{"id":92126,"date":"2020-12-09T06:28:31","date_gmt":"2020-12-08T23:28:31","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=92126"},"modified":"2020-12-08T18:41:06","modified_gmt":"2020-12-08T11:41:06","slug":"berhenti-jadikan-agama-sebagai-label-seseorang-pandai-menyanyi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/berhenti-jadikan-agama-sebagai-label-seseorang-pandai-menyanyi\/","title":{"rendered":"Berhenti Jadikan Agama sebagai Label Seseorang Pandai Menyanyi"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Punya suara emas itu anugerah, bakat, hadiah, kelebihan, talenta, dan sebutan lainnya yang menggambarkan keistimewaan atas kemampuan itu. Orang yang jago bernyanyi bisa jadi bakatnya ada sejak lahir. Namun, nggak sedikit juga yang memang diasah dengan ikut les vokal. Bahkan beberapa orang nggak menyadari kalau punya bakat menyanyi. Bakat terpendam itu namanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya mau bilang kalau saya termasuk salah satu orang yang bisa dibilang punya bakat menyanyi. Tak apalah saya sombong sedikit. Saya ini nggak pernah ekspos kemampuan bernyanyi saya. Serius. Eh, pernah deng hanya satu dua kali saja. Saya merasa belum mumpuni tapi saya suka. Nggak ada salahnya dijadikan hobi. Suara saya ternyata masih layak untuk masuk ke telinga orang-orang. Hehe.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari kecil saya suka menyanyi di gereja. Saya juga sering ikut paduan suara di gereja. Dari situlah kemampuan menyanyi sering saya asah. Hingga jadi hobi. Saya nggak pernah ikut les vokal. Kalau boleh jumawa, di keluarga saya kemampuan bernyanyi diturunkan hanya pada saya dan adik perempuan saya. Wah saya mbatin istimewa sekali saya ini. Hahaha<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berangkat dari kebiasaan saya menyanyi di gereja entah itu sebagai worship leader atau paduan suara, jadilah banyak orang yang menilai suara saya bagus karena saya sering nyanyi di gereja. Mereka pikir karena agama saya Kristen saya jadi jago menyanyi. Ketika saya dengar pernyataan seperti itu yang langsung ditujukan pada saya, saya hanya bisa hah? Seriusan? Nggak masuk akal!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kasus seperti ini nggak hanya sekali dua kali saya alami. Sering sekali. Teman-teman saya dari agama lain pun nggak jarang melabeli saya seperti itu. Padahal ya nggak ada hubungannya sama sekali dong. Manusia dengan kepercayaan apapun pasti diberi bakat yang sesuai dengan diri mereka masing-masing. Masa hanya karena rajin menyanyi di gereja lantas bakat yang saya dapat serta merta hanya karena gereja? Salah kaprah deh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya pernah dengar labeling seperti ini juga ditujukan kepada mereka yang ikut ajang pencarian bakat menyanyi di Indonesia. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201c<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">pantes suaranya bagus kayaknya sering nyanyi di gereja itu\u201d atau \u201csering ikut paduan suara jadi suara bagus. Nggak heran!<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201d<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hadeh jujur kadang saya merasa terganggu dengan stereotip semacam itu. Kenapa sih nggak bisa menikmati suara emasnya. Kenapa harus disangkutpautkan dengan latar belakang agama yang dimiliki setiap orang. Lantas, orang dengan latar belakang agama bukan Kristen nggak pantas punya suara bagus gitu?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apa nggak pernah lihat ya para penyanyi lagu rohani dari berbagai kepercayaan yang punya suara bagus banget. Contohnya Nisa Sabyan. Dia punya suara yang bagus dan ini. Enak didengar. Dia melantunkan lagu-lagu pujian sesuai kepercayaannya. Penyanyi-penyanyi lagu pop juga begitu kan. Apa itu didasari dengan agama yang mereka anut? Haduh jangan begitu lah. Jangan mudah melabeli sesuatu hanya dalam sekali dua kali lihat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka yang punya suara bagus ya diasah. Setiap hari dilatih. Apa pun agama yang dianut saya rasa nggak ada hubungannya. Entah saya juga bingung entah mungkin karena di agama saya menyanyi menjadi sebuah tradisi ya. Jadi secara nggak langsung suara kami juga dilatih. Menyanyi di gereja itu tanpa paksaan. Nggak seperti di tempat les vokal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, saya mulai maklum dengan stereotip yang orang-orang beri terhadap suara saya karena sering menyanyi di gereja. Mungkin ya itu tadi mereka hanya tau kalau di gereja itu seringnya menyanyi. Setiap ibadah pasti nyanyi. Ya, saya coba mengerti saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nyatanya banyak kan penyanyi bersuara emas bukan karena sering nyanyi di gereja. Mereka memang terlahir dengan talenta itu. Lalu diasah sehingga kemampuan menyanyinya mumpuni.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sempat membaca salah satu cuitan di Twitter dari seseorang yang saya bahkan nggak tahu siapa dia lewat di timeline saya. Dia lantas mencuit tentang perbedaan dua genre lagu dan disangkutpautkan dengan agama di negara kita. Cuitannya kurang lebih bermakna orang Kristen lebih banyak memenangkan ajang pencarian bakat menyanyi Indonesian Idol. Sedangkan orang Islam lebih dominan menjadi penyanyi dangdut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada awalnya saya setuju dengan pernyataan dia ini. Kalau ditilik-tilik ya kok benar juga. Tapi, setelah ditilik lebih jauh ya ternyata salah juga. Bukankah jadinya dia ini malah berusaha mengkotak-kotakkan sesuatu berdasarkan latar belakang agama. Buktinya beberapa penyanyi dangdut juga ada yang beragama Kristen. Begitu juga dengan pemenang Indonesian Idol. Hah. Stereotip seperti ini sebenarnya menjengkelkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Biasanya saya kesal ketika stereotip seperti ini berkembang, banyak terjadi kesalahan dalam pengambilan keputusan. Misal seperti saya. Saya pernah ditunjuk untuk menyanyi di sebuah acara dengan embel-embel <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201c<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dia kan sering nyanyi di gereja. Pasti suaranya bagus\u201d. Memangnya dia tahu dari mana? Saya saja jarang menunjukkan diri menyanyi. Kok bisa-bisanya ambil keputusan sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ayolah, jangan menjadi menyebalkan dengan melabeli seseorang yang pandai menyanyi dengan latar belakang agama mereka. Malas dengarnya!<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/anggapan-laki-laki-nggak-pantas-punya-kulit-glowing-itu-nggak-masuk-akal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Anggapan Laki-laki Nggak Pantas Punya Kulit Glowing Itu Nggak Masuk Akal\u00a0<\/a><\/strong><strong>a<\/strong><strong>tau tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/Ayu-Octavi-Anjani\">Ayu Octavi Anjani<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/h6>\n<h6><strong><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\">di sini.<\/a><\/em><\/strong><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ayolah, jangan menjadi menyebalkan dengan melabeli seseorang yang pandai menyanyi dengan latar belakang agama mereka. Malas dengarnya!<\/p>\n","protected":false},"author":286,"featured_media":90922,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[78,919,3817,8041,9652],"class_list":["post-92126","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-agama","tag-dangdut","tag-indonesian-idol","tag-kristen","tag-menyanyi"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/92126","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/286"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=92126"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/92126\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/90922"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=92126"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=92126"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=92126"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}