{"id":9157,"date":"2019-08-06T08:30:07","date_gmt":"2019-08-06T01:30:07","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=9157"},"modified":"2022-02-09T14:29:16","modified_gmt":"2022-02-09T07:29:16","slug":"sambat-sepucuk-surat-untuk-manusia-manusia-bertwibbon","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sambat-sepucuk-surat-untuk-manusia-manusia-bertwibbon\/","title":{"rendered":"Sambat: Sepucuk Surat untuk Manusia-Manusia Bertwibbon"},"content":{"rendered":"<p>Akhir-akhir ini, selain karena <a href=\"https:\/\/tirto.id\/mati-listrik-massal-di-jabodetabek-dan-sejarah-monopoli-pln-efC5\">PLN yang memicu gerakan sambat massal<\/a> dari warganet karena adanya pemadaman di sebagian wilayah\u2014ada pula gerakan sambat massal bagi kaum tak percaya diri macam saya. Penyebabnya adalah mereka yang memasang <em>twibbon<\/em> di akun Instagramnya.<\/p>\n<p><em>Oh my lov<\/em>, betapa julidnya diri ini. Mereka adalah golongan manusia yang dirahmatiNya karena mendapatkan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/red\/komen\/sensus\/memilih-pacar-mahasiswa-jurusan-kuliah-ini-pantas-dikejar\/\">universitas dan prodi impian<\/a> yang diimpikan oleh banyak pemimpi. Bisa saya tebak, para pemimpi itu menuliskannya di meja belajar, tembok, cover buku, coretan belakang buku\u2014yang disandingkan dengan daftar mantan ataupun gebetan\u2014sampai tempat buang hajat sekalipun tak luput dari nama kampus impian tersebut.<\/p>\n<p>Saya juga tidak luput dari kebiasaan tulis-menulis seperti para pemimpi itu. Menuliskan nama kampus tersebut di setiap media yang sekiranya bisa saya tulis. Sayangnya, di tempat buang hajat tidak saya tulis, karena kebetulan dindingnya adalah keramik bermotif dan gelap. <em>Yah ketahuan~<\/em><\/p>\n<p>&#8220;Kuliah di mana, Neng?&#8221; Bukan hanya tetangga selemparan batu yang sering menanyakan pertanyaan itu. Tukang ojek pengkolan, tukang sayuran, tukang ikan, tukang sol sepatu, bebek, kecoa, tikus, ayam, tembakau, tomat\u2014ah, seluruh semesta bergeming menanyakan hal yang sama. <em>Sungguh membosankan!<\/em><\/p>\n<p>Saya juga punya mimpi memakai <em>twibbon<\/em> yang gemas macam duit bulanan yang Mama saya kasih tiap bulan itu. Memakai almet-almet yang ke manapun pergi diketahui oleh seluruh warga millenial Indonesia\u2014karena kalangan nenek-kakek, ibu-bapak, tante-om tidak semuanya tahu.<\/p>\n<p>Bisa dibayangkan, cintakuuu\u2014dengan <em>memposting<\/em> foto yang ciamik dibalut dengan <em>twibbon<\/em> gemas dari universitas-universitas ternama itu bisa jadi salah satu senjata yang mampu membuat orang tua merasa berhasil, teman-teman dan sahabat bangga, Bapak dan Ibu guru semakin yakin atas metode ajarnya, pacar makin sayang, dan bagi kamu-kamu yang sedang menggebet seseorang punya modal lebih! <em>Mashooook, kan?<\/em><\/p>\n<p>Realitanya, perjuangan agar <em>twibbon<\/em> itu legal disematkan pada foto kita tidaklah mudah. Saya bukan salah satu manusia yang mampu <em>memposting<\/em> foto gemas dengan <em>twibbon<\/em> itu\u2014sungguh sangat sakit memang. Melihat postingan mereka dikomentari oleh teman-teman lain yang <em>memposting<\/em> foto dengan <em>twibbon<\/em> juga. Sedangkan saya dan orang-orang yang tak kesampaian hanya bisa menangis di pojokan kamar. <em>Menyedihkan~<\/em><\/p>\n<p>Tapi, saudara-saudara seiman\u2014bahwa bola berbentuk bundar\u2014yang saya sayangi, ini bukanlah akhir dari segalanya. Tidak menggunakan <em>twibbon<\/em> bukan berarti jalanan sukses bagi kita buntu. Lihatlah Bill Gates\u2014beliau tidak <em>memposting twibbon<\/em> kok. Lihatlah Jack Ma\u2014tidak juga. Pendiri Es Teler 77, Mba Kalis Mardiasih atau redaktur mojok, bahkan bang Jerome Polin\u2014yang saat ini sedang naik daun karena matematika dan mantappu djiwanya\u2014pun tak <em>bertwibbon<\/em> kok.