{"id":91938,"date":"2020-12-02T06:13:52","date_gmt":"2020-12-01T23:13:52","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=91938"},"modified":"2020-12-02T11:37:00","modified_gmt":"2020-12-02T04:37:00","slug":"tidak-semua-orang-tua-ideal-banyak-yang-justru-menuntut-pamrih-dari-anak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/tidak-semua-orang-tua-ideal-banyak-yang-justru-menuntut-pamrih-dari-anak\/","title":{"rendered":"Tidak Semua Orang Tua Ideal, Banyak yang Justru Menuntut Pamrih dari Anak"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Layaknya lirik lagu \u201cKasih Ibu\u201d seperti itulah sosok orang tua ideal yang ada di benak kita. Orang tua adalah sosok yang \u201cmemberi\u201d kita segala hal yang mereka punya hingga tutup usia. Bahkan tanpa kita meminta mereka juga memberi, ya kan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejujurnya saya sangat suka dengan lagu \u201cKasih Ibu\u201d. Bahkan lagu ini adalah andalan saya pas disuruh maju nyanyi lagu anak-anak oleh guru kelas. Lagu Kasih Ibu inilah yang menjadi pilihan paling utama dan pertama bagi saya untuk unjuk gigi di depan teman-teman. Saya tahu, mungkin kalian juga demikian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, saya sekarang justru meragukan apakah lirik lagu tersebut relevan dengan kehidupan nyata? Apakah semua orang tua tidak memiliki pamrih terhadap segala bentuk perjuangan yang mereka lakukan untuk anaknya? Apakah benar semua orang tua ideal benar-benar membesarkan anak dan sudah sampai di situ saja?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nyatanya realitas tidak seindah lirik lagu. Bagaimanapun tetap ada orang tua yang sesungguhnya memiliki pamrih. Tidak semua orang tua ideal. Mereka mengharapkan balasan atas segala tindakan yang dilakukan untuk anaknya. Tentu saja, setiap orang tua memiliki pamrih yang berbeda, tergantung status sosial, ekonomi, dan tidak lupa seberapa religius orang tuanya. Kita tidak perlu terlalu naif dan harus mengakuinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi orang tua yang punya status sosial sekaligus ekonomi menengah, biasanya hal ini sungguh terasa. Dalam keluarga yang serba dicukup-cukupin tersebut, faktor tuntutan ekonomi dan tekanan sosial terasa lebih besar. Ditambah kalau orang tuanya model yang mata kepedasan saat lihat kejayaan keluarga lain dan kupingnya panas mendengar anak orang lain memiliki prestasi. Maka ketika nanti kamu sedang berusaha memperbaiki diri sendiri akan muncul sentilan-sentilan ucapan, \u201cBesok kalau kamu sudah kerja atau gajian, tolong ya rumah dibikin bagus.\u201d dan \u201cItu motornya Bu A baru, ibu juga pengin kamu beliin yang seperti itu.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya kalau masih sebatas rumah untuk direnovasi, masih maklum karena hunian ditempati bersama. Namun, kalau sudah barang-barang tersier misalnya motor baru, apalagi hanya karena iri ke tetangga sih itu beda lagi. Kalau penghasilan kamu cukup buat kebutuhan sendiri saja, bakalan susah kan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bisakah menolak? Bisa. Namun, kalau orang tua sudah mengeluarkan jurus cerita perjuangan masa lalu membesarkan kalian, susah untuk mengatakan \u201ctidak bisa\u201d. Memang tidak semua orang tua ideal layaknya lagu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi kalian, anak yang lahir dari keluarga berkecukupan juga tidak bisa terhindar dari pamrih orang tua. Anak dibesarkan menggunakan fasilitas dan modal yang dikeluarkan oleh kedua orang tua. Hal tersebut dilakukan agar anak menjadi\u00a0 orang yang bisa melampaui dan minimal punya kedudukan yang seperti mereka. Hal ini tak bisa lepas dari motif orang tua yang tidak ingin sengsara di hari tuanya. Akhirnya, predikat anak sebagai investasi hari tua pada keluarga serba dicukup-cukupin dan serba kecukupan tidak bisa dihindari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengenai orang tua ideal yang religius, pamrih yang dipunyai tentu berbeda. Biasanya orang tua semacam ini akan mencoba membentuk anak yang \u201csoleh\/solehah\u201d. Termasuk di sini menggunakan cara mengirim anaknya belajar ke pondok pesantren yang jauh dari rumah agar kelak mengerti dan mampu mendoakan orang tuanya. Ya, ini pamrih paling kecil menurut saya. Apakah kalian termasuk?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mendoakan orang tua menurut saya adalah sebuah tindakan yang naluriah. Tanpa diminta pun setiap anak, asal masih waras akan berdoa agar orang tuanya selalu baik, di dunia dan akhirat. Mendekatkan diri secara intens kepada anak dan memberikan kasih sayang secara langsung menjadi langkah yang sangat tepat untuk rangsangan tindakan naluriah tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari mana pun keluarga yang dimiliki, pamrih dalam membesarkan anak justru akan berakibat fatal manakala prosesnya dipaksakan. Anak akan merasa memiliki tanggung jawab lebih untuk memberikan timbal balik kepada orang tuanya. Beban psikologis bisa terbentuk hanya karena orang tua menunjukan pamrihnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya anak akan berkata dalam hatinya, \u201cKalau saya tidak bisa memenuhinya bagaimana?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apalagi kalau pamrih tersebut membentuk anak tidak sesuai jalurnya. Anak yang tertarik melakukan suatu kegiatan seakan harus merelakan keinginannya tersebut demi orang tua. Bisa jadi panjang lagi masalahnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal yang penting dan perlu diingat bagi orang tua adalah tidak perlu meminta suatu hal atas bayaran pengorbanannya untuk anak, tetapi cobalah menerima sekecil apa pun yang bisa anak berikan. Soal lagu \u201cKasih Ibu\u201d sih kalau memang tidak lagi relevan menunjukan realitas orang tua di zaman sekarang, paling tidak bisa jadi pengingat bagi peran orang tua agar tidak terlalu menuntut pamrih pada anak-anaknya.<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/yang-jarang-diketahui-dari-anak-stm\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Yang Anti Mainstream dari Anak STM: Dari Panjat Pagar Sampai Trifungsi-Alumni<\/a> atau tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/ravi-oktafian\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Ravi Oktafian<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Layaknya lirik lagu \u201cKasih Ibu\u201d seperti itulah sosok orang tua ideal yang ada di benak kita. Sayangnya realitas justru berkata sebaliknya.<\/p>\n","protected":false},"author":113,"featured_media":71809,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[3636,200],"class_list":["post-91938","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-konflik-keluarga","tag-orang-tua"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/91938","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/113"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=91938"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/91938\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/71809"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=91938"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=91938"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=91938"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}