{"id":92246,"date":"2020-12-04T06:54:32","date_gmt":"2020-12-03T23:54:32","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=92246"},"modified":"2020-12-02T23:40:57","modified_gmt":"2020-12-02T16:40:57","slug":"makan-nasi-pakai-sumpit-ternyata-ribet-tidak-seromantis-di-anime","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/makan-nasi-pakai-sumpit-ternyata-ribet-tidak-seromantis-di-anime\/","title":{"rendered":"Makan Nasi Pakai Sumpit Ternyata Ribet, Tidak Seromantis di Anime"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya orang yang jarang komplain soal makanan. Satu-satunya makanan yang saya nggak suka adalah mie campur nasi\u2013\u2013saya masih nggak habis thinking ada yang makan makanan itu. Tapi, soal makan nasi pakai sumpit, hmmm, biar saya jelaskan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari kecil, saya ditanami prinsip kalo makan nggak boleh ada sisa nasi sebutir pun, nanti Dewi Padi nangis. Maklum, ekonomi keluarga saya masih nggak stabil waktu itu, jadi nasi jelas tak boleh mubazir. Dan prinsip itu saya pegang sampai sekarang. Dalam kurun waktu beberapa tahun ini, saya nggak pernah lagi bikin nangis Dewi Padi. Sampai hari makan nasi pakai sumpit itu datang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Waktu itu, ada saudara saya datang ke rumah. Sampai sekarang, sebetulnya, saya kurang tau hubungan kekeluargaannya dengan keluarga ibu saya itu apa. Saya nggak hafal pohon keluarga saya, yang jelas nenek moyang saya petani, bukan pelaut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beliau datang membawa kantong plastik berisi oleh-oleh. Beliau memang sering kali membawa oleh-oleh \u201cborjuis\u201d, jadi saya nggak kaget melihat dua kotak berisi makanan aneh tergeletak di sana. Setelah beliau pergi, saya dan adik membongkar kedua kotak makanan aneh itu. Ternyata makanan Jepang yang sering saya lihat di anime-anime. Adik terlebih dahulu makan, sementara saya baru melahapnya saat malam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika saya buka kotak itu, isi lauknya aneh-aneh. Ada daging tumis berwarna gelap, wortel tipis-tipis dengan mayonaise tidak-terlalu-putih, daging ayam bertepung roti yang dipotong, dan beberapa gorengan berisi kehampaan, kirain tempe goreng, ternyata isinya bayam. Perut saya toleran terhadap makanan apa pun. Barat atau timur tak masalah, asalkan lapar. Jadi saya nggak mikir aneh-aneh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang bikin saya tertarik ialah kehadiran dua sumpit menempel di sana. Saya sih nggak asing banget sama sumpit. Selain dari anime, saya juga sering makan mi ayam pakai sumpit. Tapi, kalau makan nasi pakai sumpit, ini pertama kalinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tanpa basa-basi, saya langsung tancap gas menyantap makanan mahal itu. Tapi hambatan selalu ada, baik saat hidup maupun makan. Cobaan menghampiri saya ketika nasi yang coba saya jepit pakai sumpit ternyata mental dan jatuh ke tanah. Segera saya ambil lagi, dengan tangan, tentu saja. Belum lima menit.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemudian saya mencoba mencicipi daging berwarna gelap itu. Relatif mudah dijepit, tapi masalahnya terletak di bagian krusial: sumpit nggak bisa motong. Ketika saya gigit dan coba jepit supaya jatuh baik-baik, daging itu malah melenceng lalu jatuh begitu saja ke lantai. Yang ini saya buang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semua lauknya tak ada masalah setelah itu. Masalah terbesarnya terletak di nasi. Saya coba jepit nasi putih itu pakai sumpit, perasaan di anime kok ya gampang banget, ini susahnya minta ampun. Berkali-kali saya coba angkat, masih tak berhasil. Butuh pelatihan sekitar lima menit lebih untuk sekadar memasukkan nasi ke mulut, itu pun harus bungkuk-bungkuk sampai bawah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang bikin saya kesal, nasinya sering kali jatuh ke mana-mana, jadinya belepotan. Harusnya sih, kalo di anime, nasinya ngebulet gitu kek bola salju. Lah ini susah bener.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Walau kenyang, makan malam itu merupakan bencana. Butir-butir nasi berceceran. Walau lauknya habis tak bersisa. Cara makan saya pakai sumpit yang jadi masalahnya. Kayaknya, saya memang hanya berbakat makan dengan cara Indonesia. Kalau nggak pakai sendok ya pakai tangan aja langsung, efektif, mudah, gampang, dan kenyang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika membuang bungkusan kotak dan mencuci tangan saya merenung. Rasa bersalah menggerogoti. Sebagai lelaki, merupakan aib membuat wanita menangis, apalagi kalo ia dewi. Maaf telah membuat engkau menangis, Dewi Padi.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/makan-mie-ayam-itu-harus-pakai-sumpit-titik\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Makan Mie Ayam Itu Harus Pakai Sumpit. Titik! <\/a><\/strong><strong>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/nasrullah-alif\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Nasrulloh Alif Suherman<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Yang bikin saya kesal, makan nasi pakai sumpit bikin nasinya sering jatuh ke mana-mana, jadinya belepotan. Padahal di anime nggak gitu.<\/p>\n","protected":false},"author":1185,"featured_media":22456,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[438,1237],"class_list":["post-92246","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-kuliner","tag-makan-nasi"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/92246","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1185"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=92246"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/92246\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/22456"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=92246"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=92246"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=92246"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}