{"id":91965,"date":"2020-12-02T07:32:42","date_gmt":"2020-12-02T00:32:42","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=91965"},"modified":"2020-12-01T21:49:46","modified_gmt":"2020-12-01T14:49:46","slug":"alasan-restoran-mewah-hidangkan-makanan-porsi-kecil-tapi-harganya-selangit","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/alasan-restoran-mewah-hidangkan-makanan-porsi-kecil-tapi-harganya-selangit\/","title":{"rendered":"Alasan Restoran Mewah Hidangkan Makanan Porsi Kecil tapi Harganya Selangit"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pernah nggak, sih, mendambakan suatu saat bisa fine dining bersama pasangan? Seperti, makan malam di restoran mewah nan elegan. Kalau makan malam di restoran mewah dengan harga yang mahal tentu bisa membayangkan kelezatannya seperti apa. Seolah-olah bisa dirasakan sebelum makanan dihidangkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain rasa, porsi patut dipertimbangkan ketika memilih suatu restoran atau tempat makan lainnya. Namanya orang Indonesia. Ora sego ora kenyang, yang artinya selama belum makan nasi ya belum makan namanya. Nggak kenyang, Bro.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pernah beberapa kali saya melihat di film-film, ada adegan di mana banyak pasangan kekasih yang makan malam alias fine dining di restoran mewah. Ketika hidangan disajikan, saya nggak jarang mbatin: itu apa kenyang ya makan porsi kecil begitu? Mana harganya pasti mahal banget lagi. Nggak jarang juga saya perhatikan seporsi steak daging sapi ukuran super mini lengkap dengan saus dan sayur mayur yang juga sedikit jumlahnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apa tidak merasa rugi merogoh kocek dalam-dalam hanya demi seporsi kecil hidangan yang entah membuat kenyang atau tidak. Mahasiswa kosan yang akhir bulan hobinya makan Indomie pasti nggak akan relate dengan hal ini. Ya, mending uangnya ditabung buat jajan cilor sama bakso bakar. Hehehe.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya, setiap orang kan beda-beda kebutuhan dan kebiasaannya. Kalau memang anak sultan ya sah-sah saja makan di restoran mewah dengan porsi kecil dan harga selangit itu. Kalau kayak saya yang biasa makan nasi dan oseng kangkung saja sudah cukup, agaknya memang nggak cocok dengan yang namanya fine dining.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pihak restoran yang menghidangkan porsi kecil dengan harga selangit tentu nggak asal dong dalam mematok harga. Ada harga ada kualitas, begitu mungkin ungkapan yang pas. Pasti ada alasan paling masuk akal kenapa restoran mewah menghidangkan makanan porsi kecil dengan harga mahal tiada tara.<\/span><\/p>\n<h4>#1 Kualitas standar yang dijaga<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Restoran \u201chigh end\u201d biasanya memiliki kualitas standar yang sudah ditentukan sebelumnya. Alasan kenapa restoran semacam ini menyajikan hidangan dengan porsi kecil karena mereka menjaga kualitas standar. Bahan-bahan kualitas terbaik yang digunakan.<\/span><\/p>\n<h4>#2 Harga bahan baku yang mahal<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti yang sudah saya jelaskan di atas. Ada harga ada kualitas. Bahan makanan yang menjadi bahan baku makanan di restoran mahal biasanya menggunakan bahan-bahan yang mahal dan jarang ditemui di Indonesia. Bahan-bahan makanannya biasa impor dengan kualitas yang sangat baik. Jadi, nggak heran kalau makanan yang disajikan porsinya kecil dan mahal. Kalau porsi kuli ya rugi dong, Bund.<\/span><\/p>\n<h4>#3 Porsi kecil dianggap elegan<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau makan di warteg biasanya ambil sendiri dengan porsi kuli. Alias kalau nasinya nggak banyak ya nggak kenyang. Belum lagi nanti nambah lagi dan lagi. Nggak salah, kok. Namun, ya kalau makan di warteg nggak bisa dianggap elegan. Beda dengan restoran mewah dengan menu makanan porsi kecil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Porsi kecil itu dianggap elegan dan cantik. Saya rasa sih ini juga menyesuaikan dengan cara kita makan. Secara nggak langsung menunjukan status sosial masyarakat juga. Kalau di restoran mewah dan makanan porsi kecil tentu nggak bisa gerabakan seperti makan di warteg. Pokoknya disesuaikan dengan penampilan, lah.<\/span><\/p>\n<h4>#4 Memfokuskan pelanggan dengan kenikmatan cita rasa<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Porsinya yang kecil, membuat pelanggan biasanya enggan cepat-cepat selesai makan. Kalau makan porsi kecil begitu ya sayang lah kalau ingin cepat-cepat pulang. Makan harus dihayati. Setiap rasa yang masuk ke mulut harus diresapi. Biar kalau sudah bayar mahal nggak rugi-rugi amat gitu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pelanggan akan senantiasa mengunyah makanan dengan penuh penghayatan. Makan perlahan-lahan juga nyatanya bagus untuk kesehatan. Kalau makan di warteg kan biasanya karena lapar dan ingin cepat-cepat kunyah lalu telan. Makan hidangan porsi kecil itu berbeda. Pelanggan cenderung mencari suasana berbeda ketimbang hanya memenuhi rasa lapar.<\/span><\/p>\n<h4>#5 Hidangan porsi kecil adalah seni<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Koki yang memasak hidangan porsi kecil dituntut untuk selalu kreatif dalam melakukan plating. Plating biasa dilakukan ketika makanan akan disajikan dengan dihias semenarik mungkin. Restoran-restoran mewah pasti memikirkan hal semacam ini. Kalau hidangan tidak menarik, ya, pelanggan juga nggak nafsu makan. Bagi koki, hidangan porsi kecil menghasilkan karya seni yang bernilai.<\/span><\/p>\n<h4>#6 Cita rasa yang pasti tidak akan pernah dilupakan<\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Poin ini nyambung dengan kenikmatan cita rasa. Kalau sudah bayar mahal untuk fine dining, merasakan hidangan porsi kecil pasti sayang kalau nggak diawet-awet. Kenikmatan cita rasa sulit sekali untuk ditolak apalagi dilupakan. Pintar sekali memang restoran mewah ini dalam menghadirkan menu porsi kecil, supaya pelanggan nggak mudah lupa dengan rasa dan seninya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah beberapa alasan kenapa hidangan porsi kecil di restoran mewah mahal banget. Sepertinya kalau makan itu di awal bulan, siap-siap menderita di akhir bulan. Akan tetapi, nggak salah loh setahun sekali coba fine dining sama pacar. Good luck!<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/meski-hobi-makan-es-batu-gigi-saya-baik-baik-saja\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Meski Hobi Makan Es Batu, Gigi Saya Baik-baik Saja <\/a><\/strong><strong>atau tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/Ayu-Octavi-Anjani\">Ayu Octavi Anjani<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/h6>\n<h6><strong><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\">di sini.<\/a><\/em><\/strong><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pihak restoran yang hidangkan porsi kecil dengan harga selangit tentu nggak asal dalam mematok harga. Ada harga ada kualitas, begitu mungkin ungkapan yang pas.<\/p>\n","protected":false},"author":286,"featured_media":92272,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[9703,4490,8548],"class_list":["post-91965","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-fine-dining","tag-mahal","tag-restoran"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/91965","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/286"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=91965"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/91965\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/92272"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=91965"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=91965"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=91965"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}