{"id":91364,"date":"2020-12-02T07:33:52","date_gmt":"2020-12-02T00:33:52","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=91364"},"modified":"2021-10-15T20:40:14","modified_gmt":"2021-10-15T13:40:14","slug":"jika-drakor-reply-1988-ber-setting-tempat-di-jakarta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jika-drakor-reply-1988-ber-setting-tempat-di-jakarta\/","title":{"rendered":"Jika Drakor &#8216;Reply 1988&#8217; Ber-setting Tempat di Jakarta"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya gandrung akan drama <em>Reply 1988<\/em>. Yang biasanya lihat sinetron Indosiar dan RCTI, lantas disuguhi drama edan yang mengobok-obok perasaan saya. Namun tetap saja, masalah saya saat nonton drakor itu hanya dua dan ini sangat menyebalkan, yakni sulit menghafal nama dan muka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya dapat memetik banyak sekali makna dari drama <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Reply 1988<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Namun, yang terangkat di otak saya adalah persahabatan dan kekeluargaan. Yah, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Keluarga Cemara<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> digabung, dipermak, dan dikaji lebih jauh\u2014sekiranya\u2014jadilah drama ini.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Reply 1988<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> mengajarkan saya, setidaknya tetangga merupakan lingkungan terdekat nomor dua. Namun, kasus kehidupan pribadi saya, justru melihat perubahan tendensi yang terus berjalan, terkadang terdapat sekat antara kita dengan tetangga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika berjumpa, pol mentok hanya angkat alis dan kepala saja, kemudian disahuti dengan hal serupa. Dalam beberapa tempat, lebih ekstrim lagi, tembok tinggi menjadi pembatas antara rumah satu dengan rumah lainnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin beberapa sudah asing dengan istilah ronda. Kebanyakan, tugas tersebut sudah dipegang oleh petugas satpam untuk menjaga ketentraman ketika siang maupun malam. Mungkin beberapa sudah tidak tahu bagaimana rasanya mencoret wajah Pak RT ketika kalah kiu-kiu. Atau ada mas-mas yang menangis ketika ronda karena diputusin oleh pacarnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seandainya<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> Reply 1988<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ber-setting di Indonesia masa kini, apa bisa tetap menarik? Jawabannya jelas, bisa. Saya coba ambil setting di Jakarta yang merupakan pusat semesta perputaran manusia Indonesia. Begini sekiranya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Adegan dibuka dengan lima sahabat yang sedang mabar Mobile Legend. Lima anak ini merupakan penduduk dari sebuah gang sederhana di Kota Jakarta bernama Gang Ssalakedondong. Mereka berangkat dari latar belakang ekonomi yang berbeda. Walau begitu, mereka berkawan tanpa sekat, tapi dengan catatan ketika main gim saja. Ini demi kemaslahatan tongkrongan, yaitu Mythic I.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBuruan, anjing! Serang tower, jangan lama-lama!\u201d kata Dek-Sun. Ia satu-satunya perempuan dalam perkawanan ini. Preman desa. Yang bisa melawannya hanya dua, kakaknya dan dirinya sendiri. Ia juga anak yang paling miskin yang tinggal di Ssalakedondong, rumah dekat Kali Ciliwung. Hujan sedikit, rumahnya tenggelam. Katanya, rumahnya ini semi-Atlantis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dek-Sun ini orangnya ceria dan gemar bernyanyi walau suaranya sebelas dua belas dengan beruk. Namun, dalam kasus ini, ia marah-marah bukan karena tanpa sebab. Ia muntab karena ponselnya yang buatan Cina itu sudah sepanas setrika dan kelap-kelip karena batrenya sudah seperti ibu-ibu hamil lima bulan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini tinggal nunggu waktu ponsel milik Dek-Sun melahirkan. Namun, ia tenang karena biasanya ia dapat lungsuran dari kakaknya yang super galak bernama Mbak Rara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMakanya, kalau mabar bawa power-bank!