{"id":93156,"date":"2020-12-07T09:32:38","date_gmt":"2020-12-07T02:32:38","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=93156"},"modified":"2021-08-13T13:00:59","modified_gmt":"2021-08-13T06:00:59","slug":"surat-cinta-dari-ismail-bin-mail-untuk-mei-mei","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/surat-cinta-dari-ismail-bin-mail-untuk-mei-mei\/","title":{"rendered":"Surat Cinta dari Ismail bin Mail untuk Mei-Mei"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini aku, Mei, Mail. Bacanya bukan seperti kamu sedang baca &#8220;G-Mail&#8221;, tapi penekanan pada &#8220;a-i&#8221; harus dipisah. Bingung kau, Mei? Sudahlah, tidak penting.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Surat ini datang kepadamu, dengan maksud yang baik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita tahu sendiri bahwa kita ini seperti partner in crime. Kamu sering marah kepadaku, aku pun sering buat kamu ketawa. Bagai bianglala, turun naik tak terkira, kita bahagia dengan cara yang seharusnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, semenjak teman-teman Tadika Mesra cie-cie-in kita, hal itu sangat merosak pertahanan batin aku yang selama ini aku jaga. Ya, benar, Mei, aku selalu menjaga bahwa kamu hanyalah sosok teman dalam hatiku.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata Fizi, kamu itu kaku seperti robot, dan hanya denganku dirimu boleh ketawa lepas. Apa benar begitu? Hanya kamu yang boleh menjawabnya, Mei. Tentunya, aku ingin jawaban yang baik. Baik untukku, terlebih untuk dirimu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aku tertegun denganmu sejak pertama aku berani menatap lensa kacamatamu. Masa itu kau mengunjungi Pasar Ramadan beberapa tahun yang lalu. Aku terdiam mematung, memakai apron dan ibuku sibuk mengipas ayam bakar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dirimu datang ke lapak daganganku, senyum itu terlihat menawan, membekas sampai sekarang. Mengoyak pertahanan batinku yang terdalam. Namun ya begitu, Mei, masalahnya, aku insecure dengan diriku. Aku tak ada apa-apanya dibandingkan denganmu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat itu, seolah tatap matamu menembus kaca cermin mata kamu itu. Dengan perlahan, kamu berkata, &#8220;TUMBAAAS!&#8221; dengan lengkingan suara seperti busker Bus Damri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertemuan kedua kita juga tak kalah suka cita, yakni sewaktu beli seblak di Uncle Muthu. Ingat waktu mata kita tak sengaja saling bertemu, Mei? Aku tersenyum, kamu malah mangap-mangap. Bibirmu mobat-mabit kerana kepedasan makan seblak level terakhir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rasa itu lebih membahagiakan daripada menemukan wang di jalanan. Eh, bukan, ding, tergantung yang jatuh berapa ringgit. Kalau seratus ringgit, ya, jelas lebih membahagiakan menemukan wang di jalan. Bukannya mata duitan atau apa, Mei, tapi kan wangnya boleh belanja kamu Viennetta di MalayMaret.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kamu adalah murid terpandai di kelas, sedangkan aku adalah antitesisnya. Bagai dua kutub, aku tak boleh mengelak atas perbezaan-perbezaan yang menderu di antara kita. Kita duduk selalu bersama, tidak sedarkah kau bahwa aku sering kali mencuri senyap dalam sebuah pandangan ke arahmu? Mei, senyummu itu, nak tak hiiihhh!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau Jarjit tiap mahu pantun cakap dua tiga, kalau aku ke kamu pasti cakap satu-satu, Mei. Ya, mahu bagaimana lagi, hanya kamu satu-satunya yang mengubah buruj bintang yang menghiasi langit malamku.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tekadku sudah bulat, Mei. Jika diumpamakan, lihatlah kepala Upin dan Ipin. Ya, kurang lebih seperti itulah bulatnya tekadku untuk jujur kepadamu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">TK kita, Tadika Mesra, bahkan aku berani bersaksi bahwa TK itu tidak ada mesra-mesranya kalau dibandingkan diriku yang ingin memiliki harta keluargamu, eh, maksudku, aku yang hendak memilikimu menjadi pasangan hidupku.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tenang, Mei, tenang. Tak ada hak saling memiliki di antara kita. Badanmu adalah milikmu. Pikiranku tetaplah mutlak milikku. &#8220;Kita&#8221; hanyalah sebatas media yang saling bertukar pikiran. Bertukar wang juga boleh jika kamu mahu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Basikal jengki kepunyaan mamak aku ini siap menghantar ke mana pun kamu mahu, Mei. Cari biawak bersama Makcik Selly? Sewa Sepy-nya Rajoo buat menanam ubi? Atau mahu jual surat khabar lama ke Uncle Ah Tong? Aku sedia menemanimu, Mei. Asalkan, ya, kamu tahu lah, dua singgit, dua singgit, dua singgiiit~<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aku pernah buat kamu menyesal dengan mempersilakan Susanti duduk di bangkumu dan beratur denganku. Tepat pertama kali dirinya pindah dari Indonesia. Cemburu kau, Mei?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, Mei, setelah itu Susanti membayarku. Tak ada yang lebih indah dari wang. Simpulkan saja, Mei, aku dan Susanti itu hanya partner bisnis, tidak lebih. Namun betapa hancurnya hatiku, Susanti bayar aku dengan rupiah, bukan ringgit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lah, rupiah buat apa, Mei? Buat investasi juga malah buat aku makin terlihat bodoh. Gagal sudah aku boleh beli komik Kembar Kembara Nakal episode bulan ini. Maka, sebab itulah aku mengirimkan surat cinta ini untukmu, Mei-Mei yang baik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akhir kata, akhir tahun nanti, kuy Menara Petronas. Kita buat TikTok bersama. Bergandingan mesra. Makan mewah. Namun, kamu yang membayar struk tagihan, ketika kembang api riuh membuncah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aku, binatang jalang dari kumpulan yang terbuang, Ismail bin Mail.<\/span><\/p>\n<p><em>Sumber gambar: Instagram\u00a0<a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/upinipinofficial\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">upinipinofficial<\/a><\/em><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ismail-bin-mail-adalah-tokoh-paling-bias-able-seantero-kampung-durian-runtuh\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><strong>Ismail bin Mail Adalah Tokoh Paling Bias-able Seantero Kampung Durian Runtuh<\/strong><\/a> <b><\/b><strong>atau tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/gusti-aditya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Gusti Aditya<\/a> lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Apa jadinya kalau Mail mengirimkan surat cinta pada Mei-Mei. Apa betul, perasaannya ia tulus dan nggak soal &#8220;dua singgit, dua singgit, dua singgiiit&#8221; belaka?<\/p>\n","protected":false},"author":130,"featured_media":93338,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[9297,9553],"class_list":["post-93156","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-mail","tag-mei-mei"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/93156","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/130"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=93156"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/93156\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/93338"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=93156"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=93156"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=93156"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}