya-pernah-jadi-pemberi-cap-ahli-neraka-dan-betapa-bodohnya-saya-kala-itu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/saya-pernah-jadi-pemberi-cap-ahli-neraka-dan-betapa-bodohnya-saya-kala-itu\/","title":{"rendered":"Saya Pernah Jadi Pemberi Cap Ahli Neraka dan Betapa Bodohnya Saya Kala Itu"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Waktu SD, pengetahuan agama Islam saya bisa dibilang lebih baik dari teman-teman sebaya saya. Di madrasah sore, teman-teman sekelas saya semuanya kakak kelas saya di SD. Nilai pelajaran agama saya di Ujian Akhir Sekolah tertinggi se-Kecamatan. Saya mewakili sekolah untuk lomba PAI (Pengetahuan Agama Islam) dan jadi juara satu di tingkat Kabupaten. Dan ini ada hubungannya dengan cerita saya sebagai pemberi cap ahli neraka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu, kalaupun akhirnya saya ranking satu di kelas 6 SD setelah sebelumnya selalu ranking 2, menurut bapak saya, itu bukan karena nilai saya terbaik, tapi karena sekolah lebih senang pada saya yang untuk pertama kali membawa namanya berkibar di perlombaan tingkat Provinsi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, tidak ada lomba dengan teknologi penilaian secanggih apa pun yang bisa mengukur kadar keislaman seseorang. Mungkin saat itu pengetahuan keislaman saya memang lebih baik, tapi bisa jadi kadar keislaman saya tak lebih baik dari teman saya kebanyakan. Terlepas fakta bahwa saat itu kami kebanyakan belum balig, namun ada kisah dalam Islam yang membuat saya begitu tersindir. Berkaitan dengan masa kecil saya yang pernah hobi \u201cmemberi cap\u201d ahli neraka pada seseorang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kisah ini sangat masyhur dalam literatur keilmuan Islam yang dimuat dalam<\/span><a href=\"https:\/\/al-maktaba.org\/book\/33760\/7894#p1\"> <span style=\"font-weight: 400;\">kitab<\/span><\/a> <i><span style=\"font-weight: 400;\">Shohih Muslim<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan<\/span><a href=\"https:\/\/al-maktaba.org\/book\/9472\/1096\"> <i><span style=\"font-weight: 400;\">Ihya&#8217; Ulumuddin<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, dan pernah diceritakan oleh Gus Baha&#8217; dalam<\/span><a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=94SZehu3MGk\"> <span style=\"font-weight: 400;\">ngajinya<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Suatu hari, ada seseorang dari Bani Israil yang menginjak kepala seorang abid (orang yang beribadah) yang sedang sujud. Sontak, abid tersebut pun murka. Ia bersumpah demi Allah dan mengatakan orang yang menginjak kepalanya tidak diampuni Allah. Katanya, &#8220;Wa Allahi, la yaghfiru Allah li fulan.&#8221; (Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni fulan). Allah kemudian berfirman, \u201cSiapa orang yang bersumpah atas nama-Ku bahwa aku tidak mengampuni fulan? Sesungguhnya Aku sungguh telah mengampuni fulan, dan Aku menghapus pahala amalmu.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dijelaskan oleh Gus Baha\u2019, selain berstatus \u201cYang menyiksa\u201d, Allah juga berstatus \u201cYang mengampuni\u201d. Tidak fair, bila si abid tadi dengan bersumpah atas nama Allah menggugurkan Allah sebagai Dzat Yang maha pengampun dan dengan yakin mengatakan Allah tidak mengampuni fulan. Bagaimanapun, potensi seorang fasik berbuat dosa untuk taubat dan diberi ampunan oleh Allah itu tetap ada. Kita tidak bisa memutus rahmat (kasih sayang) Allah dari siapa pun, sefasik apa pun orang itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kisah ini juga mengajarkan kita untuk tidak mengagungkan diri sendiri dan berlaku sombong pada siapa pun, sekalipun itu orang yang menyakiti kita. Amal ibadah kita tidak bisa dijadikan legitimasi bagi kita untuk melaknat orang. Jangan sampai hanya karena merasa punya banyak amal ibadah yang belum ada kepastian diterima, kita bertindak sebagaimana kisah abid di atas, yang melibatkan Tuhan dalam kemarahanya, sampai-sampai mereduksi status Allah sebagai Dzat Yang maha mengampuni.