{"id":93652,"date":"2020-12-11T09:17:40","date_gmt":"2020-12-11T02:17:40","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=93652"},"modified":"2020-12-10T18:15:59","modified_gmt":"2020-12-10T11:15:59","slug":"panduan-dasar-bahasa-jawa-yang-solo-banget","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/panduan-dasar-bahasa-jawa-yang-solo-banget\/","title":{"rendered":"Panduan Dasar Bahasa Jawa yang Solo Banget"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Transisi malam menuju pagi, saat langit lumayan mendung di kota Solo, salah seorang teman yang kebetulan baru merantau dari luar pulau dan baru saya kenal meminta evaluasi. Ya, dia seorang pemanggung komedi tunggal, yang di kota asalnya sudah cukup dikenal, namun pertunjukan di kota yang baru baginya dirasa kurang memuaskan. Kurang mashok, Jhonnn. Singkat saja, dengan pengamatan ngawur, saya katakan, sewajarnya fase adaptasi memang begitu. Dan secara spesifik, saya katakan masalah utamanya mungkin soal kultur, terutama bahasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski ngawur, nyatanya jawaban saya serupa dengan jawaban kawan lain. Saya mencontohkan salah satu pemanggung yang juga seorang perantau luar pulau. Menurut saya, salah satu faktor yang membuatnya kelihatan lebih mashok terutama soal interaksi dengan penonton, selain lumayan cakap berbahasa Jawa yang ia kawinkan dengan logat asalnya, poin plusnya ia juga memahami diksi-diksi yang saya katakan \u201cnyolo\u201d banget. Tanpa keraguan, sebagai orang yang lahir dan besar di kabupaten yang secara garis besar menggunakan pakem Surakartanan, ditambah tiga tahun lebih ngekos di kota Solo. Valid, Ndeee!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNyolo banget\u201d, lalu ia bertanya balik, \u201cSolo banget tuh kayak gini? \u2018ora to, iyo to\u2019.\u201d Hmmm. Saya katakan saja, itu baru Jawa secara general layaknya artis di tv macak njawani, belum \u201cnyolo\u201d banget. Nyolo banget, gaya bahasa yang khas anak-anak Solo seperti berikut ini. Gaya bahasa yang sejatinya beberapa juga memiliki kemiripan dengan daerah lain, utamanya Jogja dan Semarang. Namun, tetap memiliki ciri khasnya sendiri, layaknya \u201crakalap\u201d yang tidak ditemukan di pergaulan Solo.<\/span><\/p>\n<h4><b>Imbuhan<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Orang Solo sering banget menggunakan imbuhan \u201cik\u201d dan \u201cog\u201d sebagai penekanan di akhir kalimat. \u201cIyo ik, ora og!\u201d. \u201cIk\u201d dan \u201cog\u201d sebenarnya mirip dengan \u201ckok\u201d di Bahasa Indonesia sebagai penekanan. Imbuhan yang umum juga dipakai di daerah lain. Untuk menambah kadar ke-Solo-an, kalian bisa menggunakan \u201cno\u201d. \u201cNo\u201d di sini lebih mirip seperti \u201cdong\u201d jika di bahasa Indonesia. \u201cOke, no! Siap, no!\u201d<\/span><\/p>\n<h4><b>Menyederhanakan kata<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Istilah seperti \u201cSar Gede\u201d atau \u201cTosuro\u201d adalah contoh penyederhanaan dari \u201cPasar Gede\u201d dan \u201cKartasura\u201d. Orang Solo memang kerap menyederhanakan kata, bukan hanya nama tempat yang terkesan terkonsep, untuk bahasa sehari-hari pun begitu, entah disadari atau tidak. Seperti kata \u201cmalah\u201d menjadi \u201cmah\u201d, \u201cwegah\u201d menjadi \u201cgah\u201d, atau \u201cawak e dewe\u201d sekilas menjadi \u201cadewe.\u201d Tapi, nggak semua lho, ya!<\/span><\/p>\n<h4><b>Misuh<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cara mudah berkenalan dengan bahasa adalah dengan misuhnya. Walau \u201casu\u201d dan \u201cbajingan\u201d menempati strata tertinggi misuh di Solo, sejatinya dua kata ini jarang terdengar di kota Solo, umpatan ini dianggap suci, hanya dipakai kalau beneran muntab atau dengan kawan akrab saja. Untuk keseharian, orang Solo juga sering menggunakan kata \u201clonthe\u201d, yang sebenarnya sama kadar kekasarannya dengan \u201dasu\u201d dan \u201cbajingan\u201d. Begitu pula yang dirasakan Yusril Fahriza selaku arek Lamongan setengah Jogja saat bergaul dengan Bryan Barcelona sebagai mas-mas Solo di Podcast Bergumam, yang kata Yusril, \u201clonthe\u201d itu misuh Solo banget.