\u201d jawab Hyung-Iwan. Ia awalnya berasal dari keluarga miskin, tapi ketika kakaknya menang taruhan sabung ayam, keluarganya kini menjadi OKB alias orang kaya baru. Namun, gosip tetangga yang super julid tetap berjalan. Kebanyakan pada mengira bahwa keluarga Hyung-Iwan ini melihara pesugihan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHalah palingan bukan menang taruhan, tapi godog air rendeman sempak kolor ijo,\u201d begitu kiranya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada pula Sun-Waluyo yang nggak bakat main Mobile Legend. Pakai Lunox saja tangannya sering <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">mlengse<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Namun, secara hati, Sun-Waluyo ini sangat menyayangi adiknya, yakni Jin-Kazama yang sangat imut itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain melalui perbuatan, rasa kasih sayang Sun-Waluyo kepada adiknya juga terlihat melalui secarik puisi bertuliskan begini, \u201cDik, jangan pergi jauh-jauh, kan ada darahku di tubuhmu,\u201d tapi, hal ini berlaku jika kisah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Reply 1989<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> versi Indonesia ini ditulis oleh Pidi Baiq.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemudian ada Dong-Ra, anak yang akademiknya paling biasa saja, tapi dimaklumi karena pandai menggunakan role tank. Teman main paling akrab Mas Dong-Ra ini adalah Dek-Sun, kalau mereka sudah bersama, hitamnya Kali Ciliwung bakal minder.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terakhir ada Choi-Tahi yang pendiam dan memutuskan putus sekolah. Bukan karena tidak pintar, tapi ia dianggap \u201cdewa\u201d dalam permainan samgong. Di RT-nya, tidak ada yang bisa menyaingi tingkat kepintarannya dalam memainkan permainan kartu ini. Oleh karena itu, Federasi Samgong Indonesia meliriknya dan memasukan Choi-Tahi ke dalam timnas usia muda permainan samgong.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makin hari, berbekal misuh-misuh sambil main Mobile Legend, Hyung-Iwan yang semula cuek dengan marah-marahnya Dek-Sun pun mendadak menyimpan perasaan. Di pinggiran Kali Ciliwung, Hyung-Iwan pun melempar gombalan, \u201cBibir dikulum bunga dipetik.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cCakeup!\u201d jawab Dek-Sun sambil haha-hihi berseri-seri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAssalamualaikum neng cangtip.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah kejadian itu, Hyung-Iwan pun viral karena Dek-Sun membuat sebuah utas, \u201cNge-spill temen sendiri yang ganjen &#8211;<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">a<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400;\">thread<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">-\u201c. Namun, hubungan mereka semakin bersemi. Di satu sisi, Choi-Tahi makin hebat saja bermain samgong.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah bertahun-tahun berlalu, rasa cinta Hyung-iwan kepada Dek-Sun pun berakhir dengan tragis. Semua berbalik, Dek-Sun malah menikah dengan Choi-Tahi. Dan Hyung-Iwan, yang sukses mengunci satu kursi sebagai Pemuda Pancasila, gugur pada kecelakaan pesawat. Pada hari pernikahan di GOR milik desa, satu kursi plastik sengaja disisakan untuk \u201ckehadiran\u201d Hyung-Iwan yang selamanya menjadi kawan abadi mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Duka Warga Gang Ssalakedondong masih berlanjut. Gang Ssalakedondong pun digusur. Padahal, pemimpin mereka sempat berjanji nggak akan melakukan penggusuran, tetapi hanya penggeseran. Dari sana, keharmonisan Gang Ssalakedondong penuh kisah harmoni para tetangganya pun selesai karena mereka semua pindah ke rusunawa.<\/span><\/p>\n<p><b>BACA JUGA\u00a0<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ketika-pogung-jadi-lokasi-syuting-film-maze-runner\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\"><strong>Ketika Pogung Jadi Lokasi Syuting Film Maze Runner<\/strong><\/a>\u00a0<b><\/b><strong>atau tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/gusti-aditya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Gusti Aditya<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<h6><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h6>\n<h6><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Seandainya Reply 1988 ber-setting di Jakarta yang merupakan pusat semesta perputaran manusia Indonesia, apa masih menarik?<\/p>\n","protected":false},"author":130,"featured_media":92277,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13118],"tags":[529,5503],"class_list":["post-91364","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-serial","tag-jakarta","tag-reply-1988"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/91364","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/130"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=91364"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/91364\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/92277"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=91364"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=91364"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=91364"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}