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sendiri sangat tersindir dengan kisah ini karena punya pengalaman yang mirip saat saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Waktu itu, sebagaimana lazimnya anak-anak, kawan-kawan mengisi jam istirahat sekolah dengan bermain-main berbagai macam permainan, seperti bermain sepakbola, delikan, betengan, bekelan, dan sebagainya. Tapi, ada juga yang mengisinya dengan menggoda teman lainya. Ada yang menyembunyikan topi upacara, menggoda kawan perempuan, menyembunyikan buku, dan sebagainya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Suatu hari, saya diganggu oleh adik kelas saya. Saya lupa alasan kenapa ia mengganggu saya, pastinya masalah yang tidak besar-besar amat sewajarnya anak-anak dan jelas bukan masalah ibadah seperti kisah abid di atas. Yang pasti, waktu itu ia membuat saya begitu jengkel dan marah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun ia adik kelas, ia pernah tinggal kelas, jadi usia kami seumuran dan badanya lebih besar. Didorong oleh kemarahan ala anak-anak yang membuncah, saya memberanikan diri mendatanginya di kelas. Saya tidak mengajaknya bertengkar atau mengumpatnya waktu itu, tapi apa yang saya katakan padanya mungkin lebih sembrono dan menyakitkan, \u201cAkan masuk neraka kamu!\u201d Ia hanya tertawa setelah saya menyebutnya ahli neraka. Entah antara tidak mengerti atau sudah paham dengan tidak berartinya omongan saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat mengatakan itu, tentu saya tidak berpikir panjang. Saya sudah terlanjur terbawa emosi layaknya anak-anak yang masih labil. Pengetahuan agama saya yang tak seberapa juga tidak saya jadikan pertimbangan untuk menuduh seseorang jadi ahli neraka secara ngawur.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itu terjadi memang murni karena emosi atas penghinaan terhadap saya pribadi. Ketika saya merasa punya pengetahuan agama yang lebih baik daripada dia dan mungkin waktu itu saya sadar akan kalah dalam pertengkaran fisik, saya mengucapkan keputusan yang sama sekali bukan wilayah kekuasaan saya, yaitu memberi cap ahli neraka pada seseorang. Sesuatu yang dalam perspektif teologi Islam, sangat fatal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah SD, saya melanjutkan pendidikan di pesantren. Semakin ngaji dengan banyak kiai dan kitab kuning, ditambah penjelasan dari Gus Baha\u2019, saya semakin tahu betapa fatalnya saya mengatakan hal itu. Peristiwa yang sudah sangat lama, tapi terus saya ingat sampai sekarang, dan selalu membuat saya tersindir saat kembali mendengar kisah ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika melihat ada tokoh agama yang mencatut nama Tuhan dan agamanya untuk kepentingan-kepentingan yang bersifat sementara, seperti kepentingan politik, kepentingan kelompoknya, dan sebagainya, saya juga teringat dengan peristiwa itu, dan membatin, \u201cKoyok aku ndisek\u201d. Mengamalkan dawuh dan guyonan Gus Baha\u2019, \u201cKalau ada yang salah (karena belum tahu ngaji ini) jangan sok gaya membenarkan. Sama-sama terlambatnya kok gaya. \u2018Kayak aku dulu!\u2019 gitu aja. Hahaha\u2026.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pengalaman sebagai \u201cpemberi cap\u201d ahli neraka bagi saya tentu bukan pengalaman yang menyenangkan. Malah sering kali masih saja menyisakan rasa bersalah pada diri saya. Apalagi, pengalaman seperti ini tidak bisa dimasukkan dalam CV untuk melamar pekerjaan atau beasiswa. Namun, selayaknya penyesalan yang lain, pengalaman merupakan guru yang baik. Dengannya, saya bisa terus introspeksi untuk tidak mudah menghakimi orang lain sebagai ahli neraka, lebih menggunakan ilmu dalam bertindak daripada menggunakan emosi, dan tidak mudah mencatut nama Tuhan untuk urusan yang sebenarnya personal.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-kenapa-kita-suka-nggak-puas-sama-film-adaptasi-novel-berdasarkan-teori-sosiologi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Alasan Kenapa Kita Suka Nggak Puas Sama Film Adaptasi Novel Berdasarkan Teori Sosiologi<\/a>\u00a0dan tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/fais-n-nuzula\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">FN Nuzula<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pengalaman sebagai pemberi ca\u201d ahli neraka bagi saya tentu tidak menyenangkan. Malah sering menyisakan rasa bersalah pada diri saya.<\/p>\n","protected":false},"author":290,"featured_media":24198,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[78,225],"class_list":["post-93869","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-agama","tag-gus-baha"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/93869","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/290"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=93869"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/93869\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/24198"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=93869"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=93869"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=93869"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}