<\/p>\n<p>Oke, mari temani saya untuk berkontemplasi.<br \/>\n1&#8230;2&#8230;3&#8230;<br \/>\nSedurhaka-durhakanya kita terhadap Tuhan, Dia takkan <a href=\"https:\/\/tirto.id\/nakam-grup-yahudi-yang-balas-dendam-kepada-nazi-dhDs\">balas dendam<\/a> dengan menjadikan kewenangan-Nya sebagai kesempatan emas untuk berbuat semena-mena. Di balik semua yang Tuhan putuskan, pasti punya konsekuensi yang sesuai dengan modal yang kita punya sekarang. Misalkan perihal universitas, mimpi saya bersekolah di UGM dengan prodi Farmasi. Sedangkan saya tidak tahu bahwa di sana manusianya tidak sespesies dengan saya. Katakanlah tingkat keambisan mereka 20, sedangkan saya hanya 0\u2014sekian. Terbayang? Ilmu saya tidak mumpuni di impian saya itu.<\/p>\n<p>Maka Tuhan mengganti mimpi saya dengan sesuatu yang lebih baik. Ditaruhlah saya di dalam kumpulan manusia yang tingkat ambisnya tidak jauh berbeda, sehingga saya pun bisa menyesuaikan. Bukan berarti saya pesimis terhadap diri saya sendiri. Hanya saja, dengan melihat keputusan Tuhan yang memutuskan saya agar bersekolah di sekolah swasta dengan prodi yang sama menjadikan saya lebih baik dari sisi tekanan psikis.<br \/>\nDan pesan saya\u2014manusia yang panas-an\u2014untuk kalian yang sedang iri dengan unggahan <em>twibbon-twibbon<\/em> durjana itu, segeralah adukan pada pemilik pembuat <em>twibbon<\/em>. Adukan diri kalian, diri kita, yang sulit memenangkan pertarungan dengan \u201ckesadaran diri\u201d bahwa <em>woyyy<\/em>, kita tidak tahu apa-apa perihal masa depan. Bisa jadi mereka yang sekarang <em>bertwibbon<\/em> itu sedang banyak yang naksir aku yang tidak <em>bertwibbon. <\/em>Ah, keirian perihal <em>twibbon<\/em> ini membuat otot-otot otak semakin tegang saja, <em>my lov~<\/em><\/p>\n<p>Bagi kalian pro-<em>twibbon<\/em>, harap tenang di tempat. Karena tidak akan terjadi penyerangan secara brutal dari kami manusia kontra-<em>twibbon<\/em>. Karena di masa depan, bisa jadi artikel saya ini mengundang gelak tawa kamu, Mas yang mungkin saat ini <em>bertwibbon.<\/em><\/p>\n<p>Salam twibbon!<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pendiri Es Teler 77, Mba Kalis Mardiasih bahkan bang Jerome Polin\u2014yang sedang naik daun karena matematika dan mantappu djiwanya\u2014pun tak bertwibbon kok.<\/p>\n","protected":false},"author":212,"featured_media":9188,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12906],"tags":[2293,1387,651,2294,1184,2292],"class_list":["post-9157","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-media-sosial","tag-kampus-impian","tag-mahasiswa-baru","tag-remaja","tag-sambat-massa","tag-sbmptn","tag-twibbon"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9157","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/212"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9157"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9157\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/9188"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9157"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9157"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9157"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}