{"id":93034,"date":"2020-12-10T07:31:14","date_gmt":"2020-12-10T00:31:14","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=93034"},"modified":"2020-12-09T21:44:21","modified_gmt":"2020-12-09T14:44:21","slug":"mempertanyakan-esensi-renungan-sebelum-ujian-nasional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mempertanyakan-esensi-renungan-sebelum-ujian-nasional\/","title":{"rendered":"Mempertanyakan Esensi Renungan Sebelum Ujian Nasional"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk siswa semester akhir angkatan 2020, mungkin tidak merasakan bagaimana rasanya mengerjakan soal-soal Ujian Nasional. Pemerintah melalui Presiden Joko Widodo memutuskan agar Ujian Nasional 2020 ditiadakan. Alasan pertama, mengenai keamanan dan kesehatan karena sangat berisiko menggelar Ujian Nasional di tengah situasi pandemi. Alasan kedua, karena UN sudah tidak lagi menjadi syarat untuk diterima di perguruan tinggi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi saya pribadi, Ujian Nasional adalah momok yang cukup menakutkan karena dulu hasil UN ini akan berdampak terhadap kelulusan siswa. Namun, beberapa tahun belakangan, UN sudah tidak lagi menjadi patokan untuk kelulusan. Ya baguslah, masa iya lulus tidaknya siswa hanya ditentukan oleh soal UN~<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Biasanya, beberapa hari sebelum UN setiap sekolah akan mengadakan terlebih dahulu renungan untuk semua siswa semester akhir. Baik ketika SMP maupun SMA, sekolah saya selalu mengadakan renungan khusus sebelum pelaksanaan UN tiba. Kalau waktu SD, seingat saya tidak ada renungan seperti itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Baik saat SMP maupun SMA, isi renungannya hampir sama: membayangkan ada bendera kuning di depan rumah. Jujur, saat ini saya merasa tergelitik dengan isi renungan semacam itu. Di satu sisi, memang isi renungannya dapat membuat siswa jadi lebih menghormati dan menyayangi orang tua. Namun, di sisi lain, saya tidak paham keterkaitan antara isi renungan dengan apa yang akan siswa hadapi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu saya memang sangat tersentuh dengan isi renungan tersebut. Bahkan saya sampai menitikkan air mata. Pasalnya, pertama, karena saya manusia dan punya hati. Kedua, saya terbawa suasana karena hampir semua siswa menangis. Ketiga, karena saya tidak ingin disangka psikopat. Apalagi backsound yang didengarkan sungguh membuat hati ini tercabik-cabik sehingga menimbulkan perasaan yang rapuh. Apalagi objek yang dimunculkan adalah seorang ibu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu saat saya dilantik sebagai anggota OSIS, pada salah satu malamnya juga ada agenda renungan. Dan isi renungannya tidak jauh berbeda. Sang pembicara menyuruh kita membayangkan bagaimana ketika kita pulang ke rumah dari kegiatan pelantikan, ada bendera warna kuning yang tertancap di depan rumah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Entah kapan tradisi renungan ini bermula. Meskipun niatnya baik, tapi kok lama-lama terasa aneh juga, ya: membayangkan orang tua meninggal saat akan menghadapi Ujian Nasional. Biasanya, skemanya akan seperti ini: renungan, nangis, saling peluk, saling minta maaf pada teman dan guru, terus pulang, ya biasa lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap di akhir renungan, pasti sang guru meminta pada semua siswa agar ketika pulang dari sekolah bersimpuh meminta maaf pada orang tua, terutama pada ibu. Saya ketika itu, mana ada nurutin permintaan guru saya. Bagaimana tidak? Yang ada malah saya bakal dianggap stres.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Lu ngapain pulang-pulang nangis minta maaf? Pasti mau minta duit, ya, lu?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, pasti ada dari mereka yang pulang setelah renungan langsung lari terbirit-birit ke rumah dan sujud di hadapan ibunya untuk meminta maaf. Dan mungkin ibunya pertama-tama akan merasa ada hal yang janggal: loh, ini anak saya kerasukan setan apa?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebetulnya, daripada ngajakin renungan mulu sambil membayangkan orang tua meninggal, bukankah lebih baik ngadain kegiatan lainnya yang lebih masuk akal? Misalnya, nih.<\/span><\/p>\n<p><b><i>Pertama<\/i><\/b><b>, <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">ajak semua siswa untuk gotong royong membersihkan kelas yang akan dipakai untuk ujian, membersihkan halaman sekolah, dan juga mempercantik sudut-sudut sekolah. Kan, nanti pengawasnya datang dari sekolah berbeda, bisa sebagai branding sekolah juga. Hitung-hitung membantu tugas petugas kebersihan sekolah. Pahala dapat, sekolah kinclong paripurna.<\/span><\/p>\n<p><b><i>Kedua<\/i><\/b><b>, <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">santunan ke panti asuhan. Sebelum bertempur dengan ratusan soal Ujian Nasional, pastikan hati kita bersih dengan cara bersedekah. Jadi, ketika mengerjakan soal, kita akan diliputi rasa tenang yang dapat membantu selama ujian berlangsung.<\/span><\/p>\n<p><b><i>Ketiga<\/i><\/b><b>, <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">adakan konsultasi gratis bagi para siswa yang merasakan stres menghadapi ujian. Seperti kita ketahui, cukup banyak siswa yang bunuh diri karena stres akan menghadapi ujian yang menentukan masa depannya. Nah, maka dari itu, peran BK sangat penting. Daripada disuruh membayangkan orang tua meninggal, bukannya tenang jadi malah makin stres.<\/span><\/p>\n<p><b><i>Keempat<\/i><\/b><b>, <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">main game bareng. Namanya mau ujian pasti stres. Jangan ditambah stresnya dengan buka materi lagi apalagi membayangkan bendera kuning. Cukup main game bersama teman-teman, niscaya semua beban akan terasa lebih longgar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah mungkin pendapat setiap orang berbeda-beda mengenai renungan seperti itu. Saya sendiri sangat mengerti bahwa hal tersebut cukup positif untuk membangkitkan rasa sayang kita terhadap orang tua. Namun, alangkah lebih baik berikan kegiatan yang lebih menyenangkan agar siswa dapat menghadapi ujian tanpa beban tambahan karena harus memikirkan sesuatu yang tidak-tidak.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-tipe-jamaah-jumat-saat-pergi-jumatan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">5 Tipe Jamaah Jumat Saat Pergi Jumatan\u00a0<\/a>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/erfransdo\/\">Erfransdo<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Biasanya, beberapa hari sebelum UN setiap sekolah akan mengadakan terlebih dahulu renungan untuk semua siswa semester akhir.<\/p>\n","protected":false},"author":654,"featured_media":93558,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[557,4866],"class_list":["post-93034","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-renungan","tag-ujian-nasional"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/93034","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/654"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=93034"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/93034\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/93558"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=93034"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=93034"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=93034"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}