{"id":91786,"date":"2020-12-03T07:33:01","date_gmt":"2020-12-03T00:33:01","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=91786"},"modified":"2020-12-02T00:08:17","modified_gmt":"2020-12-01T17:08:17","slug":"berkenalan-dengan-slang-word-nya-orang-lampung","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/berkenalan-dengan-slang-word-nya-orang-lampung\/","title":{"rendered":"Berkenalan dengan Slang Word-nya Orang Lampung"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa teman saya yang berasal dari luar Provinsi Lampung sempat kebingungan ketika pertama kali datang dan menetap di Bandar Lampung. Penyebabnya tidak lain adalah bahasa. Bukan karena kebanyakan dari kami yang memang orang asli Lampung menggunakan bahasa daerah dalam percakapan sehari-hari. Akan tetapi, karena beberapa dari kami menggunakan slang word atau bahasa gaulnya orang Lampung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut KBBI, slang word adalah ragam bahasa tidak resmi dan tidak baku yang dipakai oleh kaum remaja atau kelompok sosial tertentu. Jadi, wajar saja kalau beberapa teman saya yang berasal dari luar Lampung kebingungan dengan beberapa kosakata, yang menurut mereka cukup aneh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terkadang saya merasa lucu sendiri kalau ada teman atau orang baru yang bertanya arti dari beberapa kosakata atau partikel imbuhan seperti \u201cgeh\u201d dan \u201ctah\u201d. Ada juga teman yang kebingungan ketika kami menggunakan frasa \u201ckitaorang\u201d untuk menggantikan kata \u201ckami\u201d. Mungkin, buat sebagian orang sudah tak asing lagi dengan penggunaan frasa ini, karena setiap kali muncul di TV atau di YouTube, Andika Mahesa a.k.a Babang Tamvan cukup sering menggunakan \u201ckitaorang\u201d yang maksudnya adalah dia dan rekan-rekan satu bandnya.<\/span><\/p>\n<h4><b>#1 \u201cGeh\u201d dan \u201cTah\u201d<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAyo, geh!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIya, tah?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau ada orang Lampung yang sering mengucapkan \u201cgeh\u201d di akhir kalimat, jangan bingung ataupun kaget. \u201cGeh\u201d sendiri tidak memiliki arti, tapi posisinya berada di akhir kalimat yang fungsinya hanyalah sebagai kata tambahan. Sama halnya seperti penggunaan kata \u201catuh\u201d pada bahasa Sunda. Cara membaca huruf e pada \u201cgeh\u201d sama seperti membaca huruf e pada kata jendela.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selanjutnya ada \u201ctah\u201d. Menurut pemahaman saya, partikel \u201ctah\u201d dapat dapat diartikan sebagai imbuhan di akhir kalimat tanya, yang fungsinya bisa jadi sama dengan \u201ckah\u201d pada bahasa Indonesia. Di mana keduanya digunakan untuk mengukuhkan pertanyaan. Adapun yang membedakan \u201ctah\u201d dengan \u201ckah\u201d adalah pada fungsi memperhalus pertanyaan. Seperti pada penggunaan \u201ckah\u201d yang tidak berlaku pada imbuhan \u201ctah\u201d.<\/span><\/p>\n<h4><b>#2 Penggunaan frasa \u201ckitaorang\u201d dan\/atau \u201ckamiorang\u201d<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada dasarnya kedua frasa di atas memiliki makna yang sama, yaitu digunakan untuk menyatakan kami. Selain itu, ada juga frasa yang digunakan untuk menyatakan kalian, yaitu \u201ckamuorang\u201d atau bisa juga \u201clorang\u201d. Lalu, untuk menyatakan mereka biasanya menggunakan frasa \u201cdiorang\u201d.<\/span><\/p>\n<h4><b>#3 Basing<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata yang satu ini juga termasuk membingungkan untuk beberapa orang. Pernah suatu ketika, seorang teman menanyakan tempat makan mana yang akan kami pilih untuk makan malam itu. Saya menjawab, \u201cBasing aja, gua ngikut\u201d. Teman saya malah diam dan tampak kebingungan dengan maksud dari perkataan saya. Setelah saya jelaskan bahwa \u201cbasing\u201d dapat diartikan sebagai \u201cterserah\u201d dalam bahasa slangnya orang Lampung, dia baru paham.