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan Solo punya misuh yang \u201cnyolo banget\u201d, layaknya \u201cjancuk\u201d di Jawa Timur, yaitu \u201cndlogok\u201d. Sama seperti jancuk, ndlogok pun masih diperdebatkan asal-usulnya. Dan orang Solo punya ciri khas sendiri saat misuh, yaitu seperti memplesetkan umpatan seperti \u201casu\u201d menjadi \u201casem\u201d, \u201clonthe\u201d jadi \u201clontheng\u201d dan lain-lain. Sebenarnya seperti Mas Fadlir tulis soal orang Ngapak yang suka menyederhanakan umpatan, orang Solo pun sama. Bahkan, yang lebih nggak mashok, menyederhanakan umpatan versi plesetan, jadi seperti: sem, jinguk, jilak. Dan agar lebih nyolo, tambahkan \u201cik\u201d atau \u201cog\u201d. \u201cSu, og. T, ik! Jilak, ik.\u201d<\/span><\/p>\n<h4><b>Panggilan<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya soal\u00a0 ini, Solo tidak punya branding kuat seperti \u201cDab\u201d di Jogja, \u201cNdes\u201d ala Semarang, \u201cSam\u201d milik kera Ngalam alias anak Malang. Bahkan, orang Solo cenderung sering meniru panggilan khas daerah lain. Seperti ketika viral video \u201cTutorial Ngarit\u201d beberapa tahun lalu, lantas membuat \u201cNda\u201d menjadi panggilan yang familiar di Solo. Untuk hal ini, biasanya panggilan akrab didasarkan\u00a0 atau tergantung pada lingkar pertemanan. Beberapa tongkrongan mengakrabkan dengan \u201cJhon\u201d, bisa juga \u201cNde\u201d ala acara di TATV (tv lokal Solo) atau \u201cJe\u201d dll. Selebihnya, ya, mengadopsi panggilan ala daerah lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekilas itu tadi adalah panduan bahasa Jawa agar lebih \u2018nyolo\u201d, dan jelas masih belum komplit. Setidaknya secara umum yang digunakan di pergaulan sehari-hari. Karena tidak mungkin saya menerjemahkan kata-kata semacam: oglangan, teh kampul, lengo pet, dan lain-lain. Emangnya mau bikin kamus? Semmm, og!<\/span><\/p>\n<p><em>Foto dari situs web\u00a0<a href=\"https:\/\/reksopustokolibrary.wordpress.com\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Perpustakaan Rekso Pustoko<\/a><\/em><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tak-ada-es-teh-di-batam\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Tak Ada Es Teh di Batam?<\/a><\/strong>\u00a0<strong>dan tulisan<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/dicky-setyawan\/\">\u00a0Dicky Setyawan<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">\u00a0<i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\">\u00a0<i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Seperti daerah lain, Solo punya keunikan kosa kata Bahasa Jawa. Keunikan itu bisa ditemukan dalam bentuk pisuhan, imbuhan, dan lainnya.<\/p>\n","protected":false},"author":783,"featured_media":78741,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[763,115,4652,2284],"class_list":["post-93652","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-bahasa-jawa","tag-jogja","tag-semarang","tag-solo"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/93652","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/783"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=93652"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/93652\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/78741"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=93652"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=93652"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=93652"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}