{"id":91932,"date":"2020-12-02T06:23:56","date_gmt":"2020-12-01T23:23:56","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=91932"},"modified":"2020-12-01T18:20:31","modified_gmt":"2020-12-01T11:20:31","slug":"banggalah-jadi-budak-micin-perdebatan-soal-tidak-sehatnya-msg-bukan-perkara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/banggalah-jadi-budak-micin-perdebatan-soal-tidak-sehatnya-msg-bukan-perkara\/","title":{"rendered":"Banggalah Jadi Budak Micin, Perdebatan soal Tidak Sehatnya MSG Bukan Perkara"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dibandingkan bucin sebagai abreviasi budak cinta, frasa budak micin rasanya jauh lebih mendarah daging dalam kultur berbangsa dan bernegara kita. Adanya Pak Dokter Rayhan dalam iklan Masako terbaru pun seolah menyiratkan bahwa tidak ada yang salah dari \u201cpenghambaan\u201d semua milenial Indonesia pada micin.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Blio lulusan S1 kelas internasional Kedokteran UGM lho, lantas langsung lanjut S2 di universitas yang sama. Masa iya mau diragukan kapasitas kepakarannya di bidang kesehatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita semua yang mengaku generasi milenial memang telah hidup berdampingan dengan damai dan tumbuh dewasa hingga menua bersama micin. Pantaslah kita disebut budak micin. Saya ingat di masa kecil dulu, salah satu hal yang membuat saya selalu menantikan abang tukang bakso, adalah kuah kaldu bakso campur Ajinomoto yang entah kenapa tidak pernah membosankan. Selain tentu saja karena memang sejak kecil generasi 90-an telah didikte dengan lagu \u201cabang tukang bakso, mari-mari sini, aku mau beli\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setidak-tidaknya, micin telah membantu para ibu muda yang kala itu selalu kesulitan untuk menjaga ritme dan pola nafsu makan anak-anak pra-reformasi. Ekonomi sedang susah-susahnya, harga kebutuhan mulai melambung tak hingga, program empat sehat lima sempurna tidak banyak meringankan beban keluarga. Maka hadirlah micin sebagai tajalli kata-kata bijak \u201cbahagia itu sederhana\u201d, jadi budak micin saja sudah cukup.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak sedang berkubu pada salah satu dari tiga kelompok yang selalu terlibat debat tak berujung tentang micin. Kelompok pertama percaya bahwa micin adalah bagian hidup mereka, tiada hari tanpa micin. Kelompok kedua kontra sepenuhnya dan menuduh micin adalah sumber kebodohan massal serta degradasi integral pada generasi milenial. Sementara kelompok ketiga merasa paling bijak sebagai penengah dengan semboyan \u201casalkan nggak berlebihan\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau mau ditarik lebih jauh, sebenarnya ada benang panjang yang menghubungkan micin dengan Perang Dunia II (PD II). Kekalahan Jepang dari Amerika yang terlalu mendadak sontak mengecewakan banyak prajurit dan warganya. Akan tetapi, dasarnya negeri pejuang ya tetap tegap berkembang dalam keterpurukan. Industri micin segera membumi hanya tiga tahun setelah akhir PD II, siapa lagi kalau bukan Ajinomoto pelaku utamanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Satu titik di balik suksesnya penyebaran micin, terutama di wilayah Asia, adalah bahan mentah yang murah dan berkembangnya teknologi fermentasi berskala industri. Barangkali secara singkat perlu saya jelaskan bahwa produksi micin secara industri dimulai sejak 1957. Kala itu dikembangkan bakteri yang dapat mengekstrak glutamat dari bahan mentah yang merupakan \u201climbah\u201d industri gandum, kedelai, gula tebu, atau jagung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di antara banyak jenis bakteri yang digunakan dalam produksi micin, satu yang kerap diteliti dan paling efektif adalah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Corynebacterium glutamicum<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Anehnya, produksi glutamat yang dihasilkan oleh kelompok bakteri ini justru melonjak tidak terduga (hyper-production) apabila dikondisikan dalam keadaan minim nutrisi (biotin-limited condition).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apa yang terjadi setelah industrialisasi murah micin berhasil dikembangkan di Jepang? Kapitalisme. Perang dengan Amerika kembali dimulai, hanya saja dengan cara yang lebih elegan: Menggunakan amunisi kritis para saintis dan industrialis. Jepang segera menguasai pasar micin di Asia Tenggara dan China, kabar tentang penguat dan penyedap rasa ajaib segala masakan segera merebak di kawasan Asia. Bisa dikatakan, pada tahun-tahun itulah masa awal munculnya budak micin di muka Bumi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pembahasannya akan lebih ruwet lagi kalau meminjam kritik para pengikut Karl Marx yang menyebut kapitalisme sebagai creative destruction atau penghancuran kreatif. Hal tersebut merujuk pada ironi bahwa kapitalisme memungkinkan kebebasan dasar manusia seperti rasa (sensation), pencernaan (digestion), dan metabolisme diproduksi secara industri melalui perkembangan produk makanan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apabila dilihat dalam kacamata kimia sederhana, micin hanyalah molekul glutamat yang terikat pada molekul natrium (senyawa dasar kristal garam). Ia bukanlah asam amino esensial, yang artinya, we do not need to eat glutamate to survive and thrive. Bukan berarti nggak penting juga, glutamat berperan signifikan dalam urusan \u201ckesadaran\u201d (cognition), \u201cperasaan\u201d (mood), dan \u201ckelaparan\u201d (appetite).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi tahu kan, kenapa micin itu enak? Ya karena memang otak kita ngomong pakai bahasa micin. Ada sebuah alegori dalam ilmu biokimia tentang micin: Kalau tubuh berfungsi dengan bahan bakar glukosa, yang diucapkannya adalah glutamat. Makanya, istilah umami yang sering jadi konten iklan micin itu sebenarnya berasal dari kata umai atau tafsir literalnya adalah rasa gurih yang sangat enak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh karena itu, ketimbang mikirin pertarungan abadi setan malaikat, perang tak berkesudahan kanan dan kiri, serta keruwetan ideologis kapitalisme dan sosialisme, kita nikmati saja senyum menggoda dan alis manja Bu Rayhan dalam iklan Masako. Jarang-jarang kan produk micin punya brand ambassador bidadari milenial macam Isyana Sarasvati. Sehat selalu, Budak micin!<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ketimbang-usul-smk-jurusan-medsos-mas-gibran-mending-bikin-smk-jurusan-martabak\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Ketimbang Usul SMK Jurusan Medsos, Mas Gibran Mending Bikin SMK Jurusan Martabak<\/a><\/b>\u00a0<b><\/b><b>dan tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/adi-sutakwa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Adi Sutakwa<\/a>\u00a0lainnya.<\/b><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i>\u00a0<a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\"><i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dibandingkan bucin sebagai budak cinta, frasa budak micin rasanya jauh lebih mendarah daging dalam kultur berbangsa dan bernegara kita.<\/p>\n","protected":false},"author":1076,"featured_media":3871,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[438,1944],"class_list":["post-91932","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-kuliner","tag-sejarah"],"modified_by":"Ajeng Rizka","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/91932","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1076"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=91932"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/91932\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3871"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=91932"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=91932"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=91932"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}