{"id":92745,"date":"2020-12-15T06:33:25","date_gmt":"2020-12-14T23:33:25","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=92745"},"modified":"2021-08-29T22:22:30","modified_gmt":"2021-08-29T15:22:30","slug":"kisi-kisi-jadi-open-minded-kayak-rakyat-twitter","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kisi-kisi-jadi-open-minded-kayak-rakyat-twitter\/","title":{"rendered":"Kisi-kisi Jadi Open Minded Kayak Rakyat Twitter"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Twitter, platform media sosial yang didirikan sejak 2006 lampau, diklaim memiliki atmosfer yang jauh lebih unik ketimbang platform jejaring sosial milik warung sebelah. Walaupun kenyataannya tidak demikian, paling tidak klaim itu akan menjadi kebanggaan tersendiri di hati penggunanya. Pengguna dapat menulis twit dalam 280 karakter. Akan tetapi, dalam tulisan ini saya akan mengulas salah satu keunikan (sebagian) pengguna Twitter. Mereka kerap kali mengklaim diri sebagai pengguna yang paling open minded.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Open minded versi Twitter memiliki makna yang eksklusif, lho. Alih-alih bermakna sifat seseorang yang berpikiran terbuka dan bersedia menerima perbedaan, open minded di Twitter justru dapat disamakan dengan close minded versi orisinal. Akan tetapi, hal ini tidak menjadi masalah bagi kaum edgy. Yang penting kan mereka dapat memaknai apa pun versi mereka sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berhubung open minded di Twitter memiliki makna yang lain daripada yang lain, starterpack-nya pun hanya dapat dipahami oleh penggunanya. Sebagai rakyat Twitter yang baik, saya akan sedikit membeberkan (spill) untuk masyarakat awam agar tidak culture shock ketika masuk di dunia per-Twitter-an<\/span><\/p>\n<h4><strong>#1 Jauh dari agama<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sobat edgy di Twitter sangat bangga dengan pilihannya sebagai orang yang jauh dari agama. Pilihannya ada dua, kalau nggak ngaku-ngaku ateis ya jadi ngejulid ketentuan agama. Pokoknya kalau udah ngaku ateis dan julid sama ketentuan agama makin kelihatan deh kalau otaknya menguap karena kebablasan.<\/span><\/p>\n<h4><strong>#2 Dark jokes adalah jalan ninjakuuu!<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Supaya ke-edgy-annya makin mantap, sobat open minded harus punya selera humor yang berbeda dari khalayak. Selera humor yang dianggap menyimpang ini justru menjadi kebanggaan tersendiri bagi mereka. Agama, cacat fisik, kekerasan, tragedi, dan pelbagai hal serupa yang bagi sebagian besar orang tidak nyaman untuk dijadikan lelucon akan menjadi humor andalan bagi sobat Twitter. Kalau ada pihak yang tersinggung dan mengkritik candaan ini nantinya akan dihujat habis-habisan oleh bala-bala mereka sembari mengata-ngatai \u201cclose minded\u201d.<\/span><\/p>\n<h4><strong>#3 Englonesia adalah koentji<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi mereka, mengutarakan opini dalam dwibahasa merupakan suatu keharusan. Penggunaan bahasa Inggris yang dicampur dengan bahasa Indonesia secara ngawur dianggap lebih \u201cngena\u201d maknanya. Pun dengan dalih, &#8220;Aku tuh nggak ngerti ya istilah ini dalam bahasa.&#8221; Ditambah lagi stereotipe masyarakat kita yang menganggap bahwa orang yang bisa berbahasa Inggris lebih intelek menyebabkan mereka beranggapan bahwa argumen yang diutarakan bakal lebih (kelihatan) superior ketimbang meggunakan bahasa Indonesia secara normal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Uniknya, mereka menggunakan Englonesia atau bahasa Inggris hanya ketika mengutarakan opini. Biar apa, sih? Lagi pula, nggak semua rakyat Twitter mengerti bahasa Inggris. Jadi ya, bakal kelihatan kalau sejatinya mereka tidak benar-benar open minded.<\/span><\/p>\n<h4><strong>#4 Seks bebas, pro-LGBTQ, dan segala dalih pembenaran<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau mau dianggap sebagai orang yang open minded di Twitter, jangan sekali-kali mengutarakan opini kontra terhadap seks bebas dan aktivitas LGBTQ. Kamu jelas akan dicap sebagai orang yang konservatif dan tidak humanis sebelum mereka meneriakimu dengan frasa kebanggaan mereka \u201cclose minded\u201d. Untuk itu, sebelum membuat akun Twitter hendaknya kamu harus bisa memaknai sex with consent dan menghargai aktivitas dari keberagaman orientasi seksual manusia agar disambut dengan baik oleh masyarakat Twitterland.<\/span><\/p>\n<h4><strong>#5 Mental illness issues is our passion!<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sobat Twitter sudah sangat khatam mengenai isu kesehatan mental. Tanpa peduli apa latar belakangnya, mereka sudah bagaikan psikolog dadakan di media sosial. Untuk masalah ini memang positif, semua orang harus paham dan sadar mengenai pentingnya kesehatan mental, tetapi yang menjadi masalah adalah bagaimana mereka mempertontonkan seberapa pedulinya mereka akan kesehatan mental untuk sekadar kelihatan edgy. Kerap kali saya membaca twit ataupun utas yang membahas mengenai klaim masalah mental mereka yang mungkin atas dasar diagnosis pribadi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, masalah mental juga merupakan isu yang menurut mereka mutlak untuk tidak dijadikan lelucon. Masalah mental merupakan satu-satunya isu yang dikecualikan dalam dark jokes versi mereka. &#8220;Tuhan boleh dibercandain, yang nggak boleh dibercandain adalah mental illness.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, menjadi open minded di Twitter sangat simpel, bukan? Literatur, pengalaman, kontrol emosi, serta pelbagai hal yang dimiliki kaum intelektual kini tidak lagi menjadi syarat untuk sekadar menjadi pribadi yang jauh dari anggapan konservatif di platform tersebut. Semua orang akan menjadi 0Pen m1Nd3d pada waktunya ketika telah siap menerima pedihnya konsekuensi di bumi dan di langit.<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/memangnya-kenapa-kalau-nggak-main-media-sosial\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Memangnya Kenapa kalau Nggak Main Media Sosial?\u00a0<\/a><\/b><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Open minded versi Twitter memiliki makna yang eksklusif. Bukan berpikiran terbuka, open minded di Twitter justru close minded versi orisinal.<\/p>\n","protected":false},"author":1217,"featured_media":28823,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12906],"tags":[3363,102],"class_list":["post-92745","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-media-sosial","tag-anak-twitter","tag-media-sosial"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/92745","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1217"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=92745"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/92745\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/28823"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=92745"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=92745"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=92745"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}