{"id":92932,"date":"2020-12-13T06:28:02","date_gmt":"2020-12-12T23:28:02","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=92932"},"modified":"2020-12-12T02:11:45","modified_gmt":"2020-12-11T19:11:45","slug":"indosiar-bisa-nggak-sih-bikin-konser-yang-nggak-kelamaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/indosiar-bisa-nggak-sih-bikin-konser-yang-nggak-kelamaan\/","title":{"rendered":"Indosiar Bisa Nggak sih Bikin Konser yang Nggak Kelamaan?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menonton konser di TV mungkin menjadi cara alternatif buat kita yang sudah kelewat bosen diem di rumah karena pandemi Covid-19. Tapi, kalau jam konsernya terlalu mengeksploitasi kayak Indosiar kok malah jadi muak, ya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita semua pasti tahu acara <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dangdut Academy<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Acara ini sama seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Rising Star<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Indonesian Idol<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, namun dengan genre khusus yaitu dangdut. Masyarakat Indonesia mungkin notabene adalah pecinta dangdut, tapi kalau terlalu banyak ya nggak baik juga, bener kan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan, waktu bernyanyi seorang peserta ada sekitar lima menit. Tapi, waktu komentar hingga ngelawaknya sampai satu jam. Saya tidak habis pikir dengan konsep acara kontes dangdut yang satu ini. Saya pun kadang merasa kasian pada para peserta yang terus-terusan berdiri sampai beberapa kali iklan. Pegel pasti itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, dewan juri harus naik ke panggung untuk mengomentari penampilan para peserta. Nah, di sinilah sumber buang-buang waktu itu terjadi. Komentar yang dilontarkan ditambah dengan mengajari atau melatih para peserta secara langsung di panggung. Satu persatu juri melakukan itu. Bayangkan!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain waktu komentar dewan juri yang ngebosenin banget. Indosiar selalu membawa MC yang terlalu banyak. Dalam satu panggung, MC bisa empat orang sampai enam orang! Itu mau nge-MC atau bikin vocal grup? Biasanya MC paling banyak adalah dua orang, dan pastinya porsi pembagiannya pun seimbang kalau begitu. Hadeh, saya ngerti Indosiar banyak duit sekarang, tapi MC sampai empat atau enam orang dalam satu panggung kan ganggu pemandangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, dengan konsep seperti itu, ditambah lawakan para MC yang malah ngeganggu penonton, acara akan berlangsung suaaangat lama. Acara <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dangdut Academy<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> bisa selesai lewat tengah malam, yaitu sekitar pukul satu malam. Kasian penonton, kasian peserta, kasian jurinya, kasian krunya, kasian kamu juga yang sangat ngebelain acara ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah seharusnya Indosiar melakukan efisiensi waktu dengan konsep acara yang lebih fresh. Siapa yang mau joget nonton dangdut di rumah jam dua belas malam? Kayak diskotik aja. Perasaan dulu KDI nggak gitu-gitu banget deh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dangdut Academy<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, ada lagi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pop Academy<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Perbedaannya adalah para peserta menyanyikan lagu-lagu pop. Tapi, sangat disayangkan konsep acaranya sama seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dangdut Academy<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Padahal, juri yang didatangkan terkadang adalah legenda musisi Indonesia, seperti Armand Maulana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pernah menonton <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pop Academy<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, ketika bagian Armand Maulana menyampaikan komentar. Para MC menyuruh Armand naik ke panggung. Tapi, Armand ingin duduk saja, tapi tetap dipaksa. Astagfirullah. Saya dengan jelas ingat Armand bilang ingin duduk saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Duduk aja lah udah,&#8221; begitu lah kira-kira katanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya yakin Armand kebingungan dengan konsep ini. Selain itu saya pernah melihat Armand Maulana menguap ketika acara sudah ada di pukul sebelas malam. Acara musik di Indosiar itu eksploitasi banget. Terlebih untuk acara pencarian bakat. Hadeh, kadang saya bingung sendiri dengan Indosiar. Seharusnya acaranya dibuat proporsional saja. Bukan malah menghapus anime <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dragon Ball<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dari peradaban TV nasional, sedih akutu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika kita bisa membandingkan acara kompetisi musik di Indosiar dengan acara yang lain. Tentunya akan berbeda jauh. Saya hargai upaya Indosiar untuk membuat acara yang agak beda. Tapi, jangan ngadi-ngadi dong, kasian mata orang tua yang dipaksa nonton sampai tengah malam.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Indonesian Idol<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> contohnya, mereka bernyanyi, dikomentari, ngelawak sebentar, habis itu selesai. Kalau ada perbandingan, di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Indonesian Idol<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sudah tiga orang yang bernyanyi, di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dangdut Academy<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> masih ada satu peserta yang harus dikomentari oleh juri. Waduh, itu buang waktu banget.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya harap <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dangdut Academy <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dan<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> Pop Academy<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang akan datang atau season selanjutnya bisa memiliki konsep yang sederhana. Tidak usah lama-lama sampai jam sembilan malam saja. Ingat pesan ibu, nggak boleh sakit. Belum lagi kata Bang Rhoma kan jangan begadang, tapi ini acara dangdut bikin begadang, Bang Rhoma penyanyi dangdut loh bukan merk biskuit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi alangkah baiknya, pihak televisi juga memperhatikan jam tayang. Masyarakat pun punya lelah, saya yakin tidak semua menonton <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dangdut Academy<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dari awal acara sampai akhir. Pasti cuma beberapa, dan akhirnya berhenti di tengah-tengah karena ngantuk. Ah, sudahlah. Mari kita tidur.<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA\u00a0<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-alasan-mengapa-mengurus-ikan-hias-menyenangkan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><strong>3 Alasan Mengurus Ikan Hias Itu Menyenangkan\u00a0<\/strong><\/a><strong>dan tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/muhammad-afsal-fauzan-s\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Muhammad Afsal Fauzan S.<\/a> lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menonton konser di TV jadi alternatif karena pandemi. Tapi, kalau jam konsernya terlalu mengeksploitasi kayak Indosiar kok malah muak, ya?<\/p>\n","protected":false},"author":1184,"featured_media":34811,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[7135,2794],"class_list":["post-92932","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-dangdut-academy","tag-indosiar"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/92932","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1184"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=92932"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/92932\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/34811"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=92932"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=92932"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=92932"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}