<\/span><\/p>\n<h4><b>#4 \u201cKongek\u201d atau \u201cNgongek\u201d<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Huruf e pada \u201ckongek\u201d atau \u201cngongek\u201d dibaca seperti huruf e pada kata tempe. \u201cKongek\u201d atau \u201cngongek\u201d sendiri merupakan kata kerja, yang artinya adalah menjelekkan orang di depan orang tersebut dan biasanya di hadapan teman-temannya, biasanya untuk lucu-lucuan.<\/span><\/p>\n<h4><b>#5 Paleng<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cara membaca huruf e pada \u201cpaleng\u201d sama seperti membaca huruf e pada kata \u201ctelur\u201d. \u201cPaleng\u201d sendiri merupakan kata sifat, yang digunakan untuk mengungkapkan perasaan pusing yang lebih condong ke kesal atau marah terhadap suatu hal ataupun keadan. Biasanya kata ini kerap digunakan mahasiswa yang sedang diburu oleh serangkaian deadline tugas yang selalu setia menemani di setiap semesternya.<\/span><\/p>\n<h4><b>#6 Beberapa kata sapaan<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam kehidupan sehari-hari, kata sapaan yang cukup sering digunakan kebanyakan merupakan bahasa serapan dari bahasa daerah Lampung itu sendiri. Ada kata sapaan \u201cYay\u201d, diambil dari bahasa Lampung, yang merupakan panggilan untuk kakak laki-laki. Jadi, kalau teman-teman sekalian sedang berada di Lampung, janganlah sungkan menyapa orang dengan sapaan ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, ada juga kata sapaan untuk teman sebaya atau untuk menyapa orang yang usianya lebih muda dari kita, yaitu \u201cBoi\u201d. Kalau cara membacanya, ya sama saja seperti \u201cBoy\u201d dalam bahasa Inggris. Selanjutnya ada kata sapaan yang sepertinya sudah tidak asing lagi bagi teman-teman semua, kata yang saya maksud adalah \u201cDoy\u201d, yang artinya sayang. Selain itu, \u201cDoy\u201d juga merupakan sebutan untuk fans dari Kangen Band.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya, masih banyak lagi slang word-nya orang Lampung yang kebanyakan merupakan bahasa serapan dari bahasa daerah Lampung itu sendiri. Gimana, Boi? Kamuorang udah paham belum sama slang word-nya orang Lampung?<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA <\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bandar-lampung-terbuat-dari-flyover-pulang-dan-pasangan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><strong>Bandar Lampung Terbuat dari Flyover, Pulang, dan Pasangan<\/strong><\/a>\u00a0<b><\/b><b>dan artikel<\/b> <strong><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/pahlevi-ahmad-prabowo\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Pahlevi Ahmad Prabowo <\/a><\/strong><b>lainnya.<\/b><\/p>\n<h6><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara<\/i><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">\u00a0<i>ini<\/i><\/a><i>\u00a0ya.<\/i><\/h6>\n<h6><i>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/i><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\">\u00a0<i>di sini.<\/i><\/a><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada beberapa slang word yang sering muncul dalam percakapan orang Lampung. Ini perlu kamu ketahui biar nggak bingung saat ngobrol nanti.<\/p>\n","protected":false},"author":1055,"featured_media":92330,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[4065,6303,9708],"class_list":["post-91786","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-kangen-band","tag-lampung","tag-slang-word"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/91786","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1055"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=91786"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/91786\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/92330"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=91786"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=91786"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=91786"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}